.webp)
Suasana di Masjid Keraton Buton
Kesultanan yang dulu mengendalikan jalur perdagangan di perairan Nusantara itu kini menjadi bagian dari Indonesia modern. Tak ada lagi sultan yang berkuasa, tak ada lagi armada yang menguasai lautan. Tapi, apakah itu berarti Buton kehilangan jati dirinya?
Hiroko teringat pada naskah-naskah yang ia baca di Bau-Bau. Naskah yang mencatat bagaimana Buton bukan hanya kerajaan, melainkan juga sebuah sistem sosial yang beradaptasi dengan zaman.
Saat pengaruh Islam datang, Buton mengubah sistem pemerintahannya. Saat Belanda masuk, Buton bernegosiasi untuk tetap mempertahankan otonominya. Ketika Indonesia merdeka, Buton kembali menyesuaikan diri, mencari tempat dalam tatanan negara yang baru.
Namun, Hiroko juga sadar bahwa naskah-naskah itu terancam punah. Di Leiden, Belanda, ratusan manuskrip Buton tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, dibawa oleh para peneliti kolonial yang tertarik pada struktur politik dan sosial Kesultanan Buton.
“Saya menemukan beberapa catatan Buton dalam arsip kolonial di Leiden,” kata Hiroko. “Mereka menyimpan sejarah yang seharusnya juga bisa diakses oleh masyarakat Buton sendiri.”
Ironisnya, naskah-naskah itu lebih mudah diakses oleh peneliti asing daripada akademisi lokal. Inilah yang membuat Hiroko semakin yakin bahwa digitalisasi naskah Buton adalah langkah yang harus segera dilakukan.
Ia menutup bukunya perlahan. Ia tahu, pekerjaannya belum selesai. Masih ada naskah yang harus diteliti, masih ada sejarah yang harus diceritakan kembali.
Di kejauhan, kota Tokyo terus berdenyut. Begitu pula dengan Baubau, jauh di seberang lautan. Dua dunia yang berbeda, tetapi sama-sama terus bergerak maju, menjaga warisan mereka dengan cara yang berbeda.
Hiroko menarik napas panjang. Dalam hati, ia berbisik, Arigatou gozaimashita, Buton.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat