Sport

Gol Cepat Dembele Hancurkan Bayern, PSG Melaju Hadapi Arsenal di Final Budapest



Impian Harry Kane untuk meraih trofi bergengsi Liga Champions itu sirna. Bayern dirugikan oleh keputusan kontroversial wasit dengan tidak memberi penalti. (The Sun/PA)


Mereka memprotes keputusan yang dinilai merugikan, termasuk insiden pelanggaran Mendes dan klaim penalti setelah bola mengenai lengan Joao Neves.

Wasit tidak memberi penalti karena bola lebih dulu mengenai rekan setim Neves sebelum memantul ke lengannya. Keputusan itu membuat kubu Bayern semakin panas.

Direktur olahraga Christoph Freund bahkan masuk ke lapangan saat jeda untuk menyampaikan protes kepada perangkat pertandingan.

Di tengah tekanan itu, Manuel Neuer tetap menjadi sosok paling tenang di kubu Bayern. Ia melakukan penyelamatan penting saat menepis sundulan Joao Neves ke luar lapangan.

Namun atmosfer stadion ikut memanas. Sejumlah penonton melempar gelas dan benda kecil ke arah Dembele ketika frustrasi meningkat.

Bayern bermain dengan tempo tinggi, seolah tidak memiliki waktu penuh untuk mengejar. Jamal Musiala sempat memperoleh ruang di tepi kotak penalti, tetapi tembakannya terlalu mudah dibaca Matvey Safonov. Peluang lain juga gagal memberi hasil karena penyelesaian akhir Bayern tidak setajam biasanya.

Sebaliknya, PSG menunjukkan kedewasaan sebagai juara bertahan. Tim tamu tidak hanya bertahan. Mereka tetap mencari peluang menambah gol melalui Desire Doue dan Kvaratskhelia. Neuer harus kembali bekerja keras untuk menahan beberapa percobaan PSG pada babak kedua.

Pertahanan PSG tampil disiplin. Warren Zaire-Emery, gelandang berusia 20 tahun yang dimainkan sebagai bek kanan menggantikan Achraf Hakimi, menjalankan tugasnya dengan baik.

Marquinhos, kapten sekaligus figur senior di lini belakang, beberapa kali menutup ruang ketika Mendes berada dalam tekanan.

Luis Enrique tampak berhasil menyiapkan PSG untuk skenario yang berbeda. Mereka tidak sekadar mengandalkan permainan menyerang.

Di Munich, PSG memperlihatkan kemampuan bertahan yang rapi, menutup ruang, dan membatasi pergerakan para pemain depan Bayern. Tim yang dikenal agresif itu ternyata juga mampu mengunci salah satu lini serang paling produktif di Eropa.

Kompany mencoba mengubah keadaan dengan memasukkan Nicolas Jackson. Bayern terus menekan, tetapi sentuhan klinis yang mereka tunjukkan di Paris tidak muncul. Luis Diaz dan Olise sempat mendapatkan ruang tembak, namun bola masih mengarah kepada Safonov.

Gol Kane pada masa tambahan waktu hanya menjadi penghibur. Saat bola masuk ke gawang PSG, para pendukung tim tamu sudah mulai menyanyikan La Marseillaise. Suar dan nyanyian mereka menandai kepastian langkah PSG menuju partai puncak.

Bagi Bayern, kekalahan ini menjadi pukulan berat. Mereka gagal memanfaatkan keuntungan bermain di kandang dan harus menerima kenyataan tersingkir dari kompetisi yang selalu menjadi ukuran kebesaran klub. Bagi Kane, final melawan Arsenal yang sempat tampak mungkin kini hilang dari jangkauan.

Bagi PSG, kemenangan ini mempertegas status mereka sebagai tim yang matang. Mereka bukan hanya pemegang gelar, tetapi juga tim yang tahu cara bertahan, menyerang, dan mengelola tekanan. Arsenal kini menjadi lawan terakhir yang harus mereka hadapi.

Mikel Arteta akan membawa Arsenal ke final Liga Champions pertama mereka dalam dua dekade. Namun tantangan yang menunggu bukan sekadar PSG.

Yang menunggu adalah juara bertahan dengan rasa lapar yang belum padam, tim yang dalam dua musim terakhir berkali-kali menghentikan klub Inggris.

Di Budapest, Arsenal harus menemukan cara yang belum banyak ditemukan lawan PSG: membuat sang juara benar-benar goyah. (*)