News

Hadiah dari Langit untuk Herman

Hadiah Mengejutkan

Di tengah pencapaian karier yang telah ia raih, ada satu pengalaman yang paling membekas dan tak akan dilupakan oleh Herman. Salah satu pelanggan setia JNE yang selalu ia layani sejak 2012 memberikan hadiah yang jauh lebih berharga dibanding senyum tulus dan ucapan terima kasih biasa.

"Suatu hari, telepon saya berdering. Peneleponnya orang yang saya kenal baik. Dari balik telepon itu saya mendengar, 'Herman, siapkan fisik dan mentalmu'. Hanya itu. Lalu percakapan tiba-tiba berakhir," tutur Herman.

Herman terpaku. Bingung. Ke mana sebenarnya arah inti pembicaraan itu? Bercandakah Ibu Haji itu? Demi ingin memastikan, Herman lalu menelepon. "Tabe, Bu Haji. Saya belum mengerti, apa maksud-ta?" Herman berusaha sesopan mungkin mengeluarkan kalimatnya, khawatir pertanyaannya memicu ketersinggungan.

Seketika, Herman tertunduk lesu. Air matanya menetes. Bu Haji --Herman enggan memberikan namanya demi menjaga komitmen-- memberikan hadiah perjalanan ibadah umrah. Hadiah dari langit melalui pelanggan setia JNE. Hadiah gratis sepenuhnya. Malah dapat uang saku. "Saya ingat betul, saya berangkat 3 Juli 2023."

Ia tidak menyangka, dari hubungan baik yang terjalin bertahun-tahun dengan pelanggan yang puas dengan pelayanan JNE, ia bisa umrah 10 hari. Keramahan, kejujuran, dan ketulusan bekerja itu ternyata ada gunanya. 

Dari satu pintu kebaikan itu kemudian membuka pintu-pintu kebaikan lainnya. Seorang pelanggan lain yang ia kenal betul suka jengkel dan marah, malah berubah menjadi sahabat. "Seringkali jika dia punya acara hajatan, saya dipanggil seolah-olah saya bagian dari keluarganya. Tiap Idul Fitrih, beliau kirim parcel. Contoh-contoh seperti ini ada banyak, bukan cuma beliau saja." 

Pengalaman ini pula yang kemudian jadi ilham dan bahan pelatihan karyawan JNE di daerah lain. Di suatu hari, ia pernah ditelepon dan suaranya diperdengarkan untuk semua peserta pelatihan karyawan JNE Nusa Tenggara Timur untuk menceritakan bagaimana ketulusan bekerja selalu menemukan jalannya sendiri untuk menghadirkan kebahagiaan.

Kini, setelah lebih dari 14 tahun mengabdi di JNE, Herman menjalani hidup penuh rasa syukur. Ia telah mendapatkan banyak pengalaman berharga selama bekerja. 

Relasinya kini makin luas, perusahaan pun bertumbuh pesat, serta jenjang karir yang makin jelas. Namun yang paling penting, pengabdiannya di JNE telah memberinya kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Ia kini sudah punya rumah sendiri, cukup luas menampung Herman bersama istri dan tiga anaknya. 

Herman pun makin menyadari bahwa keikhlasan dan ketulusan bekerja dengan dukungan manajemen yang peduli dengan karyawannya, adalah modal utama yang harus dimiliki setiap karyawan. 

Bagi Herman, jabatan dan penghargaan itu bentuk kesuksesan namun kesuksesan yang paling hakiki dalah ketika pekerjaan yang sungguh-sungguh dapat memberikan manfaat bagi orang lain sekaligus membahagiakan orang-orang yang dicintai.(*)