Karier
Mahasiswa

Era AI Ubah Profesi Akuntan, ACCESMA 2026 Tekankan Etika dan Keterampilan Digital Mahasiswa

PROFESI AKUNTAN - Ratusan mahasiswa mengikuti Seminar Nasional ACCESMA 2026 di Auditorium Prof A. Amiruddin, Unhas, Makassar, Minggu (20/9/2026). Seminar membahas peran akuntan menghadapi AI melalui penguatan keterampilan dan etika digital. (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang bergerak cepat mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja, termasuk profesi akuntan.

Mahasiswa kini dituntut tidak hanya menguasai keterampilan digital, tetapi juga memahami etika dalam menggunakan teknologi.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam Seminar Nasional ACCESMA 2026 yang digelar Ikatan Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin di Auditorium Profesor A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Minggu (20/9/2026).

Seminar bertema “The Silent Takeover: Redefining the Accountant’s Role in a World Driven by Digital Disruption and Artificial Intelligence” itu diikuti ratusan mahasiswa.

Forum membahas perubahan peran akuntan ketika sejumlah pekerjaan teknis mulai dapat dikerjakan dengan bantuan teknologi digital dan AI.

Panitia menghadirkan dua pembicara, yakni Koordinator Divisi Hubungan Manajemen Eksekutif Ikatan Akuntan Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan, Mustakim Muchlis, serta Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Sulawesi Selatan, Sultan Rakib.

Sultan mengatakan derasnya perkembangan AI harus diimbangi peningkatan literasi digital mahasiswa. Menurut dia, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup jika tidak disertai pemahaman mengenai batas etika dalam pemanfaatannya.

“Selain meningkatkan digital skill, mahasiswa juga harus meningkatkan digital ethic,” kata Sultan dalam pemaparannya.

Ia mengingatkan AI tidak semestinya digunakan untuk menggantikan seluruh proses berpikir manusia, terutama dalam aktivitas akademik.

Teknologi, menurut dia, perlu ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas kerja, bukan sebagai pengganti kemampuan analisis dan tanggung jawab manusia.

Sultan menilai perkembangan AI juga tidak serta-merta menghilangkan relevansi profesi akuntan. Perubahan teknologi justru mendorong akuntan bergerak dari pekerjaan yang dominan bersifat teknis menuju fungsi yang lebih analitis dan strategis.

Pekerjaan seperti input transaksi, pencatatan pemasukan, maupun pengeluaran semakin dapat ditangani sistem digital. Kondisi itu membuat akuntan perlu memperkuat kemampuan sebagai penasihat keuangan, analis, dan mitra dalam penyusunan strategi bisnis.

Kemampuan tersebut, kata Sultan, perlu didukung keterampilan komunikasi, termasuk public speaking. Kombinasi antara kompetensi teknis, analisis bisnis, pemahaman teknologi, dan kemampuan komunikasi dinilai akan semakin dibutuhkan di tengah perubahan dunia kerja.

Melalui ACCESMA 2026, mahasiswa diharapkan mampu membaca transformasi profesi akuntansi secara lebih kritis. Perkembangan AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, selama penggunaannya tetap berpijak pada kompetensi, etika digital, serta pertimbangan manusia.

(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)