News
Pendidikan
Unhas Speak Up

Beras Analog Unhas, Inovasi Pangan Masa Depan untuk Atasi Diabetes hingga Anemia



Ketua Functional Food Technology TRG Unhas Prof Dr Ir Meta Mahendradatta. (Dok Unhas TV)


Dalam penelitian tersebut, tim peneliti memanfaatkan daun kelor dan daun katuk sebagai bahan tambahan karena diketahui memiliki kandungan yang dapat mendukung produksi air susu ibu.

Melalui pendekatan tersebut, beras analog tidak hanya berfungsi sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga memiliki nilai fungsional yang memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan ibu dan bayi. Inovasi ini menunjukkan bagaimana bahan pangan sehari-hari dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih bermanfaat melalui pendekatan ilmiah.

Selain untuk ibu hamil, penelitian lain juga diarahkan untuk mengatasi masalah kekurangan zat besi yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat, terutama pada anak-anak dan remaja putri.

Menurut Prof. Meta, tim peneliti tengah mengembangkan beras analog yang diperkaya zat besi sebagai salah satu upaya untuk membantu mencegah anemia.

“Masalah kekurangan zat besi pada anak-anak dan remaja putri masih menjadi isu penting. Karena itu kami mengembangkan beras analog yang difortifikasi zat besi untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut,” ungkapnya.

Tidak hanya anemia, beras analog juga berpotensi menjadi alternatif pangan bagi penderita diabetes. Produk semacam ini diharapkan dapat membantu mengontrol kenaikan kadar gula darah setelah makan.

Dengan memanfaatkan bahan baku tertentu seperti sagu dan singkong dalam komposisi yang tepat, para peneliti berupaya menghasilkan beras analog dengan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras biasa. 

Meski demikian, Prof. Meta menegaskan bahwa penelitian terkait manfaat kesehatan tersebut masih terus berlangsung. Berbagai tahapan pengujian masih perlu dilakukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan produk sebelum dapat dipasarkan secara luas kepada masyarakat.

“Kami masih berada pada tahap penelitian. Untuk menyatakan suatu produk benar-benar memiliki manfaat kesehatan tertentu, diperlukan serangkaian penelitian dan pengujian yang panjang,” jelasnya.

Dalam pengembangannya, sagu menjadi salah satu bahan yang paling banyak dimanfaatkan karena dinilai memiliki karakteristik yang sangat sesuai sebagai bahan baku beras analog.

Selain sagu, tim peneliti juga mengeksplorasi penggunaan ubi ungu serta berbagai bahan lokal lainnya yang memiliki kandungan gizi dan komponen bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan.

Menariknya, inovasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada kandungan gizi. Tim peneliti juga berupaya meningkatkan daya tarik produk melalui variasi warna dan karakteristik visual.

Beberapa penelitian memanfaatkan bunga telang dan buah naga untuk menghasilkan beras analog dengan warna yang lebih menarik, terutama bagi anak-anak.

Namun, menurut Prof. Meta, keberhasilan suatu produk pangan tidak hanya ditentukan oleh kandungan nutrisinya. Faktor penerimaan masyarakat juga menjadi aspek yang sangat penting.

Karena itu, setiap produk yang dikembangkan harus melalui uji sensori untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap rasa, aroma, warna, dan tekstur produk.

“Produk yang kandungan gizinya bagus belum tentu diterima masyarakat. Karena itu perlu dilakukan uji sensori untuk melihat apakah produk tersebut disukai atau tidak. Jika tidak disukai, maka formulanya harus diperbaiki,” katanya.

Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan beras analog. Sebab, tujuan akhir dari penelitian bukan hanya menghasilkan inovasi di laboratorium, tetapi menghadirkan produk yang benar-benar dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Tahap Penelitian Terapan

>> Baca Selanjutnya