Lingkungan
Sosial

Fakultas Kehutanan Unhas Gelar Kuliah Umum, Bahas Pencegahan Bencana Berbasis Ekologi

KULIAH UMUM - Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar kuliah umum bertema “Mencegah Bencana Hidrometeorologi melalui Perencanaan Wilayah Berbasis Ekologi”, Kamis (15/10/2026). (Unhas TV / Husnul Hatima)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar kuliah umum bertema “Mencegah Bencana Hidrometeorologi melalui Perencanaan Wilayah Berbasis Ekologi”, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Thematic Research Group Perencanaan dan Sistem Informasi Kehutanan (PSIK) Fakultas Kehutanan Unhas ini berlangsung di Aula Lantai I Fakultas Kehutanan Unhas.

Kuliah umum ini membahas pentingnya perencanaan wilayah berbasis ekologi untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan dan hasil penelitian untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai kebencanaan dan pengelolaan lingkungan.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan Unhas, Prof Dr Ir Syamsu Rijal SHut MSi IPU menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana diseminasi hasil penelitian dan pengetahuan kepada masyarakat luas melalui lingkungan akademik, khususnya mahasiswa.

“Diseminasi itu bagaimanapun hasil penelitian itu harus sampai ke banyak masyarakat luas. Diseminasi mungkin kami sampaikan ke mahasiswa, tapi nanti mahasiswa bisa menyebar ke mana-mana informasi dan pengetahuannya,” jelasnya.

Menurut Syamsu, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi penelitian yang telah dibangun selama tiga hingga empat tahun.



KULIAH UMUM - Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar kuliah umum bertema “Mencegah Bencana Hidrometeorologi melalui Perencanaan Wilayah Berbasis Ekologi”, Kamis (15/10/2026). (Unhas TV / Husnul Hatima)


Ia menekankan pentingnya kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa. Melalui kolaborasi tersebut, hasil penelitian dan pengetahuan dari berbagai wilayah dapat dibagikan untuk memperkaya pembelajaran.

Sementara itu, Dr Heni Masruroh SPd MSc, dosen Departemen Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang (UM) tampil sebagai pembicara pada Kuliah Umum tersebut.

Heni menjelaskan bahwa pemetaan sensitivitas wilayah dapat menjadi dasar dalam perencanaan kebijakan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

Menurutnya, sensitivitas suatu wilayah tidak hanya berkaitan dengan faktor geofisik, tetapi juga melibatkan faktor manusia. Ia menambahkan bahwa resiliensi dan ketahanan merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam memahami sensitivitas wilayah.

Heni juga menjelaskan bahwa peta sensitivitas dapat membantu mengidentifikasi wilayah dengan tingkat sensitivitas tinggi, sedang, dan rendah.

Wilayah dengan sensitivitas tinggi perlu mendapat perhatian khusus dalam pengelolaannya agar langkah mitigasi dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah.

Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Karhutla

Dalam pembahasan mengenai kebakaran hutan dan lahan, Akbar, yang pernah bertugas di bidang penanggulangan kebakaran hutan Kementerian Kehutanan, menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor biofisik, manusia, dan ekologi dalam perencanaan wilayah.

“Saya kira setiap perencanaan itu mesti juga memasukkan tidak hanya faktor biofisik, tapi juga faktor manusianya dan faktor ekologi,” jelasnya.

Menurut Akbar, aktivitas manusia juga perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan kebakaran hutan. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan risiko kebakaran.

“Jadi kegiatan atau aktivitas manusia, sehingga di dalam pencegahan pun mestinya kita juga mengembangkan yang mengikutsertakan masyarakat,” ujarnya.

Akbar turut menjelaskan pendekatan Community-Based Fire Management atau pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat, yang mendorong keterlibatan masyarakat setempat dalam upaya pencegahan dan pengelolaan risiko kebakaran.

Selain pelibatan masyarakat, ia menyoroti pentingnya pemantauan potensi kebakaran melalui sistem deteksi dini. Upaya tersebut perlu didukung dengan kesiapan anggaran, patroli, dan penyuluhan kepada masyarakat agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.

Melalui kuliah umum ini, peserta diajak memahami pentingnya perencanaan wilayah berbasis ekologi, pemetaan sensitivitas, serta pelibatan masyarakat sebagai bagian dari upaya mencegah dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan.

(Husnul Hatima / Unhas TV)