Ekonomi
Mahasiswa

Bidik LeDHaK Unhas 2026 Bahas Penguatan Tata Kelola dan Ketepatan Sasaran MBG



BINCANG PUBLIK - Lembaga Dialektika Haluan Kebangsaan (LeDHaK) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Bincang Dinamika Publik (Bidik) 2026 di Aula Prof Dr Latanro, Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Sabtu (29/8/2026). Bincang kali ini mengangkat tema “Mengkaji Arah Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Efisiensi Fiskal dan Optimalisasi Tata Kelola Menuju Kebijakan yang Berkelanjutan. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah R)


Dari perspektif generasi muda, Dini Nur Aulia menilai program MBG memiliki relevansi langsung terhadap kebutuhan anak dan remaja sebagai kelompok penerima manfaat.

Menurutnya, persoalan gizi masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara berkelanjutan. Program MBG dapat menjadi bagian dari upaya tersebut, tetapi harus tetap terhubung dengan pendekatan pencegahan dari hulu.

Dini menjelaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemberian makanan kepada anak, tetapi juga perlu dimulai sejak masa remaja, termasuk melalui pemenuhan gizi dan pencegahan anemia pada perempuan sebelum memasuki masa kehamilan.

“Remaja merupakan salah satu kelompok penerima manfaat. Tetapi kalau bicara pencegahan stunting, prosesnya juga perlu dimulai dari hulu, termasuk bagaimana remaja dipersiapkan,” jelas Dini.

Ia menekankan bahwa pemenuhan gizi bagi anak dan remaja memiliki kaitan dengan kesiapan mereka dalam mengikuti proses pendidikan dan tumbuh sebagai generasi penerus.

Sementara itu, Maulana Al Azima menilai MBG memiliki tujuan yang baik, tetapi pelaksanaannya masih membutuhkan evaluasi terutama pada aspek sasaran penerima, tata kelola, dan sistem pengawasan.

“Secara landasan dan niat itu sudah sangat baik. Tetapi saya rasa masih banyak hal yang perlu dievaluasi dari pelaksanaan MBG ini. Dimulai dari tata kelola, sasaran, perancangan, dan sistem pengawasan yang ketat,” ujar Maulana.

Menurutnya, pemberian MBG tidak selalu harus disamaratakan kepada seluruh siswa apabila terdapat data yang dapat digunakan untuk menentukan kelompok yang paling membutuhkan.

Ia mengusulkan agar data statistik maupun pendataan di tingkat sekolah dapat digunakan untuk memperkuat ketepatan sasaran program.

“Tidak perlu dalam satu sekolah itu disamaratakan semua siswa untuk diberikan MBG. Kita bisa menggunakan data dari BPS ataupun survei dari sekolah untuk melihat siapa yang betul-betul membutuhkan program ini,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan tersebut juga dapat berpengaruh terhadap efisiensi anggaran karena distribusi program dapat lebih diarahkan kepada penerima yang benar-benar membutuhkan.

Melalui diskusi ini, pembahasan MBG tidak hanya berhenti pada tujuan pemenuhan gizi, tetapi juga menempatkan aspek efisiensi fiskal, tata kelola, ketepatan sasaran, pengawasan, dan keberlanjutan program sebagai bagian penting dalam pelaksanaannya.

Ketiga narasumber sama-sama menekankan bahwa tujuan program perlu diikuti dengan implementasi yang terukur agar manfaatnya dapat diterima secara optimal oleh kelompok sasaran.

(Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)