Ekonomi
News

Dampak Praktik Saham Gorengan, Guru Besar FEB Unhas Sebut Erosi Trust, Oligopoli hingga Oligarki

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas bidang Ekonomi Moneter dan Perbankan, Prof Marsuki DEA PhD. (dok unhas tv)

UNHAS.TV - Fenomena saham gorengan dinilai tidak hanya merugikan investor secara finansial, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas) bidang Ekonomi Moneter dan Perbankan, Prof Marsuki DEA PhD, menegaskan bahwa kepercayaan merupakan fondasi utama sistem keuangan.

Menurutnya, pasar modal sejatinya dibangun di atas trust. Investor menanamkan dana karena percaya pada transparansi informasi, mekanisme harga yang wajar, serta pengawasan yang kuat dari regulator.

“Pasar modal itu soal kepercayaan. Kalau orang tidak percaya, mereka tidak akan menaruh uangnya di situ,” ujarnya dalam program Econotalks Unhas TV, Kamis (12/2/2026).

Prof Marsuki menjelaskan, praktik saham gorengan menciptakan distorsi karena harga saham tidak lagi mencerminkan fundamental perusahaan. Ketika harga digerakkan secara artifisial oleh kelompok tertentu, mekanisme pasar menjadi semu.

Dalam jangka pendek mungkin hanya investor tertentu yang dirugikan. Namun dalam jangka panjang, yang lebih berbahaya adalah rusaknya persepsi terhadap integritas pasar.

“Kalau investor merasa harga bisa dimainkan, mereka akan ragu. Begitu kepercayaan turun, pasar bisa kehilangan partisipan,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa hilangnya kepercayaan dapat menyebabkan investor menarik dana atau beralih ke instrumen lain yang dianggap lebih aman.

Jika terjadi secara luas, kondisi ini dapat mengurangi likuiditas pasar dan mempersempit sumber pembiayaan bagi sektor riil.

Ancaman bagi Investor Ritel dan Generasi Muda

Kelompok yang paling rentan terdampak adalah investor ritel, terutama generasi muda yang baru memasuki dunia investasi.

Minimnya pengalaman dan literasi membuat mereka lebih mudah terpengaruh tren kenaikan harga tanpa memahami kinerja perusahaan.

“Ketika mereka rugi karena ikut-ikutan, dampaknya bukan cuma kerugian uang. Bisa muncul trauma dan ketidakpercayaan terhadap pasar modal secara keseluruhan,” jelasnya.

Jika generasi produktif kehilangan kepercayaan sejak awal, menurutnya, hal itu dapat menghambat pendalaman pasar keuangan Indonesia dalam jangka panjang.

Guru Besar Ekonomi Unhas itu menekankan bahwa menjaga kepercayaan investor adalah tanggung jawab bersama, terutama regulator dan otoritas kebijakan.

Pengawasan yang konsisten, transparansi informasi, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menjaga stabilitas persepsi pasar.

“Stabilitas ekonomi itu bukan hanya soal angka inflasi atau nilai tukar, tetapi juga soal trust. Kalau trust hilang, fondasi sistem keuangan ikut goyah,” katanya.

Ia berharap pasar modal Indonesia dapat diperkuat melalui regulasi yang tegas dan edukasi investor yang berkelanjutan, sehingga fungsi utamanya sebagai sumber pembiayaan pembangunan tetap terjaga.

“Kepercayaan itu mahal dan sulit dibangun. Jangan sampai hilang hanya karena praktik spekulatif yang merugikan banyak pihak,” pungkasnya.

(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)