TAJIKISTAN,UNHAS.TV– Para ilmuwan di Tajikistan, sebuah negara di Asia Tengah, berhasil menguji metode mengubah limbah padat dari instalasi pengolahan air limbah menjadi biogas dan pupuk organik, sebuah terobosan yang berpotensi memperkuat ketahanan energi, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan, sebagaimana diumumkan Rektor Universitas Agraria Tajik, Usmon Mahmadyorzoda, dalam konferensi pers di Dushanbe, Senin (27/7/2026), berdasarkan laporan Asia-Plus.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Departemen Ekologi Umum dan Ilmu Tanah Universitas Agraria Tajik yang mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah dari perusahaan penyedia air bersih dan instalasi pengolahan air limbah agar dapat diolah menjadi sumber energi terbarukan yang bernilai ekonomi tinggi.
Menurut Mahmadyorzoda, hasil pengolahan limbah itu tidak hanya menghasilkan biogas, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif lainnya serta pupuk organik yang mampu mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa rangkaian eksperimen dilakukan baik di Tajikistan maupun di luar negeri melalui kolaborasi dengan para pakar internasional sehingga menghasilkan temuan yang dinilai sangat menjanjikan bagi pembangunan ekonomi hijau dan perlindungan lingkungan.
Keberhasilan penelitian tersebut direncanakan akan dipresentasikan dalam sidang akademik pada musim gugur 2026 sebagai bagian dari proses penyelesaian penelitian ilmiah yang sedang berlangsung.
Satu Instalasi Biogas Mampu Memenuhi Kebutuhan Energi Satu Rumah Tangga
Mahmadyorzoda juga mengungkapkan bahwa penelitian itu merupakan kelanjutan dari inovasi ilmuwan Tajik, Anvar Madaliyev, yang sebelumnya mengembangkan teknologi produksi biogas serta peralatan pengering hasil pertanian.

Instalasi biogas rumah tangga di Tajikistan mengubah limbah menjadi energi bersih dan pupuk organik. (Foto: Sayfiddin Karaev, asia +).
Pengembangan teknologi tersebut kini diteruskan oleh para mahasiswa dan peneliti Fakultas Mekanisasi Pertanian Universitas Agraria Tajik sebagai bagian dari regenerasi riset energi terbarukan di negara itu.
Unit biogas skala rumah tangga menggunakan kotoran ternak sebagai bahan baku utama yang difermentasi dalam reaktor tertutup tanpa oksigen sehingga menghasilkan gas metana yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Jika sebelumnya tangki biogas dibuat dari logam atau baja, kini para peneliti menggunakan material plastik yang lebih ringan, lebih murah, tahan korosi, serta lebih mudah dipasang dan dioperasikan oleh masyarakat pedesaan.
Mahmadyorzoda mengatakan satu unit biogas berkapasitas kecil mampu menyediakan pasokan gas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak, pemanas ruangan, serta berbagai kebutuhan energi sebuah rumah tangga.
Sisa material hasil fermentasi tidak terbuang percuma karena dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang mampu memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Universitas Agraria Tajik juga menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan asal Meksiko yang sebelumnya telah menjadi mitra penelitian Anvar Madaliyev dalam pengembangan teknologi biogas.
Selain mengembangkan energi terbarukan, Madaliyev juga merancang peralatan pengering bawang, wortel, dan berbagai komoditas hortikultura lain yang dinilai sangat bermanfaat bagi wilayah beriklim dingin untuk mengurangi kehilangan hasil panen pascapanen.
Teknologi Ramah Lingkungan Mulai Berkembang di Pedesaan
Teknologi biogas sebenarnya mulai diterapkan di sejumlah desa di Tajikistan melalui sistem rumah tangga yang mengubah limbah organik menjadi energi bersih.
Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) sejak Juli 2024 telah menjalankan proyek pemasangan instalasi biogas bagi masyarakat pedesaan, dan hingga Agustus 2025 sedikitnya 37 unit telah beroperasi di 11 kota dan distrik.
Dalam sistem tersebut, limbah organik dimasukkan ke dalam bioreaktor kedap udara sehingga mengalami dekomposisi anaerobik yang menghasilkan gas metana sebagai bahan bakar, sementara residunya menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.
UNDP memperkirakan setiap rumah tangga pengguna instalasi biogas dapat memperoleh manfaat ekonomi lebih dari 20.500 somoni per tahun melalui penghematan biaya bahan bakar, pemanfaatan pupuk organik, serta peningkatan pendapatan dari budidaya pertanian dan rumah kaca.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi ini masih menghadapi tantangan berupa tingginya harga peralatan, belum berkembangnya produksi massal di dalam negeri, serta terbatasnya infrastruktur pendukung sehingga sebagian instalasi masih diproduksi di India dan dipasang melalui proyek-proyek pembangunan internasional.
Keberhasilan para ilmuwan Tajikistan menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dipandang sebagai sumber pencemaran sesungguhnya dapat diubah menjadi sumber energi bersih dan pupuk organik yang bernilai ekonomi tinggi, sekaligus mempertegas bahwa inovasi berbasis ekonomi sirkular dan energi terbarukan menjadi salah satu fondasi penting pembangunan berkelanjutan di Asia Tengah serta inspirasi bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tantangan serupa.(*)
Ilmuwan Tajikistan sukses mengubah limbah menjadi biogas, energi bersih, dan pupuk organik berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan. (Ilustrasi: ChatGPT).







-300x141.webp)
