MAKASSAR, UNHAS.TV - Krisis ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mulai memengaruhi aktivitas mahasiswa.
Tidak hanya menghadapi antrean panjang hingga berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), mahasiswa juga harus mengatur ulang jadwal perkuliahan, mengurangi mobilitas, hingga membatasi kegiatan organisasi dan sosial di luar rumah.
Antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU menjadi pemandangan yang semakin sering ditemui. Bagi mahasiswa yang menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi utama menuju kampus, kondisi ini menjadi tantangan baru.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengikuti perkuliahan atau kegiatan akademik harus tersita hanya untuk mendapatkan BBM.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Muh. Nur Aydil Asky, mengaku harus menghabiskan waktu sekitar dua hingga tiga jam setiap kali mengantre BBM.
Ia biasanya mengisi bahan bakar di sejumlah SPBU yang berada di sekitar kawasan kampus Universitas Hasanuddin.
“Kalau mengantri itu mungkin sangat lama, sekitar dua sampai tiga jam. Biasanya saya mengantri di SPBU pintu satu Unhas atau di depan Pertamina Roti O,” ujar Aydil.
Lamanya antrean membuat mahasiswa harus melakukan penyesuaian terhadap aktivitas sehari-hari. Menurut Aydil, keterlambatan mendapatkan BBM dapat berdampak langsung terhadap ketepatan waktu mengikuti perkuliahan, terutama ketika jadwal kampus sudah semakin dekat.
Ia mengaku pernah terlambat menghadiri kegiatan akademik karena harus menghadapi antrean panjang kendaraan di sekitar SPBU.
“Kalau kita lupa isi BBM saat mau ke kampus, kita harus mengisi. Tapi sekarang antreannya sangat panjang. Mau tidak mau supaya tidak terlambat, kita harus antre subuh agar cepat. Namun kadang subuh pun sudah ramai karena ada juga pengemudi ojek online yang mencari nafkah,” katanya.
Bagi sebagian mahasiswa, mengisi BBM sejak dini hari menjadi pilihan untuk menghindari antrean yang lebih panjang. Namun, strategi tersebut tidak selalu berhasil karena tingginya jumlah pengguna kendaraan yang juga memiliki kebutuhan sama.
Selain mengganggu jadwal perkuliahan, kondisi ini juga memengaruhi aktivitas mahasiswa di luar kegiatan akademik. Sebagian mahasiswa mulai mengurangi perjalanan yang dianggap tidak terlalu penting, termasuk kegiatan organisasi, kerja kelompok, maupun aktivitas bersama teman.
Aydil mengatakan dirinya kini lebih memilih mengisi BBM dalam jumlah penuh agar tidak perlu sering kembali mengantre. Ia juga mulai mengurangi kegiatan yang membutuhkan perjalanan menggunakan kendaraan.
“Kalau saya mengisinya seminggu sekali karena setiap mengisi langsung full. Percuma juga kalau kita mengantri lama-lama tetapi tidak isi penuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa kegiatan mahasiswa yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini mulai dialihkan secara daring untuk menghemat penggunaan BBM.
“Kadang kita mengurangi aktivitas organisasi atau kerja kelompok. Beberapa dilakukan secara daring supaya mengurangi penggunaan bensin,” kata Aydil.
Antre Hingga Tiga Setengah Jam
Dampak antrean BBM juga dirasakan mahasiswa lainnya. Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Muhammad Raihan, mengaku harus mengantre hingga tiga setengah jam di salah satu SPBU dekat kampus.
Raihan mengatakan, dirinya mengantre sejak pukul 22.30 hingga sekitar pukul 02.00 dini hari karena kondisi SPBU yang dipenuhi kendaraan.
“Kejadiannya baru tadi malam, antre BBM di depan pintu Unhas. Antre dari jam setengah sebelas sampai jam dua pagi karena seramai itu,” ujar Raihan.
Akibat waktu tunggu yang panjang, Raihan tidak dapat mengikuti kegiatan kampus yang telah dijadwalkan pada pagi hari. Ia mengaku kelelahan setelah pulang larut malam sehingga terlambat bangun.
“Saya sebenarnya mau antre jam sebelas karena punya kegiatan pagi di kampus. Karena antre sampai jam dua, akhirnya pagi saya lambat bangun dan tidak ikut kegiatan,” katanya.
Krisis BBM juga membuat Raihan mengubah kebiasaan penggunaan kendaraan. Jika sebelumnya ia dapat mengisi bahan bakar dua hingga tiga kali dalam satu pekan, kini frekuensi tersebut dikurangi secara signifikan.
“Sebelumnya seminggu bisa isi bensin dua sampai tiga kali. Sekarang karena memang krisis sekali, saya hemat betul. Mungkin satu kali dalam dua minggu karena malas antre,” ujarnya.
Untuk mengurangi konsumsi BBM, Raihan memilih membatasi aktivitas yang tidak bersifat mendesak, seperti bepergian untuk berkumpul bersama teman.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa harus lebih bijak menentukan aktivitas agar persediaan bahan bakar dapat bertahan lebih lama.
Ia berharap pemerintah dapat memperbaiki sistem distribusi BBM agar ketersediaan bahan bakar lebih merata di setiap wilayah. Menurut Raihan, beberapa SPBU mengalami antrean panjang sementara lokasi lain justru mengalami kekosongan stok.
“Pemerintah mungkin bisa meratakan kuota BBM karena ada SPBU yang terus tersedia, tetapi ada juga yang kosong. Sepertinya pembagian kuotanya belum merata,” katanya.
Sementara itu, Aydil berharap masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying yang justru memperpanjang antrean. Ia juga meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan kembali pasokan BBM di Sulawesi Selatan.
Kondisi antrean BBM memperlihatkan bahwa persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan transportasi, tetapi juga berdampak pada sektor pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, mahasiswa berharap distribusi BBM dapat kembali normal sehingga mereka tidak perlu mengorbankan waktu belajar dan kegiatan kampus hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Mahasiswa Hukum Unhas M Raihan (kiri) dan Mahasiswa FISIP Unhas M Nur Aydil Asky. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)





-300x169.webp)


