Oleh: Yusran Darmawan*
Berita duka itu datang menghentak di tengah malam. Cendekiawan, penulis, dan peneliti Dr Sudirman Nasir telah berpulang, dan meninggalkan bentangan karya ilmiah, syair, dan puisi.
Saya mengenal pria kelahiran Soppeng, 31 Desember 1973 itu. Saya ingat persis, di masa ketika gelora reformasi tengah membakar kampus Unhas, Tamalanrea, dia berorasi dengan diksi yang masih mengendap di kepala saya. “Kita adalah generasi terpelajar yang dilahirkan angkatan kurang ajar.”
Para aktivis Unhas mengenalnya dengan nama Sudirman HN. Belakangan saya tahu kalau HN itu adalah singkatan dari Haji Nasir, bapaknya. Di lingkungan kampus, ia lebih dikenal sebagai sastrawan ketimbang mahasiswa Kedokteran Unhas. Dia juga penulis produktif di harian Kompas, sesuatu yang tampak mewah bagi para mahasiswa dan cendekiawan di masa itu.
Interaksi saya dengannya semakin intens ketika saya sempat bergabung sebagai peneliti di Pusat Studi Gizi (PSG) Unhas, yang waktu itu dipimpin Prof. Razak Thaha. Saya mengenalnya sebagai bagian dari sebuah generasi kampus yang tidak membatasi pengetahuan pada ruang kuliah dan disiplin masing-masing.
Kedokteran adalah tempatnya belajar, tetapi buku, sastra, diskusi, dan berbagai persoalan sosial menjadi dunia yang terus memperluas cara pandangnya.
Pada dekade 1990-an, Tamalanrea adalah ruang perjumpaan berbagai komunitas intelektual. Di sanalah Sudirman menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran, tetapi pada saat yang sama bergaul dengan mahasiswa dari berbagai disiplin dan terlibat dalam lingkungan Masyarakat Sastra Tamalanrea, bersama Aslan Abidin, Hendragunawan, dan Muhary Wahyu Nurba.
Dunia bacaannya tidak berhenti pada anatomi, fisiologi, patologi, dan buku-buku kedokteran. Dalam sejumlah kesaksian mengenai kehidupan intelektual mahasiswa pada masa itu, Sudirman HN dikenang melalui tulisan-tulisannya yang memperkenalkan pembaca kepada Fritjof Capra, Ivan Illich, Paulo Freire, hingga Franz Kafka.
Buku Masyarakat Pinggiran, yang pertama kali terbit pada 1996, juga mencantumkan Sudirman HN bersama Joko M sebagai penyunting.
Jejak itu penting untuk memahami pilihan hidupnya kemudian. Sudirman mempelajari tubuh manusia di Fakultas Kedokteran, tetapi pergaulan intelektual memperkenalkannya pada kenyataan bahwa manusia tidak pernah hanya terdiri atas tubuh biologis.
Di luar tubuh ada keluarga, kebudayaan, kemiskinan, pendidikan, pekerjaan, lingkungan, dan berbagai struktur sosial yang menentukan bagaimana seseorang menjadi sehat, jatuh sakit, memperoleh pertolongan, atau justru tersingkir.
Pada sebuah titik, Sudirman mengambil keputusan yang tidak biasa. Ia tidak meneruskan jalur konvensional untuk menjadi dokter. Pilihan itu justru membawanya menuju kesehatan masyarakat, sebuah wilayah ilmu yang memberinya kesempatan melihat manusia tidak hanya melalui apa yang terjadi di dalam tubuh, tetapi juga melalui dunia sosial yang mengelilinginya.
Ketika Manusia Lebih Besar daripada Penyakitnya
Bertahun-tahun kemudian, ketika ditanya mengenai awal ketertarikannya terhadap penelitian, Sudirman mengenang masa ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas. Beberapa dosen yang baru kembali setelah menyelesaikan pendidikan doktoral di luar negeri memberikan kesan mendalam kepadanya.
Penelitian dibawa masuk ke ruang kuliah sebagai cara mempertanyakan sesuatu dan memahami dunia. Dua figur yang pernah disebut Sudirman sebagai mentor penting dalam perjalanan akademiknya adalah Prof. Irawan Yusuf dan Dr. Cahyono Kaelan.
Persoalan yang kemudian menarik perhatiannya bukanlah penyakit dalam pengertian klinis yang sempit. Ia tertarik kepada kehidupan orang dengan HIV/AIDS.
Pertanyaannya bukan hanya mengenai apa yang dilakukan virus terhadap tubuh seseorang, tetapi bagaimana HIV mengubah kehidupan sehari-hari, hubungan dengan keluarga dan lingkungan sosial, serta cara seseorang menjalani hidup di tengah stigma dan ketakutan yang pada masa itu sangat kuat.
Di sinilah jejak Sudirman HN yang membaca sastra dan ilmu sosial semakin terlihat. Baginya, manusia tidak cukup dipandang sebagai pasien atau angka dalam statistik kesehatan. Setiap orang mempunyai riwayat, lingkungan sosial, rasa takut, harapan, dan cerita yang tidak sepenuhnya dapat diterangkan melalui diagnosis medis.
Ketertarikan itu membawanya semakin dalam kepada persoalan narkoba dan HIV/AIDS. Sejak pertengahan 1990-an ia telah terlibat dalam kegiatan pencegahan narkoba dan HIV di Indonesia. Pada masa ketika HIV/AIDS masih sering dibungkus stigma moral,
Sudirman justru mendekati kelompok yang kerap dijauhi masyarakat. Ia masuk ke lingkungan pengguna narkoba, berbicara dengan anak-anak muda, mendengarkan pengalaman mereka, dan mencoba memahami dunia sosial yang melahirkan berbagai perilaku berisiko.
Pengalaman itu kemudian menemukan rumah intelektualnya ketika Sudirman melanjutkan pendidikan ke Australia.
Stories from the Lorong
Di University of Melbourne, Sudirman menyelesaikan Master in Women's Health pada 2006 dan kemudian Ph.D. pada 2011. Namun meskipun berada ribuan kilometer dari Makassar, pikirannya justru kembali kepada salah satu ruang paling khas di kota itu: lorong.
Lorong adalah wajah Makassar yang tidak selalu terlihat dari jalan-jalan utamanya. Di balik jalan besar terdapat gang-gang sempit tempat keluarga menjalani kehidupan, anak-anak bermain, pedagang kecil mencari penghidupan, anak muda berkumpul, persahabatan terbentuk, dan konflik terjadi.
Bagi Sudirman, lorong bukan sekadar tempat tinggal, melainkan lingkungan sosial yang ikut membentuk pilihan dan perilaku manusia.
Tesis masternya berjudul Stories from the Lorong: Drug Subculture and the Social Context of HIV-risk Behaviours among Intravenous Drug Users in Makassar, Indonesia. Penelitian itu kemudian berkembang dalam disertasinya, Stories from the Lorong: Drug Use and Non-drug Use among Young People in a Slum Area in Makassar, Indonesia.
Pilihan kata stories dalam kedua judul itu terasa penting. Seorang anak muda yang dahulu bergaul dengan sastra kini menjadi ilmuwan, tetapi ia masih memulai pekerjaannya dengan mendengarkan cerita manusia.
Sudirman tidak melihat penggunaan narkoba semata-mata sebagai kelemahan individu atau persoalan moral. Ia mencoba memahami lingkungan yang memungkinkan perilaku itu tumbuh. Kemiskinan, pengangguran, kelompok pergaulan, budaya jalanan, identitas anak muda, serta konstruksi keberanian dan maskulinitas menjadi bagian dari penjelasannya.
Salah satu penelitiannya membahas lorong sebagai risk environment dan menunjukkan bagaimana konsep lokal mengenai rewa, yang berkaitan dengan keberanian dan maskulinitas, ikut membentuk kehidupan serta perilaku berisiko anak-anak muda.
Menariknya, Sudirman tidak hanya meneliti mereka yang menggunakan narkoba. Ia juga memperhatikan anak muda yang hidup dalam lingkungan serupa tetapi memilih tidak menggunakannya.
Mengapa orang yang tumbuh dalam ruang sosial yang hampir sama dapat mengambil jalan berbeda? Penelitiannya menunjukkan bahwa pendidikan dan kesempatan memperoleh pekerjaan dapat menjadi faktor penting yang melindungi anak muda dari penggunaan narkoba.
Di situlah terlihat salah satu benang merah pemikirannya. Sudirman tidak hanya ingin mengetahui mengapa manusia jatuh ke dalam situasi berisiko, tetapi juga apa yang membuat manusia mampu bertahan.
Kesehatan masyarakat baginya kemudian tidak berhenti sebagai ilmu tentang penyakit, melainkan menjadi cara memahami kondisi yang memungkinkan manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Dari Lorong Menuju Dunia
Perjalanan akademik membawa Sudirman semakin jauh dari Makassar. Ia memperoleh Australian Development Scholarship dan dukungan fellowship dari Nossal Institute for Global Health, mengikuti Asia Leadership Fellow Program di Jepang pada 2017, menjadi visiting researcher di Liverpool School of Tropical Medicine pada 2018, dan terpilih sebagai Eisenhower Global Fellow pada 2019.

-300x189.webp)





-300x156.webp)
