Lingkungan
Program
Unhas Speak Up

DBD Masih Mengancam Meski Kasus Menurun, Pakar Ingatkan Bahaya Telat Mengenali Gejala Awal

Guru Besar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. drg. A. Arsunan Arsin, M.Kes., CWM. (dok unhas tv)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia meskipun jumlah kasus secara nasional menunjukkan tren penurunan.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat, sejak Januari hingga Oktober 2025 terdapat 131.393 kasus DBD dengan 544 kematian.

Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 230.397 kasus dengan 1.327 kematian. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penurunan tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah.

Guru Besar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. drg. A. Arsunan Arsin, M.Kes., CWM., menegaskan bahwa DBD bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama curah hujan dan kelembaban.

Ia menyebut, meskipun kasus sempat menurun, potensi peningkatan tetap terbuka lebar hingga akhir tahun, khususnya di wilayah endemik seperti Makassar dan daerah perkotaan lainnya.

“Penyakit ini sebenarnya sudah lama menjadi penyakit endemik. Artinya, dia selalu ada di sekitar kita. Tahun ini bisa menurun, tahun depan bisa meningkat lagi. Sangat tergantung pada faktor lingkungan dan perilaku masyarakat,” ujar Prof. Arsunan.

Lebih jauh, Prof. Arsunan menjelaskan bahwa demam berdarah kerap dianggap tidak berbahaya karena gejala awalnya menyerupai penyakit ringan seperti flu atau tifoid.

Padahal, kesalahan persepsi inilah yang justru membuat DBD sering berujung fatal akibat keterlambatan penanganan.

“Sebetulnya penyakit ini tidak terlalu berbahaya kalau dipahami dengan baik. DBD termasuk self limiting disease, penyakit yang bisa sembuh sendiri jika ditangani dengan cepat dan tepat," ujarnya.

Hampir 95 persen kasus itu hanya demam dengue biasa. Yang berdarah itu tidak sampai lima persen. Tapi yang menjadi masalah, banyak yang terlambat menyadari,” jelas mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unhas ini.

Menurutnya, fase awal DBD sering kali diabaikan karena demam yang muncul tampak seperti demam biasa.

Kondisi menjadi lebih berbahaya ketika demam menurun pada hari ketiga atau keempat, yang oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai tanda kesembuhan, padahal justru bisa menjadi awal fase kritis.

“Kalau demamnya turun, masyarakat biasanya bersyukur karena merasa sudah sembuh. Padahal itu belum tentu. Pada DBD, justru saat demam turun, virus masih ada di dalam tubuh dan bisa masuk ke stadium yang lebih berat. Inilah yang sering membuat pasien terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan,” kata Prof. Arsunan.

Ia menekankan bahwa gejala lanjutan seperti nyeri kepala hebat, nyeri perut, mual, muntah, hingga munculnya bintik merah harus segera diwaspadai. Jika penyakit sudah memasuki stadium lanjut hingga syok, risiko kematian menjadi sangat tinggi.

“Kalau sudah masuk stadium tiga apalagi stadium empat, itu sudah sangat berbahaya. Banyak kasus kematian, terutama pada anak-anak, terjadi karena terlambat ditangani. Padahal kuncinya sederhana, cepat dikenali dan cepat diberi cairan,” ujarnya.

Karena itu, Prof. Arsunan mengimbau masyarakat agar tidak meremehkan demam, terutama di musim rawan DBD seperti akhir musim hujan dan awal musim kemarau. Ia bahkan menyarankan pendekatan kehati-hatian dalam menyikapi demam.

“Saya selalu sampaikan ke masyarakat, lebih baik kita mengira demam itu demam berdarah tapi ternyata bukan, daripada kita mengira bukan DBD tapi ternyata iya. Karena keterlambatan itulah yang membuat penyakit ini menjadi fatal,” tegasnya.

Selain kewaspadaan individu, Prof. Arsunan juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam pencegahan.

Menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan saat mengalami demam menjadi langkah krusial untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD.

“DBD ini bukan hanya soal virus dan nyamuk, tapi soal perilaku kita. Kalau masyarakat waspada sejak awal, sebenarnya penyakit ini bisa dikendalikan,” pungkasnya.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)