News
Opini

Ketika Seorang Tionghoa Menulis Tentang Ali bin Thalib

Oleh: Muliadi Saleh (Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran )


Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang justru mulai berbicara setelah pembacanya selesai membaca. Buku Mengapa Saya Mengikuti Ali karya H. Lexi Mailowa Budiman termasuk jenis yang kedua. 

Ketika pertama kali melihat judulnya, perhatian saya tidak langsung tertuju pada nama Ali. Yang justru menarik perhatian saya adalah nama penulisnya.  Lexi Mailowa Budiman. Seorang sahabat lama. Seorang Tionghoa. Seorang pengusaha. 

Seseorang yang selama saya kenal lebih akrab dengan dunia angka, laporan keuangan, strategi bisnis, dan dinamika usaha daripada dunia kepenulisan. 

Karena itulah saya terkejut ketika mengetahui ia menulis buku ini. Bukan karena ia tidak mampu menulis. Tetapi karena saya tahu, menulis sebuah buku membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan sebanyak apa pun. Ia butuh waktu untuk merenung, keberanian untuk bertanya, dan kesediaan untuk berhadapan dengan diri sendiri. 

Saya mengenal kak Lexi-begitu panggilan akrabnya, sejak sekitar tahun 1996. Kami pernah berada dalam satu lingkungan kerja, satu ruang pengabdian, dan satu fase kehidupan yang sama. Waktu kemudian membawa kami ke jalan masing-masing. Pertemuan menjadi jarang. Percakapan tidak lagi sesering dahulu. 

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam ingatan saya tentang dirinya. 

Ia selalu seorang pencari.

Ia tidak pernah puas pada jawaban-jawaban yang dangkal. Ia selalu ingin mengetahui apa yang berada di balik permukaan. Ia selalu tertarik pada lapisan makna yang sering luput dari perhatian banyak orang. 

Barangkali karena itulah, di tengah dunia bisnis yang dipenuhi angka dan transaksi, ia akhirnya bertemu dengan seorang manusia yang hidup lebih dari empat belas abad lalu. 

Namanya Ali.

Banyak orang mengenal Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, sepupu Rasulullah, sekaligus menantu Nabi. Namun sejarah tidak mengingat Ali hanya karena kedudukan-kedudukan itu. 

Ali adalah kedalaman.

Ia adalah lautan yang tidak pernah habis diselami. 

Pada dirinya, keberanian dan kebijaksanaan berjalan beriringan. Tangannya kuat menggenggam pedang, tetapi pikirannya lembut memeluk hikmah. Ia seorang pejuang yang gagah di medan perang, sekaligus seorang perenung yang menangis dalam sunyi malam. 

Di tengah dunia hari ini yang sering memisahkan akal dan hati, Ali menghadirkan keduanya dalam satu harmoni. 

Mungkin itulah yang ditemukan Lexi. Mungkin itu pula yang membuatnya memilih Ali. 

Bukan Abu Bakar yang melambangkan kesetiaan. Bukan Umar yang melambangkan keadilan. Bukan Utsman yang melambangkan kedermawanan. Tetapi Ali yang menghadirkan keseimbangan. 

Keberanian tanpa kebijaksanaan adalah kecerobohan. Kebijaksanaan tanpa keberanian adalah keraguan. Ali mengajarkan keduanya sekaligus. 

Dan bukankah itu yang dibutuhkan manusia modern hari ini? 

Lebih jauh lagi, buku ini menyimpan pesan yang melampaui sosok Ali itu sendiri. 

Ia mengajarkan bahwa cahaya tidak pernah mengenal batas identitas. 

Kebijaksanaan tidak mengenal suku. 

Tidak mengenal ras.

Tidak mengenal etnis.

Tidak mengenal sekat-sekat yang sering dibangun manusia. 

Ketika seorang Tionghoa menulis buku tentang Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya yang sedang bekerja bukanlah identitas darah, melainkan kejujuran nurani. 

Karena kebenaran selalu memiliki daya tarik yang melampaui batas-batas sosial. 

Cahaya selalu menemukan jalannya sendiri kepada siapa pun yang sungguh-sungguh mencarinya. 

Di tengah zaman yang bising oleh klaim kebenaran, buku ini justru mengajarkan kerendahan hati untuk mencari. Di tengah dunia yang sibuk membenarkan diri, buku ini mengajak pembacanya berani mempertanyakan diri. 

Dan bagi saya, itulah pesan terpenting dari buku ini.

Bahwa menjadi pencari lebih mulia daripada merasa telah sampai. 

Bahwa perjalanan menuju kebenaran sering kali lebih berharga daripada kesimpulan itu sendiri. 

Maka setelah menutup halaman terakhir buku ini, saya tidak hanya menemukan kisah tentang Ali. 

Saya menemukan kisah tentang seorang sahabat lama yang tetap setia menjadi pencari. 

Dan diam-diam saya tersenyum.

Jika dahulu saya sering bertanya, “Di mana angko Lexi?”

Maka setelah membaca buku ini, rasanya lebih pantas saya bertanya:

“Di mana Kiai Lexi?” atau Angurutta H. Lexi Mailoa Budiman.

Sebab di balik seorang pengusaha yang tekun, ternyata berdiam seorang pejalan ruhani yang sedang menempuh jalan panjang menuju cahaya. 

Dan mungkin, itulah perjalanan paling penting yang dapat ditempuh seorang manusia.

__________

Muliadi Saleh : Menulis Makna, Membangun Peradaban.