Mahasiswa
Pendidikan

Dari Culture Shock hingga Kematangan Profesional, Mahasiswa Administrasi Unhas Akhiri Magang di Bapas Makassar

PENARIKAN MAGANG - Departemen Ilmu Administrasi FISIP Unhas melakukan penarikan mahasiswa magang di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar, Rabu (19/8/2026). Penarikan dilakukan dosen pembimbing Magang dari Departemen Ilmu Administrasi FISIP Unhas, Dr. Ishak Salim. (Dok Dept Administrasi Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Delapan mahasiswa Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas) menutup perjalanan magang mereka di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar.

Selama hampir dua bulan, para mahasiswa tidak hanya belajar tentang birokrasi pemerintahan, tetapi juga berhadapan langsung dengan dinamika pelayanan pemasyarakatan yang membentuk pengalaman profesional mereka.

Program magang yang berlangsung sejak 22 Juni hingga 13 Agustus 2026 tersebut resmi berakhir melalui kegiatan penarikan mahasiswa di Kantor Bapas Sulawesi Selatan, Jalan Hertasning, Makassar, Rabu (19/8/2026).

Acara penarikan tersebut dihadiri jajaran pimpinan Bapas Makassar serta dosen pembimbing dari Universitas Hasanuddin.

Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas I Makassar, Dr Surianto AMd IP SPd MM menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa selama menjalani proses magang.

Menurutnya, keberadaan mahasiswa Unhas memberikan dukungan positif terhadap pelaksanaan berbagai tugas operasional di lingkungan Bapas.

Ia menilai kerja sama antara Bapas Makassar dan Universitas Hasanuddin menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga pemasyarakatan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik sekaligus pengalaman lapangan.

Dosen Pembimbing Magang Departemen Ilmu Administrasi FISIP Unhas, Dr Ishak Salim SIP MA, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Kurikulum 2023 (K-23) melalui Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK).

Program tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman pembelajaran di luar kampus sekaligus dikonversi menjadi satuan kredit semester (SKS).

“Unhas memberikan porsi 20 SKS bagi mahasiswa untuk mencari ilmu dan pengalaman di luar kampus. Khusus untuk magang ini, mahasiswa memperoleh kredit 6 SKS selama dua bulan,” ujar Ishak.

Selama berada di Bapas Makassar, mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas administratif. Mereka turut mengikuti berbagai aktivitas yang berkaitan dengan sistem kerja lembaga pemasyarakatan.

Aktivitas seperti apel pagi, latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), kegiatan bimbingan kemandirian klien, termasuk kelas barista, hingga proses Penelitian Kemasyarakatan (Litmas) di Rumah Tahanan Negara.

Keterlibatan dalam proses Litmas menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi mahasiswa karena mereka dapat melihat secara langsung proses wawancara dengan klien serta memahami berbagai latar belakang sosial dan hukum yang melingkupinya.

Salah seorang peserta magang, Syifa Shara Salsabila, mengaku pengalaman awal di lingkungan birokrasi sempat memberikan kejutan tersendiri. Budaya kerja yang disiplin membuatnya harus beradaptasi dengan aturan yang berbeda dari lingkungan perkuliahan.

“Awalnya saya sempat culture shock karena aturannya lumayan ketat. Kami harus datang jam 7 dan jika terlambat mengikuti apel pukul 07.30, kami akan dipulangkan. Ini membuat kami menjadi lebih disiplin waktu,” kata Syifa.

Ia mengaku pengalaman tersebut justru membentuk kebiasaan baru, termasuk meningkatkan kedisiplinan dan memahami tanggung jawab profesional.

Selain belajar mengenai proses hukum yang dijalani klien pemasyarakatan, Syifa juga memperoleh keterampilan baru dalam pengelolaan administrasi, termasuk penggunaan Microsoft Excel pada divisi kepegawaian.

Menurutnya, hubungan dengan pegawai Bapas yang awalnya terasa formal perlahan berubah menjadi lebih akrab. Lingkungan kerja yang suportif membuat proses adaptasi selama magang menjadi lebih mudah.

Kegiatan penarikan mahasiswa kemudian ditutup dengan penyerahan laporan magang dan sesi foto bersama antara pihak Bapas Makassar, dosen pembimbing, serta para mahasiswa.

Pengalaman itu menjadi catatan penting bagi mahasiswa Unhas dalam memasuki dunia kerja dengan bekal kedisiplinan, keterampilan, dan pemahaman terhadap praktik birokrasi secara langsung. (*)