MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan praktik baik hilirisasi riset dari Institut Teknologi Bandung serta dukungan regulasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam The 1st Unhas Innovation Seminar 2026.
Forum yang digelar secara hybrid di Innovate Room Unhas Hotel & Convention, Selasa (3/3/2026), itu diarahkan untuk memperkuat strategi percepatan komersialisasi inovasi kampus.
Seminar tidak hanya menjadi ajang presentasi 105 inventor Unhas, tetapi juga ruang belajar dari pengalaman institusi lain yang lebih dahulu membangun ekosistem hilirisasi.
Direktur Kawasan Sains dan Teknologi ITB, Ir R Sugeng Joko Sarwono MT PhD, memaparkan transformasi kelembagaan di kampusnya hingga terbentuknya Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi sebagai simpul gravitasi inovasi.
Sugeng menjelaskan, penguatan ekosistem inovasi di ITB dibangun melalui model 4-helix yang menghubungkan akademia, industri, investor, dan pemerintah. Akademia menjadi sumber riset dan prototipe.
Industri berperan dalam validasi teknologi dan akselerasi komersialisasi. Investor mendukung pembiayaan dan pengembangan usaha rintisan. Pemerintah memberikan dukungan regulasi dan kebijakan strategis.
Menurut dia, pendekatan kolaboratif itu menjadi kunci memperkecil kesenjangan antara hasil riset dan kebutuhan pasar. Tanpa integrasi multipihak, inovasi berisiko berhenti sebagai prototipe tanpa kelanjutan produksi massal.
Melalui pengelolaan ITB Innovation Park Ganesha dan Technopolis, ITB menyediakan infrastruktur hilirisasi mulai dari coworking space, laboratorium riset terapan, hingga advanced laboratories.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mendorong transformasi paten menjadi produk siap pasar dan menarik minat mitra industri.
“Fokusnya adalah bagaimana riset tidak berhenti di publikasi atau paten, tetapi benar-benar diadopsi industri,” ujar Sugeng dalam paparannya.
Selain praktik baik dari ITB, seminar juga menghadirkan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr Dra Lucia Rizka Andalusia Apt MPharm MARS.
Ia memberikan arahan terkait percepatan hilirisasi produk farmasi dan alat kesehatan, termasuk dukungan regulasi, kemitraan industri, serta kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
Lucia menekankan pentingnya kesesuaian inovasi dengan standar keamanan, mutu, dan khasiat sebelum masuk ke pasar. Dukungan regulasi, kata dia, akan efektif jika diikuti kesiapan teknologi dan kemitraan industri yang kuat.
Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas, Asmi Citra Malina SPi MAgr PhD, menyebut kehadiran kedua narasumber tersebut sangat strategis.
Menurut dia, Unhas sengaja mengundang Direktur Kawasan Sains dan Teknologi ITB untuk memaparkan success story hilirisasi yang telah berjalan.
“Kita ingin mendengarkan langsung bagaimana ITB menjalankan hilirisasi riset-riset mereka. Itu menjadi pembelajaran penting bagi kami,” kata Asmi.
Ia menambahkan, kehadiran Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan diharapkan membuka akses lebih luas bagi inventor Unhas, khususnya di sektor kesehatan dan teknologi terapan.
Banyak peneliti Unhas, kata dia, telah memiliki inovasi farmasi dan alat kesehatan yang membutuhkan kemitraan industri serta dukungan pemerintah.
“Kami berharap dengan dukungan Kementerian Kesehatan maupun BPOM, produk yang sudah siap itu bisa lebih cepat masuk pasar dan terkomersialisasi,” ujarnya.
Lucia mengikuti seminar secara daring melalui Zoom, sementara kegiatan berlangsung luring dan daring secara bersamaan. Format hybrid ini memungkinkan partisipasi lebih luas tanpa mengurangi substansi diskusi.
Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan ekosistem hilirisasi di Unhas. Dengan sinergi kampus, industri, investor, dan pemerintah, hasil riset tidak lagi berhenti sebagai prototipe atau laporan akademik, melainkan berkembang menjadi produk inovatif yang berdaya saing.
Unhas menargetkan model kolaborasi tersebut dapat mempercepat kontribusi riset terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Hilirisasi, dalam konteks ini, bukan sekadar strategi akademik, tetapi instrumen pembangunan berbasis pengetahuan yang terukur dan berkelanjutan.
(Venny Septiani Semuel / M Syaiful / Unhas TV)
Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas, Asmi Citra Malina SPi MAgr PhD. (dok unhas tv)








