MAKASSAR, UNHAS.TV - Senja Ramadan di sekitar Kampus Universitas Hasanuddin tak hanya dipenuhi lalu lalang mahasiswa yang menunggu waktu berbuka puasa.
Aroma bakso bakar yang menggoda dari sebuah lapak sederhana di Jalan Sahabat, di belakang Rumah Susun Mahasiswa (Ramsis), ikut meramaikan suasana.
Di tempat inilah Kantin Al-Fatih membuka lapak musiman yang belakangan ramai diserbu mahasiswa. Lapak tersebut berdiri di tepi jalan, tepat di kawasan yang setiap sore dipadati mahasiswa.
Asap tipis dari panggangan bakso mengepul, sementara beberapa mahasiswa tampak mengantre menunggu pesanan mereka selesai dibakar. Harga yang murah menjadi daya tarik utama: satu porsi bakso bakar dijual hanya Rp5.000.
Pemilik Kantin Al-Fatih, Herwin Amir, mengatakan kehadiran mereka di lokasi tersebut merupakan strategi khusus selama bulan Ramadan.
Sehari-hari, usaha kuliner yang dirintis sejak 2006 itu beroperasi di kantin Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) kampus satu. Selain itu, mereka juga menjadi tenant tetap di kegiatan Car Free Day Universitas Hasanuddin.
“Kalau sehari-harinya kami jualan di kantin Politeknik kampus satu. Kami juga jualan di Car Free Day Unhas sebagai tenant 92. Untuk bulan Ramadan ini kami jualan di samping Ramsis Unhas, dan Alhamdulillah ramai,” kata Herwin.
Hadir di Car Free Day
Usaha yang hampir dua dekade dijalankan itu memang sudah akrab dengan lingkungan kampus. Dalam tiga tahun terakhir, Kantin Al-Fatih juga rutin hadir di Car Free Day Universitas Hasanuddin yang biasanya digelar pada akhir pekan.
Namun, untuk Ramadan tahun ini, mereka mencoba lokasi baru di Jalan Sahabat yang ramai dilalui mahasiswa.
Selama bulan puasa, menu yang dijual juga disederhanakan. Jika pada hari biasa mereka menawarkan berbagai menu seperti nasi dan bakso kuah, maka di lapak Ramadan ini mereka hanya menjual satu menu utama: bakso bakar original.
“Untuk bulan Ramadan ini khusus kami cuma jual bakso bakar. Kalau yang lain di Politeknik kami jual nasi dan bakso, sedangkan di CFD Unhas kami jual juga bakso bakar dan sosis,” ujar Herwin.
Pilihan menu yang sederhana tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa. Bakso bakar yang disajikan tanpa isian tambahan itu dibakar langsung di atas arang, lalu dilumuri bumbu khas yang memberi aroma gurih dan sedikit manis.
Herwin mengatakan harga Rp5.000 per porsi sengaja dipasang agar tetap terjangkau bagi mahasiswa yang ingin mencari takjil sederhana. “Kalau yang di sini harganya Rp5.000 rata, original tanpa isi,” katanya.
Menurut Herwin, respons mahasiswa sejauh ini cukup menggembirakan. Ia mengaku mulai mengenali beberapa pelanggan yang datang kembali setelah sebelumnya membeli bakso bakar di lapaknya.
“Tanggapannya mahasiswa Alhamdulillah baik. Kami lihat beberapa hari ini pembelinya mungkin bisa dibilang itu-itu juga yang kembali. Berarti responnya baik,” ujar dia.
Fenomena pelanggan yang kembali membeli menjadi indikator sederhana bagi Herwin bahwa dagangannya diterima. Di tengah banyaknya pilihan kuliner Ramadan di sekitar kampus, harga murah dan rasa yang konsisten menjadi kunci mempertahankan pembeli.
Setiap sore menjelang waktu berbuka, lapak kecil tersebut nyaris tak pernah sepi. Mahasiswa yang melintas di Jalan Sahabat kerap berhenti sejenak untuk membeli bakso bakar sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat berbuka puasa.
Bagi Herwin, Ramadan bukan hanya momentum peningkatan penjualan, tetapi juga kesempatan memperluas jangkauan pelanggan di lingkungan kampus.
Ia berharap usaha yang telah dirintis hampir dua puluh tahun itu dapat terus bertahan dan memberi manfaat. “Semoga berkah, jualannya berkah,” kata Herwin.
Dengan harga yang bersahabat dan lokasi strategis di sekitar kampus, bakso bakar Kantin Al-Fatih kini menjadi salah satu pilihan takjil favorit mahasiswa Universitas Hasanuddin selama bulan Ramadan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
MENU BUKA - Pemilik Kantin Al-Fatih, Herwin Amir. Lapak dagangannya yang menjual bakso di Jl Sahabat disukai mahasiswa jelang buka puasa. (unhas tv/venny septiani)








