MAKASSAR, UNHAS.TV - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan keputusan untuk keluar dari puluhan organisasi internasional, termasuk badan-badan yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kebijakan ini menandai semakin jauhnya Amerika Serikat dari kerja sama multilateral di tingkat global.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Fisip Unhas), Pusparida Syahdan SSos MSi, menilai langkah Amerika Serikat tersebut berpotensi menimbulkan dampak luas bagi tata kelola global, meski AS bukan satu-satunya negara donor dalam organisasi internasional.
“Amerika Serikat memang salah satu donatur besar, tetapi bukan satu-satunya. Namun tetap saja, keluarnya AS dari begitu banyak organisasi cukup mengkhawatirkan karena akan memengaruhi kerja-kerja organisasi internasional, terutama di negara-negara yang membutuhkan,” ujar Pusparida.
Meski demikian, ia menilai keputusan tersebut justru berisiko merugikan Amerika Serikat sendiri. Menurutnya, organisasi internasional merupakan forum strategis untuk melakukan negosiasi kepentingan global.
“Organisasi internasional itu ruang tawar-menawar. Banyak hal dinegosiasikan di sana. Ketika Amerika tidak hadir dan negara lain tetap berdiskusi serta mengambil keputusan, Amerika justru kehilangan pengaruh,” jelasnya.
Pusparida menambahkan, kebijakan ini sejalan dengan pandangan Presiden Donald Trump yang selama ini skeptis terhadap isu perubahan iklim dan kerja sama multilateral.
Sikap tersebut tercermin dari penarikan AS dari berbagai perjanjian iklim global serta lembaga yang bergerak di bidang lingkungan.
“Trump memang berada di kelompok yang tidak percaya pada perubahan iklim. Jadi wajar jika organisasi-organisasi terkait iklim dan isu sosial menjadi sasaran kebijakan ini,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa langkah Amerika Serikat keluar dari puluhan organisasi internasional tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik domestik di Negeri Paman Sam.
Menurutnya, masih terdapat perlawanan internal dari berbagai kelompok yang melihat kepemimpinan global AS justru dibangun melalui keterlibatan aktif dalam organisasi internasional.
“Yang harus dilihat sekarang adalah pertarungan politik domestik Amerika Serikat. Banyak pihak di dalam negeri yang sebenarnya tidak rela jika AS benar-benar menarik diri dari panggung multilateral,” pungkas Pusparida.
Pada Rabu (7/1/2026), Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif, yang menangguhkan dukungan Amerika Serikat terhadap 66 organisasi, lembaga, dan komisi internasional.
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap partisipasi dan pendanaan AS di berbagai organisasi internasional.
Sejumlah lembaga yang terdampak kebijakan ini antara lain UNESCO, UN Women, badan kependudukan PBB, serta berbagai perjanjian dan forum yang menjadi kerangka utama perundingan global terkait perubahan iklim.
Pemerintahan Trump juga menilai sebagian organisasi tersebut masuk dalam kategori program “berbasis keberagaman” yang tidak sejalan dengan arah kebijakan domestik AS.
(Achmad Ghiffary M / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)
Dosen Hubungan Internasional FISIP Unhas Pusparida Syahdan saat tampil dalam program Unhas Speak Up. (dok unhas tv)








