
Pertumbuhan yang tidak diiringi rasa keadilan dan keterlibatan publik justru berisiko melahirkan ketegangan sosial, terutama di tengah perubahan struktur ekonomi, urbanisasi cepat, dan tekanan biaya hidup yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam konteks ini, kualitas institusi publik menjadi penentu utama. Kebijakan yang baik di atas kertas tidak akan efektif jika tidak didukung oleh birokrasi yang transparan, penegakan hukum yang konsisten, serta koordinasi antarlembaga yang solid.
Ketika kebijakan berubah-ubah atau pesan pemerintah tidak sejalan dengan pengalaman sehari-hari warga, kepercayaan akan cepat terkikis, dan ruang dialog digantikan oleh kecurigaan.
Karena itu, komunikasi publik yang jujur dan terbuka menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan. Masyarakat perlu memahami bukan hanya apa yang dilakukan pemerintah, tetapi juga mengapa kebijakan itu diambil dan risiko apa yang menyertainya.
Di era media sosial dan banjir informasi, kepercayaan tidak bisa lagi dibangun lewat narasi sepihak, melainkan melalui keterbukaan, partisipasi, dan kemampuan negara untuk mendengar suara warganya.
Kehadiran Indonesia dalam forum global seperti WEF penting bukan semata untuk menarik investasi, melainkan juga untuk menyampaikan narasi pembangunan yang menempatkan pertumbuhan, keadilan sosial, dan keberlanjutan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Menjelang senja, salju turun semakin rapat, menutup jejak langkah para delegasi yang sejak pagi berpindah dari satu ruang pertemuan ke ruang lainnya. Lampu-lampu kota Davos menyala perlahan, memantul di jalanan yang memutih, sementara percakapan tentang masa depan dunia masih terus berlanjut di balik dinding hotel dan ruang konferensi.
Di tengah keheningan pegunungan Alpen yang dingin, terasa jelas bahwa pekerjaan besar justru baru saja dimulai.
Dialog yang dibicarakan di Davos tidak berhenti di podium dan panel diskusi, tetapi menunggu untuk diterjemahkan menjadi kebijakan, keberanian politik, dan perubahan nyata di negara masing-masing.
Dunia boleh berkumpul di kota kecil ini, tetapi harapan dan tanggung jawabnya tersebar jauh melampaui batas-batas salju yang kini kian menebal.
*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin








