LONDON, UNHAS.TV - Manchester City menutup final Piala Liga Inggris dengan kemenangan yang terasa lebih besar dari sekadar meraih sebuah trofi. Di Stadion Wembley, Minggu (22/3/2026) malam, City menaklukkan Arsenal 2-0 lewat dua gol Nico O’Reilly.
Tropi tersebut bukan hanya mengantar Pep Guardiola meraih trofi kelimanya di ajang ini, melainkan juga mengirim pesan bahwa timnya belum habis di jalur kompetisi Liga Inggris.
Laga itu semula diperkirakan menjadi panggung peralihan kuasa. Arsenal datang dengan reputasi sebagai tim yang paling rapi, paling efisien, dan paling konsisten dalam banyak bulan terakhir.
Mikel Arteta membawa tim yang tampak yakin dengan proses, disiplin, dan struktur permainan mereka. Tapi Minggu itu, yang tampak justru batas dari pendekatan yang selama ini membuat Arsenal terlihat tak tergoyahkan.
City tidak langsung mendominasi. Arsenal malah membuka pertandingan dengan keyakinan yang lebih kentara. Baru tujuh menit laga berjalan, peluang terbaik mereka lahir dari rangkaian serangan yang rapi dari sisi kanan.
Bukayo Saka mengalirkan bola ke Ben White, lalu Martin Zubimendi menyodorkan umpan terukur kepada Kai Havertz. Penyerang Jerman itu lolos dalam posisi onside dan berhadapan dengan James Trafford.
Di titik itulah City selamat. Trafford, yang dipilih tampil di Wembley di atas Gianluigi Donnarumma, melakukan tiga penyelamatan beruntun. Ia menahan sontekan pertama Havertz, lalu menggagalkan dua upaya susulan dari Saka.
Itu bukan sekadar penyelamatan, melainkan momen yang mengubah arah pertandingan. Setelah peluang itu, Arsenal tak lagi benar-benar mampu menguji Trafford.
Perlahan, City mulai memindahkan titik berat permainan. Tidak cepat, bahkan cenderung merayap. Namun ketika bola sampai ke Antoine Semenyo di kanan, ancaman mulai terbaca.
Bek Arsenal, Piero Hincapie, lebih dulu mengantongi kartu kuning setelah tekel keras terhadap Matheus Nunes, dan sejak itu sisi kanan City menjadi jalur yang paling hidup.
Peluang terbaik City di babak pertama datang di pertengahan laga. Semenyo melepas umpan silang matang dari sisi kanan.
Erling Haaland berhasil bergerak di depan William Saliba, tetapi gagal menyentuh bola saat si kulit bundar melintas di atas kepalanya.
Dua kali lagi Semenyo mencoba membongkar pertahanan Arsenal, namun Gabriel selalu hadir menutup ruang. Bek Brasil itu menjadi figur paling teguh di lini belakang Arteta sepanjang laga.
Meski begitu, pertandingan babak pertama tetap terasa sesak. Dua tim sama-sama bermain hati-hati, sama-sama takut membuat kesalahan.
Guardiola boleh jadi sedikit lebih puas menjelang turun minum ketika Semenyo kembali lolos dan mengirim bola ke tiang jauh, tetapi Haaland lagi-lagi gagal mengarahkan sundulannya ke gawang.
City Maksimalkan Peluang di Babak Kedua
>> Baca Selanjutnya
PIALA LIGA - Manchester City juara Piala Liga kelima mereka dalam 10 tahun terakhir setelah mengalahkan Arsenal dengan skor 2-0, di Wembley, London, Minggu (22/3/2026). (The Sun/EPA)




-300x189.webp)



