Catatan Eka Sastra dari Turkiye*
Udara dingin Istanbul menyambut kedatangan saya pada penghujung Oktober. Kota yang menjadi jembatan Asia dan Eropa ini menjadi tempat digelarnya B57+ Business Leaders’ Summit 2026 pada 31 Oktober–1 November.
B57+ adalah jaringan pemimpin bisnis negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang diluncurkan November 2025 oleh Abdullah Saleh Kamel, Ketua Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD), untuk menjawab persoalan lama: perdagangan dan investasi antaranggota OKI yang belum sepadan dengan potensinya.
Di Asia-Pasifik, jaringan ini dipimpin Arsjad Rasjid PM sebagai Chairman, dengan kantor regional di Indonesia yang diumumkan pada Februari 2026.
Sepanjang forum, satu pertanyaan terus saya bawa: bagaimana hubungan yang dibangun di Istanbul dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Indonesia?
Dari Pertemuan ke Pekerjaan Nyata
Tema besar forum ini adalah The Great Convergence: Catalyzing OIC Capital for Global South Resilience—ajakan mempertemukan modal dan kemampuan ekonomi negara-negara OKI demi ketahanan Global South.
Pembahasannya mencakup modal OKI, peran sovereign wealth funds, serta kecerdasan buatan, kewirausahaan muda, dan ekonomi digital. Semuanya bermuara pada satu kebutuhan: menyambungkan pembiayaan, kemampuan perusahaan, dan teknologi.
Modal membutuhkan proyek, perusahaan membutuhkan pasar, dan gagasan membutuhkan orang yang mau menjalankannya.
Indonesia ikut mengisi percakapan melalui Arsjad Rasjid PM dan Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri. Menteri Perdagangan Türkiye, Ömer Bolat, menekankan bahwa kepercayaan, kerja sama, investasi, dan kemakmuran berkelanjutan harus berjalan berurutan.

Ukuran keberhasilannya jelas: proyek yang benar-benar berjalan dan kemitraan yang benar-benar terbangun.
Hubungan Indonesia–Türkiye menunjukkan lebarnya jarak antara kedekatan dan transaksi. Perdagangan kedua negara pada 2024 baru sekitar US$2,4 miliar, padahal targetnya US$10 miliar.
Hubungan diplomatik sudah 75 tahun, tetapi kerja sama baru tumbuh ketika kebutuhan nyata dipertemukan: pengusaha butuh pembeli, modal kerja, dan kepastian kontrak; investor butuh proyek yang jelas dan risiko yang terukur.
Pasar yang Sudah Menunggu
State of the Global Islamic Economy Report (SGIE) 2025/2026 dari DinarStandard mencatat belanja konsumen Muslim di enam sektor mencapai US$2,60 triliun pada 2024 dan diproyeksikan menjadi US$3,56 triliun pada 2029.
Pangan halal menjadi yang terbesar, sekitar US$1,53 triliun. Aset keuangan syariah global mencapai US$5,99 triliun pada 2024 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$9,72 triliun pada 2029. Modal yang dibicarakan di Istanbul sudah ada dan sedang mencari tempat yang layak.
Namun Indonesia turun ke peringkat keempat Global Islamic Economy Indicator, di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, meski tetap nomor satu dunia untuk fesyen Muslim.
Ekspor produk halal kita pada 2025 sekitar US$63,4 miliar dengan surplus sekitar US$51,2 miliar, tetapi ekspor ke negara-negara OKI pada 2024 baru sekitar US$12,5 miliar, menempatkan Indonesia di urutan kesembilan.
Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia belum menjadi pemasok utama bagi dunia Muslim. Porsi perdagangan antaranggota OKI juga baru 20,36 persen pada 2024, di bawah target 25 persen.
Penduduk yang besar menciptakan permintaan, tetapi kemampuan produksi yang menentukan apakah permintaan itu berubah menjadi pekerjaan dan nilai tambah di dalam negeri.
Sertifikasi halal hanya tiket masuk. Perusahaan juga harus menjaga mutu, memenuhi standar keamanan, menawarkan harga bersaing, dan memasok secara berkelanjutan.

Ada usaha yang produknya bagus tetapi tak sanggup memenuhi pesanan besar; ada pula yang siap berproduksi tetapi belum punya pembeli atau pembiayaan. Karena itu, pengembangan ekonomi halal harus mencakup seluruh rantai nilai.
Pertanyaannya kemudian: siapa yang menikmati manfaatnya? Siapa yang menguasai teknologi, merek, dan jaringan penjualan? Investasi dari negara OKI perlu meningkatkan kemampuan produksi dan keterampilan tenaga kerja kita.
Tanpa itu, kita hanya menjadi pasar bagi merek orang lain atau pemasok bahan mentah bagi industri negara lain.
Membawa Pulang Pekerjaan Rumah
Pekerjaan ini membutuhkan banyak pihak. Organisasi Islam punya jaringan sosial untuk kewirausahaan, pelaku usaha membawa pengalaman produksi dan pemasaran, pemerintah menyediakan kebijakan, dan perguruan tinggi menyumbang riset serta sumber daya manusia.
Bagi kampus seperti Universitas Hasanuddin, kontribusinya konkret: membantu usaha meningkatkan mutu produk, mengembangkan teknologi pengolahan, dan memahami pasar ekspor.
Melalui B57+, sambungan ini perlu terus dikerjakan. Pertemuan sektoral di pangan, kosmetik, fesyen, pariwisata, dan logistik dapat menjadi langkah awal untuk memetakan kebutuhan, menyiapkan proyek yang layak dibiayai, dan mencari mitra yang tepat.
Kantor regional Asia-Pasifik di Indonesia membuka jalan ke tingkat internasional, tetapi hasilnya bergantung pada ketekunan mengawal setiap tindak lanjut hingga menjadi transaksi.
Gala dinner pada malam 1 November menutup rangkaian acara di Istanbul. Bagi saya, penutupan itu justru menjadi awal pekerjaan setelah kembali ke Indonesia.
Udara dingin Istanbul akan menjadi bagian dari ingatan perjalanan ini. Yang ingin saya bawa pulang adalah hubungan yang dapat dirawat dan peluang yang dapat dikerjakan bersama.
Nilainya kelak terlihat ketika perusahaan memperoleh pasar, pekerja meningkatkan keterampilan, dan semakin banyak masyarakat merasakan manfaat dari kerja sama yang dimulai di ruang pertemuan itu.
Dari dingin Istanbul, kita membawa pulang pekerjaan rumah. Dan pekerjaan rumah itu hanya akan selesai jika dikerjakan bersama.
*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE), sekaligus Sekjen B57+ Indonesia, lembaga bisnis negara-negara anggota OKI.
undefined
-300x183.webp)







