Sport

Dibantai PSG di Kandang Sendiri, Chelsea Dihujani Cemooh Fans dan Krisis Besar

UNGGUL CEPAT - Striker Khvicha Kvaratskhelia membawa PSG unggul cepat dan menghancurkan Chelsea di kandang sendiri di leg kedua Babak 16 Besar Liga Champions di Stadion Stamford Bridge, Rabu (18/3/2026) dini hari. (The Sun/Getty)

LONDON, UNHAS.TV - Chelsea tersingkir dari Liga Champions dengan cara yang paling menyakitkan, dipermalukan di kandang sendiri.

Di Stamford Bridge, Rabu (17/3/2026) dini hari, tim asuhan Liam Rosenior kalah 0-3 dari Paris Saint-Germain dan angkat koper dari babak 16 besar dengan agregat telak 2-8.

Bagi Chelsea, angka itu bukan sekadar skor. Itu adalah salah satu kekalahan terburuk mereka dalam sejarah duel dua leg kompetisi Eropa.

Sementara bagi PSG, hasil tersebut menegaskan bahwa status juara bertahan belum bergeser ke mana-mana. Mereka melaju ke perempat final untuk menghadapi pemenang duel Liverpool kontra Galatasaray.

Ironinya terasa sejak sebelum pertandingan dimulai. Sebagian pendukung Chelsea membentangkan spanduk “Champions of the World”, merujuk kemenangan mereka atas PSG di final Piala Dunia Antarklub tahun lalu.

Namun suasana simbolik itu hanya bertahan beberapa menit. PSG merusak semua ilusi kebangkitan dengan dua pukulan cepat pada seperempat jam pertama.

Gol pertama datang pada menit keenam ketika Khvicha Kvaratskhelia memanfaatkan kesalahan Mamadou Sarr.

Bradley Barcola kemudian menggandakan keunggulan setelah serangan balik cepat yang bermula dari hilangnya bola Moises Caicedo di area tengah.

Dalam waktu 15 menit, malam yang semula ingin dipenuhi semangat pembalasan berubah menjadi pelajaran keras tentang jarak mutu dua tim.

Gol pembuka itu juga langsung menyeret sorotan ke keputusan Rosenior. Ia menurunkan Sarr, bek tengah berusia 20 tahun yang baru ditarik pulang dari masa pinjamannya di Strasbourg pada Januari, sebagai bek kanan dalam debutnya di Liga Champions.

Pilihan Sarat Risiko

Pilihan itu tampak berisiko sejak awal dan menjadi semakin mahal ketika sentuhan Sarr justru mengarah ke gawang sendiri, memberi Kvaratskhelia ruang untuk merebut bola dan menaklukkan Robert Sanchez dengan kaki kiri.

Pada gol kedua, kesalahan yang datang dari Caicedo memperlihatkan rapuhnya sisi lain Chelsea: ketika lini tengah kehilangan bola, PSG cukup tajam untuk mengubah satu transisi menjadi hukuman.

Warren Zaire-Emery memulai serangan, Achraf Hakimi mengalirkannya, lalu Barcola menyelesaikannya dengan sepakan setengah voli ke sudut atas gawang.

Chelsea bukannya tanpa perlawanan. Mereka sempat mencoba merespons melalui Enzo Fernandez, Pedro Neto, Cole Palmer, dan Joao Pedro.

Beberapa peluang memaksa Matvei Safonov melakukan penyelamatan penting. Namun jumlah tembakan tak pernah benar-benar berbanding lurus dengan ancaman.

Reuters mencatat Chelsea melepaskan 18 percobaan, tetapi PSG jarang benar-benar goyah. Mereka justru tetap terlihat nyaman, seolah memahami bahwa pertandingan sudah nyaris selesai bahkan sebelum turun minum.

Ketika Senny Mayulu, pemain pengganti berusia 19 tahun, mencetak gol ketiga pada menit ke-62, yang tersisa hanyalah soal seberapa keras malam itu akan dikenang di London barat.

Di tribun, kegelisahan berubah menjadi penolakan terbuka. Boos terdengar ketika Rosenior menarik Cole Palmer, Joao Pedro, dan Enzo Fernandez sekaligus, dan sebagian penonton memilih meninggalkan stadion lebih awal.

Sejumlah laporan pertandingan juga mencatat memburuknya suasana di Stamford Bridge, dengan kemarahan penonton mengarah bukan hanya kepada tim, melainkan juga kepada arah klub secara keseluruhan.

Bila ada yang paling telanjang dari dua pertemuan ini, itu bukan semata skor, melainkan perasaan bahwa Chelsea sedang berusaha mengejar lawan yang sudah berada beberapa langkah di depan.

Rosenior, yang baru ditunjuk pada Januari 2026 lalu, tak membantah bahwa kekalahan ini berakar pada kesalahan elementer. Setelah laga, ia mengakui PSG terlalu klinis dan Chelsea terlalu murah hati dalam memberi ruang bagi lawan.

Akui Salah Menurunkan Sarr

>> Baca Selanjutnya