Ekonomi
Opini

Catatan Penjualan US Bond oleh China: Ekonomi di Era Perubahan

Prof. Dr. Hamid Paddu, Guru Besar Ilmu Ekonomi Keuangan Negara/Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menyampaikan analisis strategis mengenai dinamika de-dolarisasi dan transformasi sistem keuangan global dalam era perubahan ekonomi. Prof. Dr. Hamid Paddu, Guru Besar Ilmu Ekonomi Keuangan Negara/Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menyampaikan analisis strategis mengenai dinamika de-dolarisasi dan transformasi sistem keuangan global dalam era perubahan ekonomi.

Oleh: Hamid Paddu*
Gelombang de-dolarisasi yang didorong Beijing memasuki fase baru pada awal 2026 ketika bank-bank komersial yang terafiliasi negara mempercepat penjualan obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasuries) sembari meningkatkan akumulasi emas dan mendorong penggunaan yuan (renminbi) dalam sistem pembayaran alternatif, sebuah langkah strategis yang dilaporkan oleh Financial Times pada 4 Februari 2026 dan langsung memantik diskursus global mengenai masa depan arsitektur moneter internasional.

Menggali Makna De-Dolarisasi

Ketika China, yang selama ini merupakan salah satu pemegang terbesar ketiga U.S. Treasuries, mempercepat penjualan obligasi tersebut, kita tidak hanya menyaksikan pergeseran angka dalam neraca keuangan, tetapi sebuah pertarungan makroekonomi yang mencerminkan aspirasi dunia dan ketidakpuasan terhadap tatanan moneter yang ada, dominasi dollar yang dalam lintasan sejarah ekonomi terus mengalami perubahan paradigma yang lebih mendalam. Pelemahan dollar menjadi fenomena dan bukan hanya sebagai tindakan fiskal. 

Seperti yang terjadi di pasar dunia, langkah ini bertepatan dengan kebangkitan narasi yang lebih luas tentang kedaulatan finansial. Dalam konteks ini, kita harus menyelami lebih dalam—apa sebenarnya yang memotivasi Beijing untuk mengambil langkah tersebut dan mengapa pasar global merespons dengan begitu dramatis. 

Aspek Psikologis dan Dampaknya Terhadap Pasar

Kita dapat mengaitkan langkah de-dolarisasi ini dengan teori perilaku ekonomi yang menggambarkan bagaimana keputusan investasi seringkali dipengaruhi oleh emosi dan persepsi, tak hanya oleh data. Ketika berita mengenai penurunan kepemilikan China menyebar, reaksi pasar (rasional expectation) adalah cerminan dari ketidak pastian yang menggerogoti kepercayaan investor. Ekspekrtasi ketakutan akan masa depan uang dan pengaruh geopolitik mendorong pelarian ke aset-aset tradisional, seperti emas dan kas.

Di sinilah kita melihat keindahan dan keburukan dari pasar yang beroperasi lebih dari sekadar angka. Data menunjukkan kepemilikan China yang menurun, tetapi respon pasar yang dipicu oleh ketakutan kolektif menciptakan siklus dinamis yang mempercepat perubahan ekonomi.

Strategi Diversifikasi: Langkah Cerdas  mengelola resiko.

Dalam menghadapi ketidakpastian terhadap resiko konsentrasi pemilikan (US Treasury) dan volatilitas pasar, diversifikasi adalah prinsip yang seringkali dianjurkan. Bagi Beijing, meningkatkan cadangan emasnya sudah menjadi strategi yang diikutinya secara konsisten. Kenaikan kepemilikan emas yang melampaui 390 miliar dolar merupakan langkah cerdas, tidak hanya untuk melindungi nilai, tetapi juga untuk menunjukkan kemandirian di hadapan dunia.

Namun, kita harus bertanya—apakah ini reaksi rasional terhadap ancaman, ataukah strategi jangka panjang yang dihitung (rasional expectation model) ? Dalam pandangan New Classical economy oleh Robert E Lucas JR, dan pendekatan divesifikasi asset oleh Harry Markowitz menekankan bahwa pendekatan berani seperti ini mencerminkan kesadaran akan perlunya melakukan "hedging" terhadap risiko yang meningkat. Beijing tampaknya memahami bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, memiliki beragam sumber daya dapat merepresentasikan kekuatan, kemandirian sekaligus mengelola resiko dan volatilitas pasar.

Ilustrasi dinamika de-dolarisasi China: penjualan US Treasury, penguatan emas dan yuan, serta pergeseran menuju sistem keuangan multipolar yang memicu respons global dan redefinisi kedaulatan finansial. (Ilustrasi dibuat oleh AI: Chat GPT).
Ilustrasi dinamika de-dolarisasi China: penjualan US Treasury, penguatan emas dan yuan, serta pergeseran menuju sistem keuangan multipolar yang memicu respons global dan redefinisi kedaulatan finansial. (Ilustrasi dibuat oleh AI: Chat GPT).


Kripto dan Perubahan Paradigma Keuangan

Pengurangan US Treasury ini bagian dari strategi de-dollarisasi China sebagai reaksi terhadap meningkatnya resiko fiskal AS, dimana defisit dan utang publik AS meningkat dan pada saat yang sama terjadi pengetatan moneter menyebabkan volatilitas harga obligasi. Diversifikasi cadangan devisa ke emas menjadi pilihan utama karena US Treasury tidak lagi diperlakukan sebagai risk free asset dari sudut pandang Beijing. Dan ketika berbicara tentang keuangan multipolar, aset digital seperti Bitcoin muncul dalam konteks baru. Dengan posisi yang tidak terikat pada satu negara atau regulasi, Bitcoin menawarkan alternatif bagi individu dan negara yang ingin melindungi aset mereka dari volatilitas kebijakan moneter global. Dalam teori ekonomi monetari, kita sering membahas tentang fungsi uang sebagai unit nilai, alat tukar, dan penyimpan nilai. Di jaman di mana fiat mulai dipertanyakan, Bitcoin menawarkan kemungkinan sebagai aset non-sovereign yang dapat membentuk masa depan uang. China tidak secara resmi mengganti US Treasury dengan kripto, karena Beijing mendorong digital yuan (e-CNY) sebagai asset digital utama. Namun terjadi keterkaitan tidak langsung dengan kripto. Ketika terjadi pergeseran globa portofolio, bitcoin sering diposisikan sebagai digital gold oleh pelaku pasar. 

Melihat lonjakan nilai aset ter-tokenisasi di pasar, kita mungkin berdiri di ambang era baru keuangan. Blockchain, dengan segala potensinya, menantang kemapanan. Ketika investasi dalam kripto tumbuh, kesadaran akan transparansi dan keahlian dalam regulasi menjadi semakin penting. Ini adalah perjalanan menuju sistem di mana siapa pun dapat berpartisipasi tanpa terbebani oleh batasan yang diciptakan oleh beberapa kekuatan dominan. 

Kebijakan China lebih memilih emas, mata uang bilateral dan digital yuan, dan bukan kripto karena memiliki volatilitas, sulit dikontrol, berpotensi mendorong capital flight sekaligus melemahkan kontrol moneter negara, jadi kripto bukan instrumen negara, tetapi instrumen pasar yang berdampak secara tidak langsung. 

Memahami Transformasi Berkelanjutan

Dengan semua dinamika yang terjadi, kita mengambil langkah mundur untuk merenungkan—apa arti semua perubahan ini? De-dolarisasi yang diluncurkan oleh China bukan hanya sekadar langkah taktis. Ia menciptakan jejak pasar yang akan berbicara dalam babak-babak selanjutnya dari ekonomi global. Narasi de-dollarisasi menguntungkan alternatif asset moderen (kripto-bitcoin) secara global. Ini adalah panggilan untuk beradaptasi, untuk berinovasi, dan untuk tidak menganggap remeh perubahan yang mungkin terjadi.

Dalam dunia di mana kedaulatan finansial dan kekuatan pasar saling berinteraksi, kita dihadapkan pada peluang sekaligus tantangan. Seiring kita melangkah menuju masa depan, penting untuk melihat tidak hanya angka dan statistik, tetapi juga manusia dan ide di baliknya—sebuah hubungan yang mencerminkan sifat kompleks dari sistem keuangan global.

Di sinilah letak keindahan ekonomi: dalam berinteraksi dengan manusia, strategi, dan nilai-nilai yang lebih besar. De-dolarisasi mungkin menjadi langkah awal menuju sistem yang lebih adil dan berdaulat. Kita hanya perlu bersikap rasional (berfikir) dan bersiap untuk merengkuh dan memahami apa yang akan datang. Bagi Indonesia perlu memperkuat tata kelola pasar.

*Penulis ada Guru Besar dalam Bidang Ilmu Ekonomi Keuangan Negara/Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.