
JUARA - Pemain binaan akademi, Nico O’Reilly, menjadi bintang Man City merebut Piala Liga dengan mengandaskan Arsenal 2-0, Minggu (22/3/2026). (Screenshot The Sun/Getty)
Babak kedua dibuka dalam pola yang nyaris sama, hanya dengan perbedaan mendasar: City akhirnya memaksimalkan peluang. Haaland sempat nyaris lolos setelah menahan Saliba, namun Gabriel kembali membuat blok penting.
Lalu Jeremy Doku menerima umpan silang lapangan dari Nunes. Kepa Arrizabalaga, yang salah membaca pantulan bola di luar kotak penalti, menarik Doku dan diganjar kartu kuning. Wasit menilai posisi Doku terlalu melebar untuk disebut menggagalkan peluang emas.
City terus menekan. Tendangan bebas Semenyo sempat melengkung tipis di luar tiang jauh. Upaya lain dari sisi berlawanan juga belum menemui sasaran. Tapi tekanan itu akhirnya membuahkan hasil pada momen yang justru lahir dari kesalahan elementer.
Rayan Cherki mengirim bola rutin ke kotak penalti. Kepa gagal mengamankannya. Bola lepas dari tangannya, dan O’Reilly bergerak lebih cepat daripada Zubimendi untuk menanduk bola melewati garis.
Gol itu datang seperti hadiah ulang tahun ke-21 yang terlambat beberapa saat, tetapi cukup untuk mengubah suasana pertandingan final.
Empat menit kemudian, kesalahan bek Arsenal kembali dibayar mahal. Dari sisi kiri, Nunes mengirim bola lambung ke tiang jauh. O’Reilly berdiri tanpa pengawalan yang memadai, bahkan berada di depan Saka, lalu menanduk bola masuk untuk kedua kalinya.
Kepa tak punya banyak aksi yang bisa dilakukan kali ini. Di tepi lapangan, Guardiola berlari ke arah pendukung City, menari dalam luapan kegembiraan yang menunjukkan betapa berarti kemenangan itu.
Bagi Guardiola, trofi ini adalah gelar besar ke-32 sepanjang kariernya sebagai manajer, dan separuhnya diraih bersama City. Ia juga meraih Piala Liga kelima, capaian yang menegaskan bahwa musim yang sempat terasa goyah belum menutup kemungkinan apa pun bagi timnya.
Sebaliknya, bagi Arteta, kekalahan ini meninggalkan pertanyaan yang belum selesai. Ia memang pernah memenangi Piala FA pada 2020, tetapi final itu berlangsung tanpa penonton di tengah pandemi.
Sampai kini, ia belum mengangkat trofi di hadapan suporter. Kekalahan di Wembley akan terasa menyakitkan, terutama karena Arsenal datang dengan keyakinan bahwa mereka sudah siap mengambil tropi yang diidamkan.
City merayakan kemenangan dengan keyakinan yang seperti baru ditemukan kembali. Jika final ini semula disebut sebagai panggung pembuktian Arsenal, maka yang pulang membawa bukti justru Guardiola. City masih hidup, dan masih tahu caranya untuk juara. (*)







