Makassar
Sosial

Beda Jagoan dalam Satu Keluarga Warnai Euforia Piala Dunia di Kampung Bola Makassar

PIALA DUNIA - Kampung Piala Dunia di Jl Titang, Kelurahan Barana, Kota Makassar. Di Jl Titang, tradisi memeriahkan gelaran sepak bola bertahan lebih dari 40 tahun. (Unhas TV / Moh Resha Maharam)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Euforia FIFA World Cup 2026 terasa semarak di Kampung Bola, Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Perhelatan sepak bola terbesar di dunia itu tidak hanya menyatukan warga, tetapi juga memunculkan persaingan kecil di dalam keluarga karena perbedaan pilihan negara jagoan.

Deretan bendera negara peserta Piala Dunia terpasang di depan rumah warga. Di beberapa rumah, bendera yang berkibar tidak hanya satu.

Ada dua hingga tiga bendera berbeda yang dipasang berdampingan. Pemandangan itu menunjukkan setiap anggota keluarga memiliki tim favorit masing-masing.

Pilihan warga pun beragam. Ada yang mendukung Jerman, Argentina, Brasil, hingga Prancis. Meski berbeda dukungan, suasana kampung tetap akrab. Warga menjadikan perbedaan itu sebagai bagian dari kemeriahan Piala Dunia, bukan sumber pertentangan.

Salah seorang warga Jalan Titang, Ala Langka, mengatakan telah mendukung Jerman sejak lama. Ia mengaku sudah memasang bendera Jerman selama tiga periode Piala Dunia atau sekitar 12 tahun.

Kecintaannya kepada tim berjuluk Die Panzer itu berawal dari kekaguman terhadap sejumlah legenda sepak bola Jerman. 

“Kalau jagoan saya memang dari dulu Jerman. Saya pilih karena Jerman adalah tim Panzer,” kata Ala Langka di Kampung Bola. Sayang Jerman sudah gugur di babak 16 besar.

Ala menyebut dukungan di keluarganya tidak seragam. Cucu dan kerabatnya memilih negara lain sebagai tim unggulan. Ada yang mendukung Argentina, Brasil, dan Prancis.

Perbedaan itu, menurut dia, justru membuat suasana menonton pertandingan lebih hidup. “Cucu saya Argentina, kemenakan saya Brasil dan Perancis,” ujar Ala.

Ala mengatakan, sejumlah pemain andalan menjadi alasan ia tetap setia mendukung tim tersebut. Ia menyebut nama Franz Beckenbauer dan beberapa pemain lain sebagai sosok yang pernah ia idolakan.

Meski para pemain idolanya telah pensiun, dukungannya kepada Jerman tidak berubah. Dan kini Der Panzer sudah duluan pulang di pentas Piala Dunia 2026.  

Kampung Bola telah lama dikenal sebagai salah satu kawasan dengan antusiasme tinggi terhadap sepak bola.

Setiap Piala Dunia berlangsung, warga menghias lingkungan dengan bendera peserta turnamen. Tradisi itu telah berlangsung selama lebih dari empat dekade dan terus dijaga oleh masyarakat setempat.

Memasuki fase penting turnamen, suasana Kampung Bola diperkirakan semakin ramai. Warga biasanya menggelar nonton bareng di beberapa titik.

Kegiatan itu tidak hanya diikuti warga sekitar, tetapi juga masyarakat dari luar kawasan yang ingin merasakan atmosfer Piala Dunia di kampung tersebut.

Perbedaan dukungan terhadap tim favorit menjadi warna tersendiri. Persaingan hanya berlangsung selama pertandingan. Setelah laga selesai, warga kembali berkumpul dalam suasana kekeluargaan.

Tradisi di Kampung Bola menunjukkan Piala Dunia bukan semata soal siapa yang menang dan kalah. Di Jalan Titang, sepak bola menjadi ruang perjumpaan, hiburan, dan perekat sosial. Bendera boleh berbeda, tetapi kebersamaan tetap menjadi jagoan utama warga.

(Venny Septiani Semuel / Moh Resha Maharam / Unhas TV)