News

Haaland, Viking Terakhir

Oleh: Yusran Darmawan*

Bola itu meluncur melewati tangan kiper Brasil. Sesaat, stadion seakan berhenti bernapas. Lalu dentuman sorak-sorai memenuhi udara. Ribuan pendukung Norwegia melompat berdiri. 

Di sudut tribun, orang-orang mulai mengayunkan kedua tangan seperti sedang mendayung kapal panjang menembus lautan. Erling Haaland tidak berlari terlalu jauh. Ia hanya mengepalkan tangan. Lalu tersenyum.

Senyum yang tenang. Nyaris tanpa ledakan emosi. Seolah gol itu bukan akhir dari sesuatu, melainkan satu langkah lagi dalam perjalanan yang telah ia mulai sejak lama.

Entah mengapa, pada detik seperti itu saya membayangkan Haaland kembali menjadi anak kecil di Bryne, kota kecil di pesisir barat Norwegia. Ia berdiri di tepi lapangan, menyaksikan ayahnya, Alf-Inge Haaland, bermain sepak bola.

Barangkali ketika itu ia belum mengenal Piala Dunia. Belum mengenal Brasil dengan lima bintang di dadanya. Yang ia kenal hanyalah seorang ayah yang pulang membawa sepatu berlumpur dan kisah-kisah tentang pertandingan.

Dari sanalah mungkin ia belajar bahwa mimpi tidak pernah diwariskan. Mimpi harus dikejar.

Malam itu, mimpi seorang anak kecil telah membawanya menjungkalkan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah sepak bola.

***

Orang-orang menyebut Haaland sebagai Viking. Julukan itu terasa begitu pas hingga ia sendiri beberapa kali tampil mengenakan atribut Viking dalam berbagai kesempatan.

Rambut pirangnya, tubuh yang menjulang, wajah yang dingin, membuatnya seperti keluar dari kisah-kisah tua bangsa Nordik. Tetapi menjadi Viking bukanlah soal tanduk di kepala. Ia adalah cara memandang kehidupan.

Dalam Hávamál, kumpulan syair kebijaksanaan Nordik yang diwariskan turun-temurun, terdapat bait yang berbunyi:

"Ternak akan mati. Kerabat akan mati. Kita pun suatu hari akan mati. Tetapi ada satu hal yang tak pernah mati: nama baik yang diperoleh lewat keberanian."

Bagi bangsa Viking, hidup tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari keberanian mengarungi lautan yang belum pernah dipetakan. Mereka meninggalkan rumah bukan karena yakin akan menang. Mereka berlayar karena takut menjalani hidup tanpa pernah mencoba.

Mungkin itulah semangat yang kini hidup di tubuh Norwegia.

Setiap kali mereka menang di Piala Dunia, para pemain dan suporternya duduk berjajar, lalu mengayunkan tangan seperti sedang mendayung kapal. Gerakan itu sederhana, tetapi sarat makna.

Mereka tidak sedang merayakan kemenangan semata. Mereka sedang menghidupkan kembali ingatan kolektif bangsanya.

Di atas rumput hijau, kapal-kapal Viking kembali berlayar. Dan malam itu, lautan yang mereka seberangi bernama Brasil.

*** 

Tak ada bangsa yang lebih identik dengan sepak bola selain Brasil. Lima bintang di dada mereka bukan sekadar lambang juara. Ia adalah warisan Pele, Garrincha, Zico, Romario, Ronaldo, Ronaldinho.

Dunia belajar dari Brasil bahwa sepak bola bisa menjadi tarian. Bola tidak sekadar ditendang, tetapi diajak menari. Itulah jogo bonito.

Namun sejarah memiliki cara yang aneh untuk menguji para pewarisnya.

Kejayaan yang terlalu lama dipuja kadang berubah menjadi tempat berlindung. Orang mulai percaya bahwa nama besar akan selalu menyelamatkan mereka. Bahwa lima bintang adalah jaminan masa depan.

Padahal sepak bola tidak pernah mengenal warisan. Yang dihitung hanyalah sembilan puluh menit. Yang dihormati hanyalah keberanian hari ini.

Brasil masih memiliki pemain-pemain hebat. Tetapi permainan mereka tak lagi membuat dunia berhenti sejenak hanya untuk menikmati keindahannya.

Jogo bonito yang dahulu membuat lawan terpukau perlahan bergeser menjadi permainan yang lebih pragmatis, lebih berhitung, dan terkadang kehilangan sentuhan yang membuat Brasil dicintai seluruh dunia.

Sementara itu, Norwegia datang tanpa beban sejarah. Mereka tidak membawa lima piala dunia. Tidak membawa legenda yang harus dipertahankan. Mereka hanya membawa keberanian.

Dan keberanian sering kali menjadi senjata paling ampuh ketika berhadapan dengan sejarah. Di tengah semua itu berdirilah Haaland.

Dua golnya malam itu memang menyingkirkan Brasil dari Piala Dunia. Namun yang lebih penting, ia mengingatkan bahwa tidak ada sejarah yang terlalu besar untuk ditantang. Setiap generasi berhak menulis kisahnya sendiri.

***

Ketika peluit panjang berbunyi, para pemain Norwegia kembali duduk berjajar. Mereka mengayunkan tangan seperti sedang mendayung menuju cakrawala yang lebih jauh.

Haaland berdiri di tengah mereka. Ia kembali tersenyum. Mungkin senyum itu bukan hanya tentang kemenangan.

Mungkin itu adalah senyum seorang anak kecil yang dahulu menyaksikan ayahnya bermain bola, lalu tumbuh menjadi lelaki yang menghidupkan kembali semangat para Viking.

Bukan dengan pedang. Bukan dengan kapal. Melainkan dengan sepasang sepatu, sebutir bola, dan keberanian untuk percaya bahwa bahkan negeri lima bintang pun dapat ditantang.

Dalam kisah-kisah Nordik, nama Ragnar Lothbrok dikenang bukan karena ia tak pernah kalah, melainkan karena ia memilih menghadapi takdirnya tanpa menoleh ke belakang.

Sebuah kalimat yang sering dikaitkan dengannya berbunyi, "Don't waste your time looking back. You're not going that way." Jangan habiskan waktumu melihat ke belakang. Kau tidak sedang menuju ke sana.

Barangkali, itulah pelajaran yang dibawa Haaland malam itu.

Sementara Brasil masih sibuk memandangi lima bintang di dadanya, Norwegia memilih terus mendayung ke depan. Dan di haluan kapal itu, seorang Viking terakhir kembali tersenyum.


*Penulis adalah blogger, peneliti, dan Knowledg Strategist. Lulus kuliah di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.