MAKASSAR, UNHAS.TV – Peran gut microbiota atau mikroba usus dalam mendukung nutrisi menjadi sorotan utama dalam The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health (ICNPH) 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Rabu (8/4/2026).
Para ilmuwan menilai mikroba usus memiliki potensi besar dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan global melalui pendekatan ilmiah yang inovatif.
ICNPH 2026 berlangsung pada 8–9 April 2026 di Ballroom Hotel and Convention Unhas. Konferensi ini menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara, dengan format hybrid yang menggabungkan kehadiran langsung dan daring.
Kegiatan ini menjadi platform berbagi penelitian dan memperkuat kolaborasi internasional di bidang nutrisi dan kesehatan masyarakat.
Salah satu pembicara kunci, Associate Professor Andrew Holmes dari University of Sydney, menekankan pentingnya mikroba usus dalam memaksimalkan nilai gizi makanan dan mendukung sistem adaptasi tubuh terhadap lingkungan serta pola makan. Menurut Holmes, gangguan pada sistem mikroba usus dapat memicu berbagai penyakit kronis.
“Peran mikroba usus sangat beragam. Mereka membantu memanen kalori atau energi dari makanan, meningkatkan nilai gizi, dan memberi banyak sinyal pada tubuh. Cara tubuh beradaptasi terhadap lingkungan atau stres juga dipengaruhi mikroba ini," kata Prof Holmes.
"Penyakit kronis biasanya terjadi ketika sistem regulasi terganggu. Untuk intervensi nutrisi yang efektif, kita perlu model prediktif yang dapat menyesuaikan perawatan bagi setiap individu,” ujar Holmes.
Holmes menambahkan, pendekatan prediktif dapat mengintegrasikan microbiome, genome, dan metabolome untuk menentukan strategi nutrisi yang paling tepat bagi setiap orang. Model ini memungkinkan intervensi lebih personal, efektif, dan berbasis data ilmiah.
Indonesia menjadi fokus menarik bagi penelitian nutrisi karena keragaman suku, pola makan, dan budaya di setiap daerah. Hal ini membuat strategi intervensi gizi perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.
Prof Holmes menilai, pendekatan universal tidak selalu berlaku di negara dengan variasi budaya dan makanan yang luas seperti Indonesia.
“Harapan utama saya di sini adalah mengembangkan hubungan lebih dekat dengan rekan-rekan di Hasanuddin dan Indonesia," ujarnya.
"Negara ini sangat menarik untuk mempelajari masalah nutrisi, karena keragamannya—baik etnis, jenis makanan, maupun praktik budaya berbeda tiap pulau. Strategi intervensi yang efektif harus berbeda antara Papua, Sulawesi, Sumatra, atau bahkan Jakarta,” jelas Holmes.
ICNPH 2026 juga menjadi sarana memperkuat kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan lembaga internasional.
Partisipasi peneliti global diharapkan mendorong pengembangan teknologi nutrisi berbasis pendekatan ilmiah, mempercepat implementasi intervensi gizi yang inovatif, serta mendukung kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih tepat sasaran.
Kegiatan ini menghadirkan presentasi ilmiah, diskusi panel, dan sesi tanya jawab yang memfokuskan pada inovasi nutrisi, pengembangan model prediktif, dan strategi intervensi berbasis data microbiome.
Konferensi diharapkan menjadi langkah awal pengembangan riset nutrisi yang lebih personal, efektif, dan berdampak luas bagi masyarakat Indonesia.
Melalui ICNPH 2026, para ilmuwan berupaya membangun jaringan internasional yang kuat, memperkuat penelitian nutrisi, dan mengatasi tantangan kesehatan global secara kolaboratif.
Fokus pada gut microbiota membuka peluang inovasi dalam strategi pencegahan penyakit kronis dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
(Venny Septiani Semuel / Rahmatia Ardi / Unhas TV)
Assoc Prof Andrew Holmes dari University of Sydney saat tampil sebagai pemateri dalam ICNPH 2026 di Unhas, Rabu (8/4/2026). (Unhas TV/Rahmatia Ardi)







