Lifestyle
Sulsel

Dari Stan Sederhana di MTQ Sulsel 2026, Ukiran Bambu Muhammad Rasul Curi Perhatian Publik

Lapak ukiran bambu milik Muhammad Rasul mencuri perhatian publik di ajang MTQ Sulsel 2026 di Kabupaten Maros, Kamis (16/4/2026). (Unhas TV/Muh Nur Alim)

MAROS, UNHAS.TV - Di tengah keramaian Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) 2026 di Kabupaten Maros, tampak sebuah stan sederhana di Jalan Bougenville menarik perhatian pengunjung.

Di sana, Muhammad Rasul memajang aneka kerajinan bambu ukir yang ia buat sendiri, dari gelang, asbak, bingkai foto, hingga hiasan kaligrafi.

Rasul bukan perajin biasa. Ia pernah bekerja di badan usaha milik negara sebelum memutuskan berhenti dan menekuni seni ukir bambu.

Kini, di usia yang tak lagi muda, ia tetap aktif berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk menjual hasil karyanya di beragam event besar, termasuk MTQ Sulawesi Selatan yang berlangsung di Maros, Kamis (16/4/2026).



Lapak ukiran bambu milik Muhammad Rasul mencuri perhatian publik MTQ Sulsel 2026 di Kabupaten Maros. (Unhas TV/Muh Nur Alim)


Setiap produk yang dipamerkan di stannya menunjukkan detail ukiran yang rapi. Seluruhnya dikerjakan secara manual, mulai dari memilih bambu, mengolah bahan, hingga mengukir.

Proses itu memerlukan ketelatenan tinggi, terutama agar bambu kuat dan tahan lama. Tak ada produksi massal dalam usahanya. Karena itu, tiap karya memiliki ciri khas tersendiri.

Di hadapan pembeli, Rasul juga kerap langsung mengukir nama sesuai permintaan. Layanan itu ia berikan tanpa biaya tambahan.

Cara Rasul mengukir ini menjadi daya tarik tersendiri dan membuat stannya nyaris tak pernah sepi. Pengunjung yang datang pun beragam, dari anak-anak hingga orang dewasa.

“Sudah hampir 40 tahun lebih saya menekuni seni ukir bambu. Dulu belajar saat masih bekerja di Pertamina. Saya memutuskan mundur agar bisa bebas berkarya dan berjualan ke berbagai daerah. Semua ini saya buat sendiri, makanya harganya bisa lebih murah,” kata Rasul.

Harga yang relatif terjangkau ikut mendongkrak minat pembeli. Ummul, salah seorang pengunjung, mengaku tertarik karena produknya unik dan bisa dipersonalisasi langsung.

“Saya beli gelang, bisa ukir nama gratis, harganya murah. Bagus dan kreatif, baru pertama kali lihat,” ujarnya.



Lapak ukiran bambu milik Muhammad Rasul mencuri perhatian publik MTQ Sulsel 2026 di Kabupaten Maros. (Unhas TV/Muh Nur Alim)


Bagi Rasul, kerajinan bambu bukan sekadar sumber penghasilan. Di tengah persaingan produk modern, ia tetap bertahan karena menganggap pekerjaan itu sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Dari usaha ini, ia mengaku bisa meraup pendapatan hingga Rp 1 juta per hari, terutama saat mengikuti hadir dalam event-event besar.

Kehadiran Muhammad Rasul di arena MTQ menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak mengenal usia. Dari bekas pegawai BUMN menjadi perajin bambu keliling, ia menunjukkan bahwa ketekunan bisa mengubah keterampilan sederhana menjadi jalan hidup yang terus bertahan.

(Muh Nur Alim / Unhas TV