Lingkungan
Mahasiswa

Asap Karhutla Berdampak hingga Makassar, Mahasiswa Dorong Kepedulian Lingkungan

Mahasiswa Unhas Sulhelmi Ahmad Fadhil (kiri) dan Muhammad Sayyid Muhtadi. (Unhas TV / Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian setelah dampak asapnya dilaporkan turut dirasakan hingga Makassar.

Kondisi ini mendorong mahasiswa Universitas Hasanuddin menyoroti pentingnya pencegahan kebakaran, edukasi lingkungan, dan perlindungan kesehatan masyarakat. Mereka menilai penanganan karhutla membutuhkan kerja sama pemerintah, instansi terkait, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Mahasiswa Unhas, Muhammad Sayyid Muhtadi, mengatakan perhatiannya terhadap persoalan karhutla telah tumbuh sejak sebelum menetap di Makassar.

Ia pernah tinggal cukup lama di Kalimantan sehingga memahami ancaman kebakaran hutan dan penyebaran asap yang menyertainya.

Menurut Sayyid, dampak asap karhutla tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang hanya dialami masyarakat di sekitar lokasi kebakaran.

Penyebaran asap hingga Makassar menunjukkan bahwa dampak kebakaran dapat menjangkau wilayah lain dan mengganggu kenyamanan masyarakat.

“Sebelum Makassar saya lama tinggal di Kalimantan dan sebelum saya tinggal di Makassar, saya memang sangat memperhatikan efek dari asap karhutla ini atau kebakaran hutan ini,” kata Sayyid.

Ia menilai asap karhutla menjadi ancaman bagi masyarakat, terutama ketika kualitas udara memburuk dan aktivitas sehari-hari terganggu. Karena itu, ia mendorong peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya kebakaran hutan dan dampak asap terhadap kesehatan serta lingkungan.

Sayyid juga menempatkan mahasiswa dan perguruan tinggi sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan. Menurut dia, kampus dapat berperan melalui sosialisasi, penyebaran informasi, dan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko karhutla.

“Jika kita memberikan sosialisasi, memberikan edukasi kepada masyarakat, tentu saja masyarakat pasti akan mengetahui bahwa ini bukan hanya sekadar barang sepele, ini adalah suatu ancaman untuk generasi Indonesia berikutnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, upaya mengatasi karhutla memerlukan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Komitmen bersama diperlukan agar pencegahan tidak hanya berlangsung ketika kebakaran terjadi, tetapi juga dilakukan sebelum risiko kebakaran meningkat.

Pandangan serupa disampaikan mahasiswa Universitas Hasanuddin lainnya, Sulhelmi Ahmad Fadhil. Ia menilai karhutla merupakan persoalan berulang yang memerlukan perhatian serius.

Kondisi lahan yang mudah terbakar, cuaca kering, dan aktivitas pembakaran oleh manusia dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran api.

Sulhelmi juga menyoroti dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat Makassar. Menurut dia, perubahan kondisi udara menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan kawasan hutan, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak asap.

Ia menggambarkan kondisi langit yang tertutup kabut sebagai situasi yang memprihatinkan. Keadaan tersebut, menurut dia, mengganggu kenyamanan masyarakat dan memperkuat kebutuhan untuk melakukan tindakan pencegahan.

“Ini sangat memprihatinkan dan sangat mengganggu kenyamanan kita sebagai masyarakat di Makassar,” kata Sulhelmi.

Untuk mengurangi risiko paparan asap, Sulhelmi mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan, menggunakan masker ketika diperlukan, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk. Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Namun, langkah perlindungan individu tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan karhutla. Sulhelmi menilai pemerintah perlu memperkuat kebijakan pencegahan dan mengambil langkah sejak dini.

Instansi terkait juga perlu berkoordinasi dalam penanganan kebakaran, pengendalian sumber api, serta pengurangan dampak asap terhadap masyarakat.

Di lingkungan kampus, mahasiswa dapat mengambil peran melalui tindakan sederhana yang berkelanjutan.

Mereka dapat menyebarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan melalui media sosial, mengajak teman sebaya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan menyampaikan edukasi mengenai bahaya pembakaran lahan.

Upaya tersebut juga perlu disertai kebiasaan memeriksa informasi mengenai kondisi udara dan mengikuti imbauan dari instansi berwenang.

Informasi yang akurat membantu masyarakat menentukan langkah perlindungan kesehatan tanpa bergantung pada kabar yang belum terverifikasi.

Kedua mahasiswa itu menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak cukup mengandalkan respons ketika kebakaran sudah meluas. Pencegahan, edukasi lingkungan, perlindungan kesehatan, dan koordinasi antarpihak perlu berjalan beriringan.

Dampak asap yang dirasakan hingga Makassar menjadi pengingat bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan perhatian lintas wilayah.

Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi penting untuk memperkuat pencegahan sekaligus mengurangi risiko yang ditimbulkan bagi kesehatan dan lingkungan.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)