Mahasiswa
Pendidikan

Dari Ikan Sapu-Sapu hingga Singkong, KKN Unhas 116 Gerakkan Ekonomi Desa Wajo, Gowa, dan Bantaeng

NUGGET IKAN - Mahasiswa KKN Unhas Gelombang 116 mengolah ikan sapu-sapu Danau Tempe menjadi nugget Resopa di Desa Worongnge, Wajo. Inovasi dipamerkan dalam Expo KKN di JK Arenatorium, kampus Unhas, Sabtu (19/9/2026). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Potensi lokal dapat menjadi penggerak ekonomi ketika tidak berhenti sebagai sumber daya mentah, tetapi dikembangkan melalui pengolahan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penguatan usaha.

Di tingkat desa, proses tersebut dapat dimulai dari komoditas yang tersedia hingga usaha masyarakat yang telah berjalan namun masih membutuhkan pendampingan.

Pendekatan tersebut terlihat dalam sejumlah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin Gelombang 116.

Melalui berbagai program tematik, mahasiswa mendampingi masyarakat untuk mengenali sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Hasil pendampingan tersebut turut ditampilkan dalam Expo KKN Unhas Gelombang 116 di GOR JK Arenatorium Universitas Hasanuddin, Sabtu (19/9/2026).

Berbagai program menunjukkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat tidak hanya dilakukan melalui penciptaan produk, tetapi juga melalui peningkatan keterampilan produksi, pengelolaan usaha, pendampingan legalitas, hingga pemanfaatan teknologi.

Pendekatan tersebut antara lain diterapkan mahasiswa KKN di Kabupaten Wajo, Gowa, dan Bantaeng.

Masing-masing membawa bentuk pemberdayaan yang berbeda, mulai dari pemanfaatan sumber daya lokal menjadi produk pangan bernilai tambah, pengembangan komoditas pertanian, hingga pendampingan UMKM dalam memenuhi aspek legalitas dan keamanan pangan.

Olahan Ikan Sapu-Sapu Danau Tempe 

Di kawasan Danau Tempe, Kabupaten Wajo, mahasiswa melihat peluang dari sumber daya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Salsabila Najwa Azizah Nur Wahyudin, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Unhas yang mengikuti KKN Tematik Gelombang 116 Pemberdayaan Pesisir Danau Tempe di Desa Worongnge, Kabupaten Wajo, bersama timnya mengembangkan Resopa, nugget berbahan dasar ikan sapu-sapu.

Menurut Salsabila, gagasan tersebut berangkat dari keberadaan ikan sapu-sapu di Danau Tempe yang kerap tidak dimanfaatkan ketika ikut tertangkap oleh nelayan. Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa mencari alternatif pengolahan untuk meningkatkan nilai gunanya.

“Inovasi atau program kerja kelompok dari Desa Worongnge itu sendiri adalah pembuatan nugget dari ikan sapu-sapu, dan kami memberikan nama dari produk kami adalah Resopa," ujarnya.

"Inovasi ini dilatarbelakangi karena ikan sapu-sapu seperti yang kita ketahui adalah ikan invasif yang hidup di Danau Tempe. Dan ikan ini tidak digunakan oleh nelayan ketika melakukan penangkapan ikan, hanya dibuang saja,” jelas Salsabila.

Tim kemudian mengolah ikan tersebut menjadi nugget sebagai produk pangan yang lebih mudah dikembangkan di tingkat masyarakat.

Sebelum pelaksanaan KKN, gagasan tersebut telah melalui proses penelitian dengan dukungan pendanaan dari program Mahasiswa Berkarya atau Mahakarya Unhas.

Pendampingan kepada masyarakat mencakup proses pembuatan, pengolahan, hingga pengenalan cara mendistribusikan dan memasarkan produk. Selama pelaksanaan KKN, proses produksi dilakukan secara bertahap hingga enam kali.

Program tersebut dirancang agar Resopa tidak berhenti sebagai produk mahasiswa. Peralatan yang digunakan selama kegiatan selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh ibu-ibu PKK dan kelompok usaha bersama (KUB) di Desa Worongnge untuk melanjutkan produksi.

Selain membuka peluang ekonomi, Salsabila berharap pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi produk pangan dapat memberikan manfaat bagi pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak.

“Setidaknya produk ini bisa berguna baik dari segi kesehatan maupun dari segi ekonominya. Dan kami berharap juga bahwa ibu-ibu PKK atau ibu-ibu KUB tersebut dapat terus melanjutkan hingga produk kami ini menjadi lebih besar atau lebih dikenal orang luas di luar dari Desa Worongnge itu sendiri,” ujarnya.

Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Lewat Singkong 

Jika mahasiswa di Wajo memanfaatkan sumber daya perairan, program KKN di Kabupaten Gowa berangkat dari komoditas pertanian yang tersedia di masyarakat.

Attriana Cindy Florensius, mahasiswa Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unhas, mengikuti KKN Tematik Kampung Sejahtera Kementerian Sosial di Desa Pattallassang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa.

Di wilayah tersebut, mahasiswa menemukan singkong sebagai salah satu potensi yang dapat dikembangkan. Komoditas tersebut masih tersedia dalam bentuk bahan mentah sehingga memiliki peluang untuk diolah menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.

“Potensi yang kami temukan dari Desa Pattallassang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa yaitu mereka memiliki bahan mentah berupa ubi singkong. Di situ mereka belum bisa mengolah dalam bentuk hasil yang bisa memiliki nilai jual tinggi,” jelas Attriana.

Singkong kemudian dikembangkan menjadi keripik sebagai bagian dari pendampingan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Namun, program tersebut tidak hanya diarahkan pada kemampuan menghasilkan produk.

Mahasiswa turut memberikan modul, artikel, serta buku pencatatan keuangan untuk membantu masyarakat memahami proses produksi sekaligus pengelolaan usaha.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan ekonomi KPM sehingga secara bertahap dapat semakin mandiri.

“Selain produk keripik singkong yang kami hasilkan, ada juga modul, artikel juga bagaimana pemahaman mereka, kemudian ada juga buku saku dalam pencatatan keuangan mereka,” katanya.

Dalam skema KKN Tematik Kampung Sejahtera, peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat mendukung proses graduasi KPM sehingga masyarakat secara bertahap mampu meningkatkan kemandirian ekonominya.

Keberlanjutan program juga menjadi bagian dari kerja sama dengan Kementerian Sosial. Menurut Attriana, tindak lanjut program direncanakan berlangsung selama lima tahun melalui pendampingan yang lebih intensif.

Dengan demikian, pengolahan singkong tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan produksi, tetapi menjadi pintu masuk untuk memperkuat keterampilan usaha dan kemampuan pengelolaan keuangan masyarakat.

Legalitas UMKM dan Keamanan Pangan

Penguatan ekonomi masyarakat tidak selalu dimulai dengan menciptakan produk baru. Bagi usaha yang telah berjalan, pemenuhan aspek legalitas dan keamanan pangan juga menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan usaha.

Hal tersebut menjadi fokus Muhammad Rizqullah Akbar Adlan, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, yang mengikuti KKN Tematik Keamanan Pangan bermitra dengan BPOM di Kelurahan Bonto Atu, Kabupaten Bantaeng.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mendampingi pelaku UMKM untuk memahami proses pengurusan legalitas usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan produk pangan.

“Kalau dari tematik Keamanan Pangan itu sendiri lebih ke arah bagaimana caranya usaha-usaha menengah yang kayak UMKM di masyarakat yang berada di desa itu kita bisa membantu untuk mengurus legalitas usahanya," ujarnya.

"Dari legalitas usahanya, dari sisi bagaimana mereka menyusun NIB atau legalitas seperti P-IRT, perizinan dari sisi BPOM,” jelas Rizqullah.

Pendampingan legalitas dilengkapi dengan edukasi mengenai keamanan pangan kepada masyarakat, termasuk komunitas sekolah. Mahasiswa juga membentuk kader keamanan pangan di tingkat desa sebagai bagian dari upaya agar edukasi dapat terus dilanjutkan.

Rizqullah turut memanfaatkan latar belakang keilmuannya di bidang Teknik Informatika dengan mengembangkan website untuk sistem pengelolaan kader keamanan pangan.

Sistem tersebut dirancang untuk membantu pemantauan aktivitas kader di setiap wilayah serta mitra yang bekerja sama dengan BPOM.

“Website-nya ini untuk sistem pengelolaan kader keamanan pangan. Sistem tersebut bisa memonitoring berdasarkan dari setiap desa-desa dan juga mitra-mitra yang bekerja sama dengan Badan POM,” ujarnya.

Melalui sistem tersebut, berbagai aktivitas kader, termasuk kegiatan edukasi keamanan pangan, diharapkan dapat terdokumentasi dan dipantau secara berkelanjutan.

Menurut Rizqullah, pendampingan masih diperlukan karena sebagian pelaku usaha di desa menganggap proses pengurusan legalitas sebagai sesuatu yang sulit. Padahal, sejumlah proses administrasi telah tersedia melalui layanan digital yang dapat diakses oleh pelaku usaha.

Karena itu, pendampingan tidak hanya membantu menyelesaikan kebutuhan administrasi selama KKN berlangsung, tetapi juga memberikan pemahaman agar pelaku UMKM dapat mengakses dan mengurus kebutuhan usahanya secara lebih mandiri.

Mengolah Potensi, Menggerakkan Ekonomi

Program mahasiswa di Wajo, Gowa, dan Bantaeng memperlihatkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat dapat dilakukan melalui pendekatan yang berbeda sesuai dengan potensi dan kebutuhan setiap wilayah.

Di Desa Worongnge, ikan sapu-sapu yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah. Di Desa Pattallassang, komoditas singkong menjadi sarana untuk membangun keterampilan produksi dan pengelolaan usaha bagi keluarga penerima manfaat.

Sementara di Kelurahan Bonto Atu, penguatan UMKM dilakukan melalui pendampingan legalitas, edukasi keamanan pangan, dan pemanfaatan teknologi.

Ketiga program tersebut menunjukkan bahwa nilai ekonomi tidak hanya terbentuk ketika sebuah produk berhasil dibuat.

Nilai tambah juga dapat dibangun melalui kemampuan masyarakat mengolah sumber daya, mengelola usaha, memenuhi aspek legalitas, serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung keberlanjutan kegiatan ekonomi.

Dalam proses tersebut, mahasiswa tidak hanya menghadirkan produk atau program selama masa pengabdian, tetapi juga melakukan transfer pengetahuan melalui pelatihan, pendampingan, penyediaan panduan, hingga pengembangan sistem yang dapat digunakan setelah KKN berakhir.

Melalui pendekatan tersebut, KKN menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan potensi dan kebutuhan masyarakat.

Upaya mengolah potensi lokal pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk baru, tetapi juga untuk membuka peluang ekonomi serta memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan.

(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)