News
Opini
Travel

Davos 2026: Dunia yang Terfragmentasi dan Upaya Mencari Dialog Baru

undefined

Laporan EKA SASTRA dari World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss*

Salju tipis menutupi atap-atap bangunan kayu di Davos ketika iring-iringan kendaraan dengan pengamanan ketat melintas di jalan-jalan sempit kota pegunungan itu.

Di lobi hotel, para delegasi bergerak cepat dari satu pertemuan ke pertemuan lain, dengan kartu identitas tergantung di leher, membawa map, laptop, dan agenda yang padat.

Di sudut-sudut kota, ruang diskusi formal dan percakapan informal berlangsung bersamaan, menciptakan denyut khas yang hanya muncul setahun sekali, saat Davos menjadi pusat perhatian dunia.

Di kota kecil inilah World Economic Forum (WEF) 2026 resmi dibuka. WEF merupakan forum tahunan yang mempertemukan para pemimpin negara, pelaku bisnis global, akademisi, dan organisasi internasional untuk membahas isu-isu strategis dunia.

Mulai dari ekonomi, geopolitik, teknologi, hingga perubahan iklim. Davos kembali menjadi ruang pertemuan para pengambil keputusan global, di tengah ketidakpastian yang semakin kompleks dan saling terkait.

Forum tahun ini mengusung tema A Spirit of Dialogue. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan cerminan kondisi dunia saat ini yang kian terfragmentasi secara geopolitik, terbelah secara ekonomi, serta mengalami penurunan kepercayaan publik terhadap institusi, baik negara maupun pasar.

Dunia dalam Kondisi Polycrisis

Diskusi hari pertama WEF 2026 memperlihatkan bahwa dunia sedang menghadapi apa yang disebut sebagai polycrisis, yakni krisis yang tidak berdiri sendiri, melainkan saling bertumpuk dan saling memperkuat dampaknya.

Dunia tidak lagi bergerak dari satu krisis ke krisis lain secara terpisah, tetapi berada dalam pusaran persoalan yang hadir bersamaan, menekan negara, pasar, dan masyarakat dalam waktu yang sama.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global kini berkelindan dengan ketegangan geopolitik yang terus membayangi. Rivalitas kekuatan besar, konflik kawasan yang berkepanjangan, serta fragmentasi perdagangan internasional membuat rantai pasok semakin rapuh dan arus investasi lebih berhati-hati.

Biaya ekonomi dari ketegangan politik kian nyata, sementara ruang fiskal banyak negara justru semakin menyempit.

Di lapisan sosial, ketimpangan yang melebar memperkuat rasa ketidakadilan dan mendorong polarisasi politik. Pertumbuhan yang tidak inklusif melahirkan kelas menengah yang rapuh dan kelompok rentan yang semakin terpinggirkan.

Dalam situasi ini, kepercayaan terhadap elite dan institusi publik ikut terkikis, membuka ruang bagi populisme dan politik identitas.

Sementara itu, disrupsi teknologi dan krisis lingkungan bergerak bersamaan, menambah kompleksitas persoalan global. Otomasi dan kecerdasan buatan mengubah struktur pekerjaan lebih cepat daripada kemampuan sistem sosial untuk beradaptasi, sementara perubahan iklim mengancam ketahanan pangan dan stabilitas sosial.

Transisi hijau yang seharusnya menjadi solusi pun memunculkan konflik baru, mulai dari perebutan sumber daya strategis hingga perdebatan tentang pembagian beban perubahan.

Laporan Global Risks Report 2026 yang dirilis WEF menjadi rujukan utama dalam pembukaan forum. Laporan tersebut menegaskan bahwa konfrontasi ekonomi global, melalui perang tarif, pembatasan investasi, dan kontrol rantai pasok, kini dipandang sebagai risiko terbesar bagi stabilitas dunia, bahkan melampaui konflik bersenjata konvensional.

Kepercayaan sebagai Isu Sentral

Dari perspektif akademik, diskusi di Davos pada hari pertama menegaskan satu hal penting, bahwa krisis global hari ini bukan hanya soal perlambatan ekonomi, tetapi juga krisis kepercayaan.

Ketika kepercayaan publik terhadap institusi menurun, hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat ikut terganggu, sehingga kebijakan yang secara teknokratis dianggap rasional pun kerap kehilangan legitimasi sosial.

Dalam situasi seperti itu, negara akan lebih sering berhadapan dengan resistensi publik, sementara pasar merespons dengan meningkatkan premi risiko dan menahan ekspansi.

Akibatnya, ruang gerak kebijakan semakin sempit, koordinasi global melemah, dan upaya pemulihan justru berjalan lebih lambat karena dibayangi sikap saling curiga di antara para aktor ekonomi dan politik.

WEF 2026 menempatkan dialog sebagai kebutuhan struktural, bukan sekadar pilihan moral. Dialog dipandang penting untuk memulihkan koordinasi global yang melemah akibat fragmentasi politik dan ekonomi yang kian tajam.

Relevansi bagi Indonesia

Bagi Indonesia, pesan dari hari pertama WEF terasa sangat relevan. Tantangan ke depan bukan hanya menjaga laju pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa pembangunan berjalan dengan legitimasi sosial yang kuat.


>> Baca Selanjutnya