MAKASSAR, UNHAS.TV - Anak jalanan kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Di balik stigma sebagai anak malas dan sulit diatur, mereka justru memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa, meski ironisnya masih minim akses terhadap pendidikan formal.
Dalam program Pojok Publik, Ketua Umum Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) Kota Makassar, Mundzier Mohammad Mustarilamda, mengungkapkan bahwa stigma negatif terhadap anak jalanan muncul akibat kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kondisi mereka yang sebenarnya.
Menurutnya, banyak orang hanya melihat perilaku anak jalanan di permukaan tanpa mengetahui latar belakang yang mendorong mereka turun ke jalan, seperti keterbatasan ekonomi, kurangnya dukungan keluarga, hingga minimnya akses pendidikan.
Mundzier menjelaskan, fenomena paradoks kerap terjadi pada anak jalanan. Di satu sisi, mereka sangat terampil dalam menghitung uang dan berinteraksi dengan orang lain karena terbiasa berjualan.
Namun di sisi lain, mereka mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan keterampilan dasar lainnya karena tidak mendapatkan pendidikan yang layak.
“Pengetahuan mereka terbentuk dari kebiasaan sehari-hari di jalan. Mereka terbiasa menghitung uang, tapi tidak terbiasa dengan pembelajaran formal seperti membaca dan menulis,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak semua anak jalanan malas untuk belajar. Banyak di antara mereka sebenarnya memiliki semangat untuk bersekolah, namun terhambat oleh berbagai faktor, seperti tidak adanya dukungan orang tua, keterbatasan biaya, hingga akses menuju sekolah.
KPAJ sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk membantu anak jalanan mendapatkan pendidikan, salah satunya melalui program sekolah paket dan kerja sama dengan sejumlah sekolah swasta untuk memberikan akses pendidikan gratis.
Hingga saat ini, tercatat hampir 10 anak jalanan telah difasilitasi untuk mengikuti pendidikan melalui program tersebut. Meski demikian, tantangan terbesar tetap terletak pada bagaimana meyakinkan orang tua akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka.
Mundzier menambahkan, respons orang tua terhadap program pendidikan ini beragam. Ada yang antusias dan bersyukur, namun tidak sedikit pula yang kurang mendukung karena pendidikan dianggap tidak memberikan hasil secara instan dibandingkan dengan bekerja di jalan.
Selain itu, KPAJ juga aktif melakukan pendampingan melalui enam titik area binaan di Kota Makassar. Program pembelajaran yang diberikan tidak hanya mencakup pendidikan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga pendidikan karakter yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan anak.
“Kami menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi mereka. Misalnya, jika anak cenderung agresif, maka fokus kami adalah membentuk karakter dan perilaku yang lebih baik,” tambahnya.
Di balik segala keterbatasan, anak jalanan tetap memiliki potensi besar. Beberapa di antaranya bahkan menunjukkan kemampuan dalam berbahasa Inggris serta tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Namun, kurangnya wadah dan dukungan menjadi hambatan utama dalam mengembangkan potensi tersebut.
KPAJ berharap masyarakat dapat mengubah cara pandang terhadap anak jalanan dan tidak lagi terjebak pada stigma negatif. Dukungan dari berbagai pihak dinilai sangat penting agar anak-anak tersebut mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
KPAJ - Ketua Umum Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) Kota Makassar, Mundzier Mohammad Mustarilamda (kanan) saat tampil dalam program Pojok Publik di Studio Unhas TV, Kamis (2/7/2026). (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)








