Oleh: Syamsir Najdmuddin*
Artikel ini membahas konsep ekoteologi sosial dalam horizon irfānī (gnosis Islam) dengan menelaah makna simbol profetik Nabi Muhammad saw. sebagai al-Māḥī (penghapus) dan Nabi Isa a.s. sebagai al-Masih (yang diurapi/penyembuh). Pendekatan yang digunakan bersifat filosofis-tasawuf, dengan menempatkan simbol kenabian bukan sekadar narasi teologis, melainkan struktur makna yang membimbing relasi manusia, Tuhan, dan kosmos. Artikel ini berargumen bahwa simbol al-Māḥī dan al-Masih mengandung visi etis-ekologis yang relevan bagi krisis sosial dan lingkungan kontemporer, terutama dalam membangun kesadaran tanggung jawab kosmik dan solidaritas kemanusiaan.
Krisis ekologis modern bukan semata persoalan teknis atau ekonomi, melainkan krisis makna. Alam direduksi menjadi objek eksploitasi, sementara manusia kehilangan kesadaran dirinya sebagai bagian dari kosmos yang sakral. Dalam konteks ini, ekoteologi hadir sebagai upaya mengembalikan dimensi ketuhanan dalam relasi manusia dengan alam. Namun, ekoteologi yang hanya bersifat normatif-doktrinal sering kali belum menyentuh lapisan kesadaran terdalam manusia.
Tradisi irfānī dalam Islam—yang berpijak pada pengalaman batin, simbol, dan makna metafisik—menawarkan horizon alternatif. Melalui pendekatan simbol profetik, kenabian tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis, tetapi sebagai realitas kosmik yang terus bekerja dalam kesadaran manusia dan tatanan alam. Dalam kerangka ini, Nabi Muhammad saw. sebagai al-Māḥī dan Nabi Isa a.s. sebagai al-Masih merepresentasikan dua arketipe spiritual yang memiliki implikasi sosial dan ekologis.
Kerangka Teoretis: Ekoteologi Sosial dan Irfān
Ekoteologi sosial memadukan kesadaran ekologis dengan tanggung jawab sosial. Alam tidak berdiri netral, melainkan terjalin dengan keadilan, etika, dan spiritualitas.
Dalam tasawuf filosofis, alam dipahami sebagai tajallī (manifestasi) Nama-Nama Tuhan. Kerusakan alam, dengan demikian, mencerminkan kerusakan relasi manusia dengan Yang Ilahi.
Pendekatan irfānī melihat simbol sebagai jembatan antara yang lahir dan yang batin. Simbol profetik bukan metafora kosong, tetapi realitas maknawi yang hidup. Dengan membaca simbol kenabian secara irfānī, ekoteologi tidak berhenti pada ajakan moral, tetapi menumbuhkan kesadaran ontologis bahwa menjaga alam berarti menjaga ayat-ayat Tuhan yang terhampar.
Nabi Muhammad sebagai al-Māḥī: Etika Penghapusan dan Pemurnian Kosmos
Dalam hadis, Nabi Muhammad saw. menyebut salah satu nama beliau sebagai al-Māḥī, yakni yang menghapus kekufuran dan kesesatan. Dalam horizon irfānī, makna al-Māḥī melampaui dimensi teologis-sektarian. Ia menunjuk pada prinsip pemurnian kosmik: penghapusan segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan kerusakan.
Secara ekologis, al-Māḥī dapat dibaca sebagai simbol penghapusan keserakahan manusia terhadap alam. Kerusakan lingkungan berakar pada nafsu eksploitatif yang memutus hubungan etis antara manusia dan bumi. Spirit al-Māḥī menuntut transformasi batin: menghapus ego antroposentris dan menggantinya dengan kesadaran amanah.
Dalam dimensi sosial, al-Māḥī berarti menghapus struktur sosial yang merusak keseimbangan hidup bersama. Ketidakadilan ekologis—di mana kelompok lemah menanggung dampak kerusakan alam—merupakan bentuk modern dari zulm yang harus dihapus melalui etika profetik.

Ilustrasi ini ingin menyampaikan bahwa solusi atas krisis ekologi dan sosial saat ini dapat ditemukan dengan menggali kembali makna mendalam (tasawuf) dari para nabi, di mana spiritualitas batin berbuah pada tindakan nyata dalam merawat alam dan sesama manusia.
Nabi Isa sebagai al-Masih: Spirit Penyembuhan dan Rekonsiliasi Alam
Isa a.s. dalam tradisi Islam dikenal sebagai nabi penuh kasih, penyembuh, dan pembawa ruh kehidupan. Gelar al-Masih secara simbolik menunjuk pada fungsi penyembuhan—bukan hanya jasmani, tetapi juga kosmik. Dalam perspektif tasawuf, penyembuhan berarti mengembalikan sesuatu pada fitrahnya.
Krisis ekologis dapat dipahami sebagai penyakit kosmos akibat disharmoni manusia dengan alam. Spirit al-Masih merepresentasikan etika penyembuhan: merawat bumi, memulihkan ekosistem, dan membangun relasi penuh rahmah dengan seluruh makhluk. Dalam kesadaran irfānī, kasih sayang kepada alam adalah pancaran kasih sayang Ilahi.
Secara sosial, simbol al-Masih menuntun pada rekonsiliasi: antara manusia dan alam, antara sains dan spiritualitas, serta antara pembangunan dan keberlanjutan. Penyembuhan ekologis tidak mungkin tercapai tanpa penyembuhan relasi sosial.
Dialektika al-Māḥī dan al-Masih: Visi Ekoteologi Sosial Profetik
Dalam horizon irfānī, al-Māḥī dan al-Masih bukan simbol yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Al-Māḥī bekerja pada ranah dekonstruksi—menghapus struktur batil—sementara al-Masih bekerja pada ranah rekonstruksi—menyembuhkan dan menghidupkan.
Ekoteologi sosial membutuhkan kedua dimensi ini. Penghapusan tanpa penyembuhan melahirkan kekosongan, sementara penyembuhan tanpa penghapusan membiarkan akar kerusakan tetap hidup. Visi profetik yang utuh adalah visi transformasi: dari batin manusia hingga tatanan kosmos.
Relevansi Kontemporer: Dari Kesadaran Mistikal ke Aksi Sosial
Pendekatan irfānī sering dikritik sebagai terlalu batiniah dan menjauh dari praksis sosial. Namun, justru dalam ekoteologi sosial, irfān menemukan aktualisasinya. Kesadaran mistikal yang memandang alam sebagai ayat Tuhan melahirkan etika ekologis yang mendalam dan berkelanjutan.
Simbol al-Māḥī mendorong kritik terhadap sistem ekonomi dan politik yang eksploitatif, sementara simbol al-Masih mengilhami gerakan perawatan, konservasi, dan solidaritas ekologis. Dengan demikian, irfān tidak berhenti pada kontemplasi, tetapi berbuah pada tindakan profetik.
Ekoteologi sosial dalam horizon irfānī menawarkan paradigma alternatif dalam menghadapi krisis ekologis dan sosial. Melalui pembacaan simbol profetik Nabi Muhammad saw. sebagai al-Māḥī dan Nabi Isa a.s. sebagai al-Masih, ekoteologi tidak hanya menjadi wacana etis, tetapi jalan transformasi batin dan sosial.
Al-Māḥī mengajarkan pemurnian dan penghapusan struktur kerusakan, sementara al-Masih menuntun pada penyembuhan dan rekonsiliasi kosmik. Dalam sintesis keduanya, lahir visi profetik tentang manusia sebagai khalifah yang sadar, penyembuh bumi, dan penjaga harmoni kosmos.
*Penulis adalah Penghulu Kemenag Maros, Praktisi Tarekat Khalwstiyah Samman, Anggota Majelis Tarbiyah Ekoteologi dan Moderasi Beragama Kab Maros
Foto penulis berlatar masjid dan gereja ini merepresentasikan dialog profetik dalam horizon irfānī, yang memadukan simbol Nabi Muhammad sebagai al-Māḥī dan Isa al-Masih sebagai pembawa rahmat. Keduanya dimaknai sebagai fondasi etika spiritual dan ekoteologi sosial bagi pemulihan relasi manusia, alam, dan Tuhan.








