Karier
Lingkungan

InTechSEA 2026 Hadirkan Plakat Ramah Lingkungan dari Limbah Nikel dan Ampas Tebu

BAHAN PLAKAT - Geraldy Juniarto Billy Houston tengah mengaduk material limbah sebagian bahan plakat kegiatan InTechSEA 2026. Plakat ini memanfaatkan slag nikel dan abu ampas tebu sebagai bahannya. (Unhas TV / Moh Resha Maharam)

GOWA, UNHAS.TV - Upaya mengurangi dampak lingkungan tidak selalu harus dimulai dari inovasi berskala besar. Pemanfaatan limbah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna juga dapat menjadi langkah konkret dalam mendorong penggunaan sumber daya secara lebih berkelanjutan.

Semangat tersebut turut dihadirkan dalam Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) 2026 melalui pembuatan plakat berbahan dasar limbah industri.

Berbeda dari plakat pada umumnya, plakat yang diproduksi untuk kegiatan InTechSEA 2026 memanfaatkan slag nikel dan abu ampas tebu sebagai sebagian bahan pembuatannya.

Kedua material tersebut dikombinasikan dengan pasir dan semen sehingga terdapat empat bahan utama yang digunakan dalam proses produksi.

Salah satu tim yang terlibat dalam proses pembuatan plakat, Geraldy Juniarto Billy Houston ST menjelaskan bahwa penggunaan material limbah dilakukan dengan metode substitusi parsial atau mengganti sebagian bahan konvensional, bukan menggantikannya secara keseluruhan.

Slag nikel yang merupakan limbah dari proses pengolahan bijih nikel digunakan untuk menggantikan sebagian pasir. Sementara itu, abu hasil pembakaran ampas tebu dimanfaatkan sebagai pengganti sebagian semen karena memiliki kandungan silika yang tinggi.

“Dari hasil penelitian sebelumnya, didapatkan variasi terbaik adalah substitusi parsial, di mana penggabungan antara semen dan abu ampas tebu, begitupun dengan pasir dan slag nikel,” jelas Geraldy.

Pemilihan material tersebut sekaligus menjadi upaya untuk memberikan nilai guna baru terhadap limbah yang tersedia dalam jumlah besar. Geraldy mengatakan, slag nikel yang digunakan tim berasal dari Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Berdasarkan keterangannya, limbah hasil pengolahan bijih nikel di wilayah tersebut telah menumpuk hingga sekitar tujuh sampai delapan juta ton.

“Jadi kami manfaatkan bagaimana limbah ini bisa digunakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Begitupun juga dengan abu ampas tebu,” ujarnya.

Pemanfaatan limbah tersebut memberikan perspektif berbeda terhadap material yang sebelumnya dipandang sebagai sisa proses produksi.

Melalui pengolahan dan komposisi yang tepat, limbah dapat dimanfaatkan kembali menjadi bagian dari produk yang memiliki fungsi dan nilai tambah.

Geraldy menilai penggunaan slag nikel dan abu ampas tebu juga memiliki potensi manfaat dari sisi lingkungan dan ekonomi.

Pemanfaatannya dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan sebagian material konvensional sekaligus mendorong pemanfaatan limbah yang selama ini belum digunakan secara optimal.

“Pastinya dia lebih ramah lingkungan, dia juga lebih ekonomis karena tidak membutuhkan biaya. Kami harapkan dari penelitian ini juga, dari hasil substitusi ini, dapat memberikan manfaat dan dampak yang bagus untuk ke depannya,” ungkapnya.

Kehadiran plakat ramah lingkungan pada InTechSEA 2026 dengan demikian tidak hanya menjadi bagian dari kebutuhan kegiatan.

Produk tersebut turut menunjukkan bagaimana hasil penelitian dan inovasi dapat diterapkan pada benda yang dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Melalui pemanfaatan slag nikel dan abu ampas tebu, plakat InTechSEA 2026 membawa pesan bahwa limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat dikembangkan menjadi material bernilai guna.

Inovasi sederhana tersebut sekaligus menjadi contoh penerapan prinsip keberlanjutan melalui pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan bertanggung jawab.

InTechSEA adalah ajang penghargaan dari Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk inovasi berbasis sosial dan lingkungan.

Puncak acara Malam Penganugerahan InTechSEA 2026 dijadwalkan berlangsung di Hotel Four Seasons, Jakarta, pada 14 September 2026 mendatang.

(Mustika Syaharuddin / Moh Reza Maharam / Unhas TV)