MAKASSAR, UNHAS.TV - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25, Jakarta Eye Center (JEC) Orbita menggelar bakti sosial operasi katarak dan strabismus (mata juling) bagi masyarakat kurang mampu di Kota Makassar.
Kegiatan bakti sosial (Baksos) ini menjadi bentuk komitmen tanggung jawab sosial institusi yang secara konsisten dilaksanakan setiap tahun.
Ketua Panitia Bakti Sosial, dr Sultan Hasanuddin SpM, menjelaskan bahwa operasi katarak telah rutin digelar setiap perayaan ulang tahun JEC Orbita sejak pertama kali berdiri.
“Sejak 25 tahun lalu kami selalu mengadakan bakti sosial katarak sebagai bentuk tanggung jawab sosial, khususnya bagi masyarakat yang tidak memiliki asuransi seperti BPJS,” ujarnya dalam konferensi pers di Auditorium Afifudin Lt 10 RS Mata JEC ORBITA Makassar, Jl Jenderal M Yusuf, Kamis (12/2/2026).
Ia menyebutkan, hingga kini lebih dari 1.000 pasien telah menerima manfaat dari program bakti sosial tersebut.
Khusus tahun ini, kegiatan diperluas dengan menambahkan operasi strabismus atau mata juling, yang untuk pertama kalinya digelar dalam skema bakti sosial di JEC ORBITA Makassar.
“Tahun ini spesial, tidak hanya katarak, tapi juga strabismus. Target kami 30 penerima manfaat, terdiri dari 25 pasien katarak dan lima pasien strabismus,” jelasnya.
Sebelum tindakan operasi dilakukan, seluruh pasien menjalani proses skrining yang berlangsung sejak 21 Januari hingga awal Februari.
Skrining dilakukan secara ketat untuk memastikan pasien memenuhi indikasi medis dan dalam kondisi aman untuk menjalani operasi.
“Kami tidak serta-merta langsung mengoperasi. Pemeriksaan dilakukan menyeluruh karena yang paling utama adalah keselamatan pasien,” tegas dr Sultan.
Mayoritas Berusia di Atas 50 Tahun
Ia menambahkan, sebagian besar pasien katarak yang terjaring dalam bakti sosial ini memiliki tingkat penglihatan yang sudah sangat menurun, rata-rata hanya sekitar 20 persen dan tidak lagi dapat dikoreksi dengan kacamata.
Mayoritas pasien berusia di atas 50 tahun, mengingat katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan tertinggi yang umumnya terjadi pada usia lanjut.
Sementara itu, dr Vita Rahayu menjelaskan bahwa operasi strabismus bertujuan tidak hanya memperbaiki posisi bola mata, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri pasien.
“Banyak masyarakat yang belum tahu bahwa mata juling bisa dioperasi. Operasi ini relatif aman dan tidak mengganggu penglihatan. Yang diperbaiki adalah keseimbangan otot mata agar kembali lurus,” jelasnya.
Ia menuturkan, pasien yang dipilih adalah mereka dengan kondisi juling menetap dan cukup besar, yakni dengan deviasi lebih dari 50 derajat. Operasi berlangsung sekitar satu jam dengan pembiusan umum.
Menurut dr Vita, dampak strabismus sering kali tidak hanya pada aspek medis, tetapi juga psikososial. Tidak sedikit pasien yang mengalami penurunan rasa percaya diri hingga kesulitan dalam interaksi sosial maupun dunia kerja.
“Dengan operasi ini, kami berharap bukan hanya memperbaiki posisi mata, tetapi juga membangkitkan kepercayaan diri mereka agar lebih diterima di masyarakat,” tambahnya.
Dari proses pendaftaran, tercatat lebih dari 40 pasien katarak dan sekitar 15 pasien strabismus yang mendaftar. Setelah melalui seleksi dan pemeriksaan medis, ditetapkan 30 pasien yang memenuhi kriteria untuk menjalani operasi dalam bakti sosial tahun ini.
Seluruh pasien tetap mendapatkan layanan standar seperti pasien reguler, termasuk kontrol pascaoperasi pada hari pertama, ketujuh, dan ke-30 tanpa dipungut biaya. Pasien operasi strabismus juga menjalani perawatan inap satu hari setelah tindakan.
(Achmad Ghiffary M / Moh Resha Maharam / Unhas TV)
BATI SOSIAL. Ketua Panitia Baksos HUT Ke-25 JEC Orbita, dr Sultan Hasanuddin SpM (Kiri), bersama dr Vita Rahayu saat memberikan keterangan pers di Auditorium Afifudin Lt 10 RS Mata JEC ORBITA, Kamis (12/2/2026). (Unhas TV/Moh Resha Maharam)

 Kota Mak (1)-300x175.webp)






