
Ketua Functional Food Technology TRG Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Meta Mahendradatta. (Dok Unhas TV)
Saat ini, riset beras analog yang dilakukan TRG Unhas masih berada pada tahap penelitian terapan. Setelah melalui penelitian dasar dan menghasilkan berbagai formulasi yang potensial, para peneliti kini fokus pada pengembangan prototipe produk yang nantinya dapat dilanjutkan ke tahap hilirisasi.
Menurut Prof. Meta, perjalanan sebuah inovasi pangan hingga dapat dipasarkan memerlukan proses yang panjang.
Setelah menghasilkan prototipe, produk harus melalui tahapan pembesaran skala produksi, validasi teknologi, analisis kelayakan pasar, kelayakan finansial, hingga pemenuhan berbagai aspek regulasi.
“Prosesnya memang panjang. Dari penelitian dasar, penelitian terapan, pembuatan prototipe, kemudian pembesaran skala produksi, hingga akhirnya siap untuk dikomersialkan. Semua tahapan itu harus dilalui agar produk benar-benar layak dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.
Meski masih dalam tahap pengembangan, sejumlah hasil penelitian beras analog yang dilakukan tim TRG Unhas telah menghasilkan prototipe dan memperoleh perlindungan hak paten.
Keberhasilan tersebut menjadi modal penting untuk melanjutkan proses hilirisasi dan membuka peluang kerja sama dengan industri pangan di masa mendatang.
Lebih jauh, Prof. Meta melihat pengembangan beras analog bukan hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti sagu, singkong, dan ubi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap beras sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas pangan daerah.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan lokal yang sangat melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, inovasi seperti beras analog menjadi langkah strategis untuk mengangkat potensi tersebut sekaligus menjawab tantangan kesehatan dan pangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Melalui berbagai riset yang terus dikembangkan, Universitas Hasanuddin berharap beras analog dapat menjadi salah satu inovasi unggulan yang tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
Dengan dukungan penelitian yang berkelanjutan dan kolaborasi berbagai pihak, beras analog berbasis pangan lokal berpotensi menjadi alternatif pangan masa depan yang sehat, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
(Rahmatia Ardi / Unhas TV)








