News
Unhas Speak Up

Dukung Kemandirian Pangan, Unhas Miliki Inovasi Galur Ayam Lokal Berkualitas

Ketua Tim Peneliti Ayam Alope Unhas, Dr Ir Wempie Pakiding MSc saat hadir dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV, Sabtu (17/1/2026). (unhas tv/ahmad giffary)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) terus mendorong pengembangan inovasi berbasis riset, salah satunya melalui pengembangan ayam Alope Unhas, galur baru ayam lokal hasil penelitian Fakultas Peternakan Unhas.

Ayam Alope Unhas dikembangkan sebagai upaya meningkatkan produktivitas ayam lokal sekaligus mendukung kemandirian bibit unggas nasional.

Kepala Laboratorium Produksi Ternak Unggas Fakultas Peternakan Unhas sekaligus Ketua Tim Peneliti Ayam Alope Unhas, Dr Ir Wempie Pakiding MSc, menjelaskan ayam Alope Unhas merupakan galur ayam lokal yang telah beradaptasi dengan baik di Sulawesi Selatan dan dikembangkan melalui proses riset jangka panjang.

“Ayam Alope Unhas ini adalah galur baru ayam lokal yang dibentuk melalui penerapan teknologi in-off feeding dan seleksi selama kurang lebih enam generasi,” kata Wempie pada program Speak Up Unhas TV, Sabtu (17/1/2026).

Ia menjelaskan, proses seleksi dilakukan secara ketat dengan fokus pada dua aspek utama, yakni aspek kuantitatif dan kualitatif.

Pada aspek kuantitatif, seleksi diarahkan pada peningkatan performa pertumbuhan ayam, termasuk pencapaian bobot badan dalam waktu relatif singkat, efisiensi penggunaan pakan, serta ketahanan terhadap penyakit.

Sementara itu, seleksi kualitatif difokuskan pada keseragaman morfologi ayam. Ayam Alope Unhas memiliki ciri fisik yang relatif stabil, seperti warna bulu yang seragam, warna kaki hitam tanpa bulu, serta bentuk jengger tunggal (single comb).

“Dari sisi morfologi, ayam ini sudah cukup stabil. Itu penting karena menunjukkan bahwa galur ini telah melalui proses seleksi yang matang,” ujarnya.

Wempie mengungkapkan, pengembangan ayam Alope Unhas dilatarbelakangi oleh tingginya keragaman ayam lokal di masyarakat yang selama ini dikembangkan melalui perkawinan acak.

Kondisi tersebut menyebabkan potensi genetik ayam lokal belum termanfaatkan secara optimal, terutama dari sisi produktivitas.

“Indonesia sebenarnya punya potensi genetik ayam lokal yang sangat besar, tetapi karena perkawinannya dilakukan secara acak, performa produksinya cenderung rendah,” jelasnya.

Selain itu, pengembangan ayam Alope Unhas juga didorong oleh ketergantungan Indonesia terhadap bibit unggas ras komersial impor. Meski Indonesia telah swasembada daging unggas, sebagian besar bibit ayam pedaging masih berasal dari luar negeri.

“Hampir 100 persen bibit unggas ras komersial masih impor. Ini menunjukkan kita belum mandiri dalam penyediaan bibit unggas,” kata Dosen Peternakan tersebut.

Melalui ayam Alope Unhas, ia berharap Indonesia secara bertahap dapat memiliki galur ayam lokal unggul yang secara khusus ditujukan untuk produksi daging.

Galur ini diharapkan mampu menjadi alternatif ayam pedaging berbasis sumber daya genetik lokal tanpa mengganggu keberadaan ayam ras komersial yang telah berkembang.

“Ini adalah langkah awal untuk menghasilkan galur ayam lokal unggul yang lebih efisien dan optimal, sehingga ke depan kita bisa lebih mandiri dalam penyediaan bibit unggas,” pungkasnya.

(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)