.webp)
KEKERASAN SEKSUAL - Dosen Departemen Sosiologi Unhas, Andi Nurlela menjadi pelatih pada kegiatan Pelatihan Penguatan Kelembagaan Forum Anak untuk Pencegahan Kekerasan Seksual di Ranah Daring/Online (OCSEA) di Royal Bay Hotel Makassar, Senin (11/5/2026). Kegiatan ini yang dilaksanakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar. (Dok Andi Nurlela)
Kandidat doktor dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini juga menjelaskan pola manipulasi yang kerap dipakai pelaku.
Pelaku dapat berpura-pura sebagai teman sebaya, memberi perhatian berlebihan, membangun hubungan emosional, lalu meminta korban mengirim foto atau video pribadi.
Anak-anak diminta mengenali tanda bahaya, seperti orang asing yang terlalu cepat akrab, meminta foto pribadi, mengajak panggilan video diam-diam, atau menyuruh korban merahasiakan komunikasi dari orang tua.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Peserta diajak berdiskusi tentang kebiasaan menggunakan media sosial, durasi akses internet, serta pengalaman melihat konten yang tidak nyaman.
Dalam sesi brainstorming, beberapa peserta mengaku menggunakan media sosial lebih dari lima jam sehari dan pernah menemukan konten kekerasan maupun konten yang tidak layak bagi anak.
Pelatihan juga menghadirkan pemutaran video edukasi tentang dampak eksploitasi seksual daring. Video itu menggambarkan bagaimana anak dapat menjadi korban manipulasi pelaku di media sosial hingga mengalami ancaman penyebaran konten pribadi.
Tayangan tersebut digunakan untuk memperkuat kesadaran peserta tentang pentingnya menjaga privasi dan berhati-hati dalam berinteraksi di internet.
Andi Nurlela, yang juga aktif sebagai konsultan program perlindungan anak yang didukung UNICEF, menegaskan korban kekerasan seksual daring tidak boleh menyalahkan diri sendiri.
Menurut dia, dukungan keluarga, guru, teman sebaya, dan lingkungan sekitar sangat penting agar korban berani berbicara.
“Anak-anak harus tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ketika mengalami atau melihat tanda-tanda kekerasan di dunia digital, segera ceritakan kepada orang dewasa yang dipercaya, simpan bukti, dan laporkan,” ujarnya.
Peserta juga mendapat materi perlindungan diri, seperti mengatur akun menjadi privat, tidak membagikan data pribadi, memblokir akun mencurigakan, menyimpan tangkapan layar sebagai bukti, dan melaporkan tindakan yang membahayakan.
DP3A Kota Makassar berharap pelatihan ini memperkuat peran Forum Anak dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, nyaman, dan ramah anak. (*)
 Puntondo-300x169.webp)





-300x169.webp)

