News
Polhum

Gus Kikin Bukan Kiai Biasa




Seorang kiai boleh bersahabat dengan Presiden, pesantren dapat menerima pejabat, dan NU dapat bekerja sama dengan pemerintah. Namun kedekatan personal tidak harus berarti penyerahan independensi institusional.

Prinsip itu kini akan diuji di PBNU. NU hampir mustahil menjauh dari pemerintah karena keduanya bersinggungan dalam pendidikan, pesantren, kesehatan, ekonomi, sosial, hingga kebijakan keagamaan.

Pertanyaannya bukan apakah Gus Kikin akan bekerja sama dengan pemerintahan Prabowo. Kerja sama hampir pasti terjadi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah NU tetap mampu menyampaikan kritik ketika kebijakan pemerintah bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

Sulit membayangkan Gus Kikin membawa NU menjadi oposisi terhadap Prabowo. Namun terlalu dini pula menyebutnya akan menjadi bagian dari barisan politik pemerintah.

Pilihan yang lebih mungkin adalah hubungan akomodatif yang tetap menjaga otonomi organisasi: dekat dengan negara tanpa harus melekat pada kekuasaan.

Kembali kepada Qanun Asasi

Salah satu kata kunci yang sering muncul menjelang kepemimpinannya adalah Qanun Asasi, dokumen yang disusun KH Hasyim Asy'ari sebagai fondasi moral dan organisatoris NU. Ketika menyerukan kembali kepada Qanun Asasi, Gus Kikin seakan mengajak NU memeriksa kembali alasan mengapa organisasi tersebut didirikan.

Ajakan ini relevan karena NU hari ini jauh lebih besar dibandingkan satu abad lalu. Besarnya pengaruh membawa godaan: jabatan, proyek, konsesi ekonomi, posisi politik, serta akses kepada sumber daya negara. Semakin besar organisasi, semakin banyak kepentingan yang ingin mendekatinya.

Menariknya, ajakan kembali kepada nilai dasar itu datang dari seorang pengusaha. Gus Kikin tidak asing dengan uang dan bisnis. Ia memahami bahwa organisasi membutuhkan sumber daya dan warga NU membutuhkan kemajuan ekonomi.

Justru karena memahami dunia tersebut, ia semestinya juga mengetahui bahayanya ketika kepentingan ekonomi mulai menentukan arah organisasi.

Ujiannya adalah apakah gagasan itu dapat diterjemahkan ke dalam tata kelola PBNU. Bisakah NU memperkuat ekonomi warganya tanpa berubah menjadi kendaraan bisnis elite? Bisakah NU bekerja sama dengan pemerintah tanpa kehilangan kemampuan mengoreksinya?

Bukan Kiai Biasa

Sulit menempatkan Gus Kikin dalam satu kotak. Ia seorang gus yang pernah menjadi eksekutif perusahaan. Ia pengasuh salah satu pesantren paling bersejarah di Indonesia, tetapi memahami bisnis migas.

Ia keturunan pendiri NU, tetapi membangun legitimasi organisasinya sendiri. Ia seorang pengusaha yang berbicara mengenai Qanun Asasi. Ia mengenal pusat kekuasaan, tetapi menegaskan pentingnya menjaga NU dari politik praktis.

Kombinasi itu membuat Gus Kikin menarik ketika NU memasuki abad keduanya. NU bukan lagi organisasi yang cukup dikelola hanya dengan kharisma. Di sekelilingnya telah tumbuh pesantren, universitas, rumah sakit, media, lembaga filantropi, unit usaha, jaringan internasional, serta jutaan warga yang hidup dalam ekonomi modern.

Organisasi sebesar itu membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara dengan kiai di pesantren sekaligus memahami bagaimana institusi modern dikelola.

Gus Kikin membawa pengalaman dari kedua dunia. Tradisi memberinya akar, sedangkan dunia profesional memberinya pengalaman manajemen. Tebuireng memberinya legitimasi sejarah, sementara perjalanan di luar pesantren memberinya pengetahuan mengenai bagaimana perusahaan, ekonomi, media, dan negara bekerja.

Kini seluruh pengalaman itu akan diuji dalam skala yang jauh lebih besar. Kapal yang harus ia kemudikan bukan lagi perusahaan pelayaran, bisnis migas, media, atau bahkan Pesantren Tebuireng. Kapal itu bernama Nahdlatul Ulama.

Pengalamannya di dunia pelayaran menyediakan metafora yang tepat. Seorang nakhoda tidak dinilai hanya dari kemampuannya membuat kapal bergerak. Kapal bisa melaju sangat cepat tetapi menuju arah yang keliru. Nakhoda harus membaca angin dan arus sekaligus memastikan tujuan tidak hilang dari pandangan.

Kini Gus Kikin berada di anjungan kapal besar bernama NU. Di hadapannya ada pemerintahan Prabowo yang kuat, tarikan kepentingan politik, peluang ekonomi, serta jutaan warga nahdliyin yang berharap NU tetap menjadi rumah bersama.

Tantangannya bukan bagaimana membuat NU semakin dekat dengan kekuasaan. NU sudah cukup besar untuk didatangi kekuasaan.T antangannya adalah bagaimana memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingan umat tanpa membuat NU kehilangan kebebasan menentukan arah.

Di situlah kita akan mengetahui arti sebenarnya dari Gus Kikin sebagai kiai yang tidak biasa.