
PENALTI - Lucas Digne secara tidak sengaja menendang Lamine Yamal dan berbuah penalti. (Screenshot The Sun)
Deschamps mencoba mengubah keadaan setelah jeda. Adrien Rabiot, yang telah menerima kartu kuning, ditarik keluar dan digantikan Manu Kone untuk mendampingi Aurelien Tchouameni di lini tengah.
Pergantian itu dimaksudkan menambah tenaga dan agresivitas. Namun tambahan satu pemain di tengah justru tidak mampu menggeser kendali Spanyol.
Prancis tetap kesulitan mengembangkan serangan. Mbappe tampak tegang ketika memimpin rekan-rekannya memasuki babak kedua.
Ia beberapa kali bergerak melebar untuk mencari bola, tetapi dukungan datang terlambat. Olise dan Barcola pun tidak memperoleh cukup ruang untuk berlari di belakang pertahanan lawan.
Ketika Deschamps memasukkan Desire Doue, ruang di lini belakang Prancis semakin terbuka. Spanyol segera memanfaatkannya. Porro melakukan kombinasi umpan satu-dua dengan Olmo, lalu berlari masuk tanpa dikawal.
Kone terlambat mengikuti pergerakannya. Bek Tottenham Hotspur itu menerima bola di dalam kotak penalti dan menyelesaikannya dengan tenang untuk mengubah skor menjadi 2-0.
Gol tersebut mematahkan sisa perlawanan Prancis. Yamal sempat mencetak gol ketiga, tetapi dianulir karena berada dalam posisi offside. Keputusan itu tipis, namun tepat.
Di sisi lain, Cucurella menggagalkan peluang Mbappe dengan membelokkan tembakannya ke samping gawang. Itu menjadi salah satu ancaman pertama Prancis sepanjang pertandingan.
Mbappe juga sempat terjatuh sambil memegang pergelangan kaki setelah terkena tekel Yamal. Namun bahkan ketika mendapat sedikit ruang, kapten Prancis itu tidak mampu membalikkan arah laga.
Pertahanan Spanyol selalu hadir lebih cepat, sementara lini tengah mereka tetap rapat dan tenang mengelola bola.
Wasit Barton sempat menimbulkan perdebatan karena memberi kartu kuning kepada Rabiot setelah menginjak kaki Olmo secara tidak sengaja, tetapi membiarkan pelanggaran Olise terhadap Rodri tanpa hukuman serupa.
Meski demikian, keputusan penalti untuk Spanyol sulit dibantah dan tidak menentukan keseluruhan cerita pertandingan.
Kemenangan ini memperlihatkan mengapa Spanyol menjuarai Eropa dua tahun lalu. Mereka tidak hanya mengandalkan bakat Yamal, tetapi juga organisasi, kesabaran, dan kecerdasan membaca pertandingan.
De la Fuente memenangkan pertarungan taktik dengan membuat Prancis bermain sesuai keinginan Spanyol.
Prancis kini harus menuju Miami untuk menjalani pertandingan perebutan tempat ketiga pada Sabtu (19/7/2026).
Bagi tim yang datang sebagai favorit, laga itu menjadi penutup yang jauh dari harapan. Mereka kalah dalam intensitas, penguasaan ruang, dan keberanian mengambil keputusan.
Spanyol, sebaliknya, melangkah ke final di New York dengan kepercayaan diri penuh. Argentina atau Inggris menyusul ke final, tantangan terlihat jelas.
Mereka harus menembus tim yang hanya memberi sedikit ruang, jarang panik, dan mampu menghukum kesalahan sekecil apa pun. (*)





-300x169.webp)

