Pendidikan

Indonesia dan Australia Perpanjang Kolaborasi PAIR hingga 2027 demi Ketahanan Masyarakat Pesisir Bersama

PAIR SUMMIT - Penutupan PAIR Summit 2026 di Unhas yang mempertemukan peneliti Indonesia dan Australia untuk memperkuat kolaborasi riset berkelanjutan, di Ruang Senat Unhas, Kamis (23/7/2026). Kolaborasi riset untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan persoalan masyarakat pesisir. (Unhas TV / Novi)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin menutup rangkaian Partnership for Australia-Indonesia Research Summit 2026 di Kampus Tamalanrea, Makassar, Kamis (23/7/2026).

Pertemuan selama empat hari itu mempertemukan peneliti Indonesia dan Australia untuk memperkuat kolaborasi riset, terutama yang berkaitan dengan perubahan iklim dan persoalan masyarakat pesisir.

Selama summit, para peneliti memaparkan perkembangan riset sekaligus mengikuti diskusi lintas bidang. Forum tersebut digunakan untuk mengevaluasi metode, mempertajam temuan, serta menyesuaikan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat, pemerintah, dan sektor industri.

Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc mengatakan PAIR Summit merupakan bagian dari proses panjang yang telah dilalui para peneliti, sejak tahap seleksi, penelitian lapangan, hingga penyusunan hasil.

Menurut dia, pertemuan itu tidak hanya menjadi ruang presentasi, tetapi juga forum konsolidasi untuk meningkatkan mutu dan daya guna penelitian.

Jamaluddin menilai ukuran keberhasilan riset tidak berhenti pada jumlah publikasi ilmiah. Penelitian harus mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat dan menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan.

Direktur Eksekutif Australia-Indonesia Centre Boyd Whalan mengatakan program PAIR masih akan berjalan hingga 2027. Perpanjangan waktu itu memberi kesempatan kepada peneliti untuk menyelesaikan pekerjaan, memperkuat analisis, dan memperluas pemanfaatan hasil riset.

Menurut Boyd, Australia-Indonesia Centre berkomitmen menjaga kerja sama penelitian Indonesia-Australia dalam jangka panjang.

Perubahan iklim, abrasi, tekanan terhadap sumber daya laut, dan kerentanan ekonomi masyarakat pesisir merupakan persoalan bersama yang membutuhkan solusi berbasis bukti.

Ia mengatakan program yang berjalan saat ini merupakan kelanjutan kerja sama penelitian sebelumnya di Sulawesi Selatan. Dukungan dilakukan melalui tim Australia-Indonesia Centre yang berada di Melbourne, Makassar, dan Bandung.

Jaringan tersebut diharapkan mempercepat pertukaran pengetahuan dan mempertemukan peneliti dengan pemangku kepentingan yang dapat menerapkan hasil penelitian. Kolaborasi lintas negara juga dinilai penting untuk menguji solusi dalam konteks sosial dan geografis yang berbeda.

Melalui penutupan PAIR Summit 2026, Unhas dan para mitra menegaskan bahwa agenda penelitian harus berlanjut setelah forum berakhir.

Hasil riset diharapkan dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan, program pemberdayaan, serta teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Para mitra juga mendorong keterlibatan pemerintah daerah, komunitas pesisir, dan pelaku industri sejak tahap perencanaan.

Keterlibatan itu diperlukan agar penelitian tidak terputus dari persoalan lapangan dan dapat menghasilkan solusi yang berkelanjutan bagi Indonesia maupun Australia, serta lebih mudah diterapkan setelah program penelitian selesai nantinya.

(Novi / Syafiqa / Unhas.TV)