MAKASSAR, UNHAS.TV - Sekitar 11 juta penduduk Kuba tidak mendapatkan layanan listrik di seluruh negeri sejak Senin pekan ini setelah seluruh pembangkit listrik kehabisan bahan bakar untuk menyalakan mesin pembangkit.
Ini adalah dampak terbaru setelah Amerika Serikat menghentikan pasokan bahan bakar ke negeri itu secara total. Sebelumnya, meski Kuba mendapat sanksi ekonomi dari AS namun baru kali ini sanksi tersebut diikuti dengan pemutusan aliran bahan bakar.
Tidak hanya pembangkit listrik yang kena dampak, transportasi di Kuba juga mengalami kendala yang tidak kecil. Harga bahan bakar sudah naik menjadi USD 9 per liter di pasar gelap, yang berarti butuh sekitar USD 300 untuk mengisi satu tangki bahan bakar mobil.
"Pejabat Pemerintah AS pasti sedang bersenang-senang dengan mmebuat keluarga di Kuba menderita," kata Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio.
Warga Kuba menyebut, penghentian pasokan bahan bakar secara total akan menimbulkan penderitaan berkepanjangan. Sebelumnya, warga sudah mengantisipasi dengan menyediakan bahan bakar kayu untuk memasak dan menggunakan panel surya untuk listrik. Namun, ini hanya bisa dilakukan oleh sebagian kecil warga Kuba.
Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, pada pekan lalu mengatakan, pihaknya sudah berusaha berbicara dengan pemerintah AS sejak tiga bulan lalu untuk mencari jalan keluar. Upaya ini ternyata tidak membuahkan hasil yang nyata untuk warganya.
Kini, demi mengurangi dampak krisis energi, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan dengan mengurangi waktu sekolah, menunda semua kegiatan hiburan dan olahraga, serta mengurangi layanan transportasi.
Rumah sakit milik negara juga sudah mengrangi waktu pelayanan. Beberapa maskapai penerbangan luar negeri juga sudah tidak melayani penerbangan dari dan menuju kuba karena khawatir tidak mendapatkan bahan bakar. Maskapai penerbangan American Airlines dan Jet Blue sudah memindahkan kantornya me Kepulauan Karibia.
Pada pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Kuba akan mengalami masalah besar dan bahkan akan "mengambil alih" Kuba, yang mungkin dilakukan melalui operasi militer.
"Saya begitu yakin, akan sangat terhormat mengambil alih Kuba. Ini kehormatan besar. Begitu waktu saya lebih luang, saya pikir saya mampu akan melakukan ppa yang sanya inginkan," kata Donald Trump.(*)


 Charles Simabura-300x169.webp)

-300x185.webp)



