Karier
Program
Unhas Figure

Dari Kampus Teknik Unhas ke Takalar, Firdaus Kini Menggeber Birokrasi Cepat Berbasis Digital



Bupati Takalar Ir M Firdaus Daeng Manye MM. (Dok Unhas TV)


Dalam 15 bulan pertama pemerintahannya, Firdaus mengklaim sejumlah perubahan mulai terlihat. Ia mencontohkan sektor pendidikan. Saat ia masuk, Takalar berada di peringkat 23 dari 24 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Dalam waktu sekitar sembilan hingga sepuluh bulan, ia menyebut Takalar naik ke peringkat pertama di Sulawesi Selatan. Bahkan, menurut dia, Takalar sempat berada di peringkat kedua nasional setelah Bantul.

Ia menyebut lompatan itu sebagai tanda akselerasi. Namun ia tidak ingin hanya berhenti di pendidikan. Pertanian, kesehatan, pengentasan kemiskinan, UMKM, investasi, dan pariwisata juga menjadi sasaran kerja.

Keterbatasan anggaran menjadi tantangan umum pemerintah daerah. Firdaus tidak menampiknya. Tetapi ia menolak menjadikan keterbatasan APBD sebagai alasan untuk berhenti. Ia memilih mencari jejaring luar. Salah satunya dengan membuka komunikasi kerja sama dengan Cina.

Ia menyebut rencana sister city dengan salah satu kota di Cina sebagai bagian dari strategi menarik investasi. Baginya, kepala daerah harus mencari ruang baru ketika ruang fiskal terbatas. Investasi, kolaborasi, dan jejaring menjadi cara untuk menggerakkan potensi daerah.

Di sektor UMKM, Pemerintah Kabupaten Takalar bekerja sama dengan Asian Foundation. Tujuannya, membantu pengembangan pelaku usaha kecil dan menengah. Firdaus melihat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal yang perlu ditata dan dinaikkan kelasnya.

Namun salah satu sektor yang paling sering ia dorong belakangan adalah pariwisata. Ia mempromosikan tujuh destinasi wisata Takalar. Salah satunya kawasan Sanrobengi dan wilayah Paria Laut. Ia turun langsung, membuat unggahan di media sosial, dan mengajak publik melihat potensi wisata daerahnya.

Promosi itu, menurut Firdaus, tidak selalu butuh biaya besar. Cara sederhana bisa memberi dampak jika dilakukan tepat. Setelah dipromosikan, ia menyebut beberapa destinasi mulai ramai. Bahkan, ada kawasan yang mulai macet karena banyak pengunjung datang.

Bagi Firdaus, pariwisata bukan hanya urusan foto dan kunjungan. Di balik keramaian itu ada perputaran uang. Jika seribu orang datang dan masing-masing membelanjakan Rp50 ribu, maka Rp50 juta berputar dalam sehari. Uang itu bisa masuk ke pedagang, penyedia jasa, warga sekitar, dan pelaku usaha lokal.

Ia melihat perubahan nilai lahan di sekitar destinasi sebagai tanda ekonomi mulai bergerak. Wilayah yang dulu berupa tambak atau hamparan kosong mulai dilirik. Warga mulai melihat peluang baru.

Cara kerja seperti itu, kata Firdaus, membutuhkan keberanian dan kreativitas. Kepala daerah tidak boleh hanya melihat masalah dari satu sisi. Ia harus keluar dari kebiasaan lama dan mencari jalan baru.

Pengalaman di korporasi, jejaring, dan kemampuan membaca peluang menjadi bekal penting. “Orang berani mengambil keputusan karena pengalaman,” ujarnya.

Kisah Firdaus bergerak dari ruang kuliah, kantor korporasi, lalu kantor bupati. Ia tidak menggambarkan perjalanan itu sebagai garis lurus. Ada perubahan medan. Ada perpindahan cara kerja. Ada tuntutan baru. Namun ia melihat semua fase saling memberi bekal.

Kampus mengajarkan disiplin berpikir. Laboratorium mengajarkan tanggung jawab. Telkom mengajarkan adaptasi dan target. Politik mengajarkan kedekatan dengan masyarakat. Pemerintahan menuntut semua bekal itu bekerja bersama.

Sebagai alumni Unhas, Firdaus menitipkan pesan kepada mahasiswa. Ia meminta mereka belajar sungguh-sungguh. Menurut dia, potensi daerah dan negara sangat besar. Tetapi potensi itu hanya bergerak jika ada orang yang mau bekerja, disiplin, dan berkolaborasi.

Ia juga menekankan pentingnya jejaring. Bekerja sendiri mungkin bisa menghasilkan sesuatu, tetapi daya tahannya pendek. Kolaborasi membuat kerja lebih kuat dan lebih panjang.

Karena itu, alumni perlu membangun komunikasi, menjaga hubungan, dan mampu diterima di berbagai kalangan. “Intelektualitas saja tidak cukup. Harus ada kemampuan membangun emosional,” katanya.

Di ujung percakapan, Firdaus tampak ingin menegaskan satu hal: pengabdian tidak selalu dimulai dari panggung politik. Ia bisa tumbuh dari ruang kelas, kebiasaan mengatur waktu, pengalaman bekerja, dan kemampuan membaca kebutuhan orang lain.

Takalar masih berada di awal masa pemerintahannya. Periode 2025-2030 akan menjadi ruang pembuktian bagi visi ekonomi digital, daya saing, reformasi birokrasi, dan penguatan ekonomi lokal. Capaian awal yang ia sebut masih perlu diuji oleh waktu dan dirasakan luas oleh warga.

Namun Firdaus sudah menaruh arah. Ia ingin Takalar bergerak lebih cepat. Ia ingin birokrasi lebih tanggap. Ia ingin potensi daerah tidak berhenti sebagai cerita, tetapi berubah menjadi nilai ekonomi.

Empat puluh tahun setelah masuk Unhas, mahasiswa Teknik Elektro itu kembali ke kampus dengan jabatan baru. Ia datang membawa cerita tentang jalan panjang yang berbelok, tetapi tetap menyimpan satu benang merah: belajar, bekerja, lalu mengabdi. (*)