Internasional

Gara-gara Indonesia, F1 Singapura Terancam Batal Dilaksanakan

Singapore Night Race F1. Foto: Marina Bay Sands

UNHAS.TV - Kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera terus berhembus ke wilayah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina. Asap yang mengandung partikel halus dan beracun ini membuat banyak kegiatan di Malaysia, Singapura, dan Filipina terganggu.

Pihak pemerintah Malaysia sudah memerintahkan penutupan sekolah untuk menghindari peserta didik dan guru terpapar kabut asap. Sejumlah kegiatan di Kota Kuala Lumpur, Malaysia, juga ikut berubah seiring menebalnya kabut asap.

Kabut asap kebakaran hutan juga berpotensi mengagalkan ajang balap Singapore F1 - Formula 1 Night Race yang berlangsung di Marina Bay, 9-11 Oktober 2026. Panitia mencatat, semua tiket untuk ajang ini sudah terjual sehingga diyakini akan dihadiri lebih dari 300 ribu orang. Sejumlah pesohor juga akan tampil pada saat pembukaan seperti JJ Lin, The Killers, Lana Del Rey

Meskipun belum ada pernyataan mengenai dampak gangguan itu namun panitia sudah mengatasi dengan menyediakan lebih banyak masker N95. Panitia juga meminta semua pembalap dan awak tim balap untuk mengurangi kegiatan luar ruangan. 

Seorang pembalap dari tim Cadillac, Valtteri Bottas, sempat menyaksikan kabut asap itu ketika bersepeda dari Sepang, Malaysia, ke Singapura, sejauh 420 km. Perjalanan yang dihabiskan beberapa hari dan malam itu melintasi kawasan hutan, kawasan perkebunan, dan wilayah permukiman. Sejumlah penggemarnya yang menyaksikan perjalanan itu melalui media sosial menjuluki Valtteri sebagai orang dengan "paru-paru baja" karena berani berada di kawasan udara yang tidak sehat.

Sangat Berbahaya

Data Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia per 8 Oktober menunjukkan udara di Kota Palangka Raya di Kalimantan Tengah telah menembus batas Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) kategori sangat berbahaya yakni mencapai 1.231, diikuti Kota Palembang (Sumatra Selatan) yang mencapai 1.148. 

Angka ISPU yang ditetapkan Kementrian Lingkungan Hidup yakni 0-50 termasuk baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-200 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya. Pada angka di atas 300, warga yang berada di lingkungan itu diharuskan segera menyingkir.

Kementrian Kesehatan Indonesia mencatat 175 ribu kasus infeksi saluran pernafasan akut pada rentang Juli hingga September. Angka ini diyakini sudah bertambah karena sampai awal pekan bulan ini, kebakaran di Sumatra dan Kalimantan belum bisa diatasi..(*)