News
Sosial

Indonesia Punya 77 Sumber Karbohidrat, Mengapa Masih Bergantung pada Beras?

SUMBER PANGAN - Indonesia memiliki 77 jenis sumber bahan pangan karbohidrat. Lantas kenapa masih bergantung pada beras? (Dok Unhas TV/ChatGPT)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia. Dari Sabang hingga Merauke, berbagai jenis tanaman pangan tumbuh dan menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat setempat.

Namun di tengah melimpahnya sumber pangan tersebut, sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa negara yang memiliki begitu banyak pilihan pangan lokal masih menjadikan nasi sebagai satu-satunya tolok ukur makanan pokok?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam program Unhas Speak Up bertema “Mengenal Pangan Fungsional dan Perannya untuk Gaya Hidup Sehat” yang menghadirkan Ketua Functional Food Technology Research Group (TRG) Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Meta Mahendradatta.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Meta menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara mega biodiversitas yang memiliki keragaman sumber pangan sangat besar. Kekayaan tersebut tidak hanya mencakup buah-buahan, sayuran, dan rempah-rempah, tetapi juga berbagai sumber karbohidrat yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

“Indonesia mungkin termasuk negara mega biodiversitas karena memiliki begitu banyak bahan pangan yang dapat dikembangkan. Saya pernah melihat data yang menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 77 jenis sumber karbohidrat yang tersebar di berbagai daerah,” ungkap Prof. Meta.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pilihan sumber pangan masyarakat Indonesia sesungguhnya jauh lebih beragam dibandingkan yang selama ini umum dikonsumsi. Namun dalam praktiknya, beras masih menjadi komoditas pangan yang paling dominan.

Di banyak daerah, muncul anggapan bahwa seseorang belum benar-benar makan jika belum mengonsumsi nasi. Pola pikir inilah yang dinilai menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya diversifikasi pangan nasional.

Padahal, sebelum beras menjadi pangan pokok utama secara nasional, banyak daerah di Indonesia telah memiliki sumber karbohidrat lokal masing-masing. Masyarakat di Papua dan Maluku mengenal sagu sebagai makanan pokok.

Di sejumlah wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara, jagung pernah menjadi sumber pangan utama. Sementara di berbagai daerah lain, singkong, ubi jalar, talas, dan berbagai umbi-umbian menjadi bagian penting dari pola konsumsi masyarakat.

Menurut Prof. Meta, kekayaan sumber pangan tersebut seharusnya menjadi modal besar untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Ketergantungan terhadap satu komoditas pangan membuat sistem pangan nasional lebih rentan terhadap berbagai gangguan, mulai dari perubahan iklim, gangguan produksi, hingga fluktuasi harga di pasar.

“Negara kita sangat kaya akan bahan pangan lokal. Itu menjadi hal yang sangat penting untuk dikembangkan karena setiap daerah memiliki sumber daya yang berbeda-beda dan semuanya berpotensi mendukung ketahanan pangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Meta menilai bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia tidak hanya penting dari sisi ketersediaan pangan, tetapi juga membuka peluang besar dalam pengembangan pangan fungsional.

Berbagai bahan pangan lokal diketahui memiliki kandungan nutrisi dan komponen bioaktif yang dapat memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan.

Pangan fungsional sendiri merupakan makanan atau minuman yang selain mengandung nutrisi dasar seperti karbohidrat, protein, dan lemak, juga memiliki komponen aktif yang mampu memberikan manfaat kesehatan tambahan, seperti meningkatkan daya tahan tubuh atau membantu mencegah penyakit tertentu.

Dalam konteks ini, berbagai sumber pangan lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan fungsional yang bernilai tinggi.

Sagu, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang memiliki karakteristik kesehatan tertentu.

Begitu pula dengan ubi, jagung, dan berbagai bahan pangan lokal lainnya yang kaya akan serat, vitamin, mineral, maupun senyawa bioaktif.

Melalui Functional Food Technology Research Group, Universitas Hasanuddin saat ini terus mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal dalam berbagai penelitian dan inovasi.

Riset Kembangkan Beras Analog

Salah satu riset yang sedang dikembangkan adalah beras analog, yaitu produk pangan yang menyerupai bulir beras tetapi dibuat dari bahan non-padi seperti sagu, singkong, dan ubi.

Menurut Prof. Meta, pengembangan beras analog menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali bahan pangan lokal kepada masyarakat dalam bentuk yang lebih familiar.

Dengan bentuk yang menyerupai nasi, masyarakat diharapkan lebih mudah menerima alternatif pangan selain beras tanpa harus mengubah kebiasaan makan secara drastis.

“Beras analog dibuat dari bahan-bahan lokal yang ada di sekitar kita. Dengan bentuk yang menyerupai beras, masyarakat tetap merasa familiar, tetapi sebenarnya mereka mengonsumsi sumber pangan yang berbeda,” katanya.

Tidak hanya mendukung diversifikasi pangan, beras analog juga memungkinkan peneliti untuk mengatur komposisi gizi sesuai kebutuhan tertentu.

Produk tersebut dapat dirancang memiliki kandungan zat besi yang tinggi untuk membantu mengatasi anemia, kadar protein yang lebih tinggi untuk mendukung kebutuhan gizi tertentu, maupun indeks glikemik yang lebih rendah bagi penderita diabetes.

Inovasi semacam ini menunjukkan bahwa sumber pangan lokal tidak hanya mampu menggantikan fungsi beras sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat kesehatan yang lebih luas.

Meski memiliki potensi besar, Prof. Meta mengakui bahwa upaya mengubah pola konsumsi masyarakat bukanlah hal yang mudah.

Salah satu tantangan terbesar adalah persepsi yang telah terbentuk selama bertahun-tahun bahwa nasi merupakan satu-satunya sumber karbohidrat utama yang harus dikonsumsi setiap hari.

Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai keberagaman pangan lokal yang dimiliki Indonesia.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa kebutuhan karbohidrat tidak harus dipenuhi dari beras semata. Banyak bahan pangan lokal yang memiliki nilai gizi setara bahkan memiliki keunggulan tertentu dibandingkan beras.

Selain edukasi kepada masyarakat umum, Prof. Meta juga menilai bahwa pengenalan pangan lokal perlu dilakukan sejak usia dini. Anak-anak perlu dibiasakan mengenal berbagai jenis sumber pangan sejak kecil agar tidak tumbuh dengan pemahaman bahwa nasi adalah satu-satunya makanan pokok yang layak dikonsumsi.

“Edukasi sejak dini sangat penting. Jika anak-anak sudah mengenal berbagai jenis pangan lokal sejak kecil, maka ketika dewasa mereka akan lebih mudah menerima keberagaman sumber pangan yang ada,” ujarnya.

Di sisi lain, pengembangan pangan lokal juga memerlukan dukungan dari dunia penelitian, pemerintah, industri, dan masyarakat. Inovasi yang lahir dari perguruan tinggi perlu didorong hingga mampu mencapai tahap hilirisasi dan diproduksi secara massal agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Prof. Meta menilai bahwa saat ini paradigma penelitian juga mulai bergeser dari sekadar menghasilkan publikasi ilmiah menjadi penelitian yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Karena itu, berbagai riset yang dilakukan di Universitas Hasanuddin diarahkan untuk menjawab permasalahan riil, termasuk isu ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

“Sekarang konsepnya bukan lagi sekadar research for publication, tetapi research for impact. Penelitian harus mampu memberikan manfaat dan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Dengan kekayaan 77 sumber karbohidrat yang dimiliki Indonesia, peluang untuk membangun sistem pangan yang lebih beragam, sehat, dan berkelanjutan sebenarnya terbuka sangat lebar.

Tantangannya bukan lagi pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengubah pola pikir dan kebiasaan konsumsi masyarakat agar lebih menghargai kekayaan pangan lokal yang dimiliki bangsa sendiri.

Melalui berbagai riset dan inovasi yang terus dikembangkan, Universitas Hasanuddin berharap pangan lokal dapat kembali menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai fondasi untuk membangun ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis komoditas pangan.

Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim yang semakin nyata, diversifikasi pangan berbasis kekayaan lokal bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi masa depan Indonesia.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)