Karier
Program
Unhas Figure

Dari Kampus Teknik Unhas ke Takalar, Firdaus Kini Menggeber Birokrasi Cepat Berbasis Digital

Bupati Takalar Ir Mohammad Firdaus Daeng Manye MM. (Dok Unhas TV)

UNHAS.TV - Kemacetan menyambut Muhammad Firdaus Daeng Manye sebelum tiba di studio Unhas TV, Juni 2026. Ia datang sebagai tamu program Unhas Figur, bukan lagi sebagai mahasiswa Teknik Elektro yang dulu menapak di kampus Unhas Tamalanrea.

Hari itu, ia kembali ke kampus Unhas sebagai Bupati Takalar. Kepala daerah yang memimpin kabupaten pesisir Provinsi Sulawesi Selatan untuk periode 2025-2030.

“Alhamdulillah baik, sehat. Maaf, tadi agak macet jalannya,” kata Firdaus saat disapa pembawa acara, Rahmatia Ardi mengonfirmasi kehadirannya.

Percakapan itu segera membawa Firdaus mundur jauh ke masa kuliah. Hampir empat dekade lalu, ia masuk Universitas Hasanuddin.

Tahun 1986, ia memilih Fakultas Teknik, Jurusan Elektro. Saat itu, sebagian kuliah dasar masih berlangsung di kampus Jalan Sunu. Setelah masuk kuliah jurusan Elektro, ia lebih banyak belajar di Kampus Tamalanrea.

Bagi Firdaus, kembali ke Unhas seperti membuka album lama. Gedung telah berubah. Lingkungan kampus berubah. Fasilitas juga jauh berbeda. Fakultas Teknik bahkan kini sudah berpindah ke Gowa. Namun ingatan tentang masa mahasiswa Unhas Tamalanrea masih tinggal.

Ia menyebut masa kuliah sebagai masa yang seru dan tidak akan terulang. Firdaus bukan tipe mahasiswa yang selalu tampil di depan organisasi. Namun ia bergaul dengan banyak mahasiswa yang aktif.

Ia juga pernah terlibat dalam pendirian radio elektro bernama Elektro Broadcasting System (EBS) FM  --kini menjadi Education Broadcasting System (EBS)-- dan sesekali menjadi pembawa acara.

Pengalaman itu tampak sederhana. Tetapi, bagi Firdaus, kampus memberi lebih dari sekadar ilmu teknik. Matematika, fisika, kimia, elektronika, dan pelajaran eksakta lain membentuk cara dia berpikir.

Ruang kuliah melatih disiplin. Lingkungan kampus mengajarkan pergaulan. Waktu yang padat memaksanya belajar mengatur prioritas. Manajemen waktu sangat penting. 

“Seluruh pelajaran itu membentuk kemampuan belajar, mengelola waktu, dan mengelola lingkungan,” ujarnya.

Ia juga pernah menjadi asisten laboratorium selama sekitar dua tahun, dari semester enam hingga semester delapan.

Dari sana, ia belajar membagi pengetahuan kepada mahasiswa lain. Ia tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri. Ia juga harus memastikan adik tingkat memahami materi dan mendapat nilai baik.

Pelajaran mengelola waktu itu kelak menjadi bekal penting. Setelah lulus, Firdaus masuk Telkom. Jalan itu terbuka sejak ia masih kuliah.

Pada semester enam, Telkom membuka seleksi ikatan dinas di sejumlah kampus besar, termasuk Unhas, ITB, ITS, dan UI. Firdaus ikut seleksi dan lulus.

Ia memperoleh beasiswa sampai selesai kuliah. Setelah lulus, ia mengikuti pendidikan di Bandung selama sekitar enam bulan. Penempatan pertamanya berada di Surabaya. Dari sana, kariernya bergerak panjang.

Ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis di PT Telkom Indonesia (Telkom Group) sebelum mengundurkan diri untuk fokus di jalur politik. Jabatan puncak yang pernah ia emban meliputi Direktur Utama PT PINS Indonesia (anak usaha Telkom Group) pada periode 2017–2019.

PT PINS Indonesia adalah anak usaha PT Telkom Indonesia yang berfokus pada integrasi perangkat, jaringan, dan layanan Internet of Things (IoT).

Perusahaan ini menyediakan berbagai solusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), mulai dari manajemen tempat kerja (workplace management) hingga infrastruktur pusat data

Selama 32 tahun, Firdaus bekerja di dunia telekomunikasi. Ia pernah bertugas di lapangan, masuk ke manajemen, hingga menjadi jajaran direksi anak perusahaan. Dunia korporasi membentuk cara kerjanya: cepat, adaptif, dan terbiasa mengejar target.

Industri telekomunikasi, kata Firdaus, tidak pernah diam. Regulasi berubah. Teknologi berubah. Inovasi datang terus-menerus.

Setiap perubahan menuntut orang di dalamnya ikut berubah. Jika terlambat, perusahaan bisa kalah. “Di korporasi, inovasi dan kecepatan menjadi salah satu tolok ukur,” katanya.

Masuk Politik Jadi Pilihan Hati

>> Baca Selanjutnya