MAKASSAR, UNHAS.TV – Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras sebagai sumber karbohidrat utama masih menjadi tantangan dalam upaya diversifikasi pangan nasional.
Di sisi lain, meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti diabetes serta masih tingginya angka anemia mendorong perlunya inovasi pangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mampu menjawab berbagai kebutuhan kesehatan masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Functional Food Technology Thematic Research Group (TRG) Universitas Hasanuddin tengah mengembangkan beras analog berbasis bahan pangan lokal yang berpotensi menjadi solusi pangan masa depan.
Ketua Functional Food Technology TRG Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Meta Mahendradatta, menjelaskan bahwa beras analog merupakan produk pangan yang dibuat menyerupai bulir beras, tetapi tidak berasal dari padi.
Produk ini dikembangkan menggunakan berbagai bahan pangan lokal seperti sagu, singkong, ubi, dan bahan lainnya yang memiliki potensi sebagai pangan fungsional.
“Beras analog adalah produk pangan yang menyerupai bulir beras, tetapi dibuat dari bahan non-padi,” jelas Prof. Meta dalam program Unhas Speak Up bertema Mengenal Pangan Fungsional dan Perannya untuk Gaya Hidup Sehat.
"Jadi bentuknya seperti beras yang biasa kita konsumsi, namun bahan bakunya berasal dari sumber pangan lokal lainnya," lanjut Prof Meta.
Menurutnya, pengembangan beras analog menjadi salah satu fokus penelitian kelompok riset yang dipimpinnya karena memiliki potensi besar untuk mendukung diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Berbeda dengan beras konvensional, beras analog memungkinkan para peneliti mengatur komposisi bahan sesuai kebutuhan gizi tertentu sehingga menghasilkan manfaat kesehatan yang lebih spesifik.
Prof. Meta menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama beras analog adalah kemampuannya untuk dirancang sesuai kebutuhan konsumen.
Jika masyarakat membutuhkan pangan dengan kandungan zat besi yang tinggi, maka formulasi beras analog dapat disesuaikan melalui penambahan bahan-bahan tertentu.
Begitu pula jika ditujukan untuk penderita diabetes, komposisinya dapat dirancang agar memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras biasa.
“Kalau beras analog ini kita bisa mengatur komposisinya. Kita bisa membuat beras yang tinggi zat besi, tinggi protein, atau memiliki indeks glikemik yang rendah sesuai kebutuhan. Jadi kita dapat mendesain manfaat yang ingin dihasilkan dari beras tersebut,” ujarnya.
Kemampuan tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan pangan yang lebih personal dan tepat sasaran. Tidak hanya sebagai sumber energi, beras analog juga dapat menjadi sarana untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan kesehatan yang masih banyak ditemukan di Indonesia.
Salah satu penelitian yang telah dilakukan oleh tim TRG Unhas adalah pengembangan beras analog yang diformulasikan khusus untuk ibu hamil.
Manfaatkan Daun Kelor dan Daun Katuk
>> Baca Selanjutnya
Ketua Functional Food Technology TRG Unhas Prof Dr Ir Meta Mahendradatta. (Dok Unhas TV)


-300x183.webp)


-300x166.webp)


