BOSTON, UNHAS.TV – Skotlandia harus menentukan nasibnya dalam laga terakhir fase grup C Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-1 dari Maroko di Boston, Sabtu (20/6/2026) pagi.
Tim asuhan Steve Clarke kini menghadapi pertandingan berat melawan Brasil di Miami pada Rabu (24/6/2026) mendatang, untuk menjaga peluang melaju ke babak 32 besar.
Kekalahan dari Maroko tersebut membuat Skotlandia berada dalam posisi sulit. Mereka menempati peringkat ketiga grup dengan tiga poin dan selisih gol minus tiga.
Berdasarkan perhitungan statistik, tim yang finis di posisi ketiga dengan catatan serupa memiliki peluang sekitar 55 persen untuk lolos ke fase gugur.
Skotlandia masih dapat menciptakan sejarah. Satu poin saat menghadapi Brasil diyakini cukup untuk membawa mereka melewati fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya. Namun, tugas itu tidak mudah karena mereka harus menghadapi salah satu tim terkuat turnamen.
Harapan Skotlandia tetap hidup karena Maroko gagal memperbesar kemenangan. Wakil Afrika itu membuka keunggulan ketika pertandingan baru berjalan 70 detik.
Mereka kemudian mendominasi permainan dan memiliki sejumlah peluang untuk mencetak lebih banyak gol pada babak pertama.
Gol cepat Maroko berawal dari umpan Brahim Diaz yang melewati garis pertahanan Skotlandia. Ismael Saibari menerima bola dalam posisi bebas, memeriksa posisinya, lalu melepaskan tendangan keras ke sudut atas gawang.
Gol tersebut mengingatkan Skotlandia pada kekalahan 0-3 dari Maroko dalam pertemuan sebelumnya di panggung Piala Dunia. Saat itu, satu umpan di belakang pertahanan menjadi awal runtuhnya permainan Skotlandia. Pola serupa kembali terjadi di Boston.
Selama sekitar 40 menit, Skotlandia kesulitan menguasai bola. Para pemain Maroko menekan secara berkelompok, menutup jalur umpan, dan memaksa lawan melakukan kesalahan. Skotlandia juga gagal mengikuti pergerakan pemain tanpa bola dan beberapa kali kalah dalam duel di lini tengah.
Maroko tampil cepat dan rapi. Namun, tekanan mereka semakin efektif karena pertahanan Skotlandia terlihat panik. Tim Clarke terlalu mudah kehilangan bola dan kesulitan membangun serangan dari area sendiri.
Perubahan baru terlihat menjelang akhir babak pertama. Skotlandia mulai berani membawa bola ke depan, menambah jumlah pemain di area serangan, dan mengirim beberapa umpan silang ke kotak penalti. Tekanan tersebut memberi pendukung mereka alasan untuk kembali bersuara.
Empat menit setelah babak kedua dimulai, John McGinn merebut bola di lini tengah, menerobos ke kotak penalti, lalu terjatuh setelah berhadapan dengan Younes El Aynaoui.
Para pemain dan pendukung Skotlandia meminta penalti, tetapi wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, tidak mengabulkannya.
Skotlandia kembali mengajukan protes pada sepuluh menit terakhir. El Aynaoui terlihat melakukan kontak dengan Scott McTominay di dalam kotak penalti. Wasit kembali membiarkan permainan berlanjut.
Dua keputusan itu meningkatkan ketegangan di stadion. Para pendukung Skotlandia terus memberi tekanan dari tribun, sementara tim mereka bermain lebih agresif untuk mencari gol penyeimbang.
Skotlandia akhirnya mampu mengimbangi permainan Maroko pada babak kedua. Mereka tampil lebih disiplin, meningkatkan intensitas duel, dan berusaha memanfaatkan bola-bola silang. Namun, peluang yang tercipta tidak menghasilkan gol.
Kegagalan mencetak gol membuat Skotlandia tidak memperoleh poin yang mereka perlukan untuk memperkuat posisi sebelum pertandingan terakhir. Mereka kini harus berjuang hingga laga terakhir untuk menentukan apakah perjalanan di Piala Dunia berlanjut atau berhenti di fase grup.
Clarke dapat mengambil sisi positif dari respons timnya setelah kebobolan cepat. Skotlandia tidak mengalami keruntuhan seperti dalam pertemuan terdahulu melawan Maroko. Mereka mampu bertahan dari tekanan, memperbaiki permainan, dan menjaga selisih gol agar tidak semakin buruk.
Namun, perbaikan pada babak kedua belum cukup untuk menghapus masalah yang terlihat sejak awal pertandingan. Skotlandia masih kesulitan menghadapi tekanan tinggi, terlambat mengikuti pergerakan lawan, dan kurang tenang ketika menguasai bola.
Satu gol penyeimbang di Boston sebenarnya dapat mengubah situasi secara besar. Hasil imbang akan membuat Skotlandia menghadapi Brasil dengan posisi lebih aman. Mereka bahkan dapat memasuki laga terakhir dengan peluang lolos yang jauh lebih terbuka.
Kini, pertandingan di Miami berubah menjadi laga hidup-mati. Skotlandia tidak lagi sekadar mengejar hasil positif. Mereka harus merebut setidaknya satu poin dari Brasil untuk memastikan tempat di fase gugur dan mencatat pencapaian bersejarah.
Setelah sempat menikmati kemenangan pada pertandingan sebelumnya, Skotlandia kembali menghadapi kenyataan keras di Piala Dunia. Harapan mereka belum berakhir, tetapi jalan menuju babak 32 besar kini melewati tantangan terbesar: bertahan hidup melawan Brasil. (*)
GOL SAIBARI - Striker Maroko Ismael Saibari merayakan gol yang memberikan kemenangan Maroko atas Skotlandia dalam laga kedua Grup C Piala Dunia 2026, Sabtu (20/6/2026) pagi. (Screenshot The Sun)








