UNHAS.TV - Di kota yang penduduknya kini mendekati dua juta jiwa pada jam-jam sibuk, persoalan sampah di Kota Makassar, bukan lagi sekadar urusan truk pengangkut atau petugas kebersihan.
Ia telah berubah menjadi persoalan ekologis, sosial, dan bahkan budaya, yang menentukan bagaimana sebuah kota menata masa depannya.
Di tengah kota yang terus tumbuh ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar meluncurkan sebuah gerakan baru yakni Jelajah Sampah, program edukasi keliling yang menyasar 15 kecamatan dalam satu bulan.
Bukan sekadar kampanye kebersihan, program ini dirancang sebagai cara baru untuk membaca ulang hubungan masyarakat kota dengan lingkungan yang menopang kehidupan mereka.
“Makassar sudah darurat sampah,” kata Kepala DLH Kota Makassar, Dr Helmi Budiman SSTP MM, membuka percakapan dengan suara yang bernada serius namun tenang.
Data yang ia sampaikan dalam program Pojok Publik di Unhas TV, menunjukkan situasi yang lebih kompleks dari sekadar tumpukan sampah di pinggir jalan.
“Rata-rata setiap warga menghasilkan hampir 1 kilogram sampah per hari. Kalau dikalikan dengan populasi yang bisa mencapai dua juta jiwa pada siang hari, kita menghasilkan 800 hingga 900 ton sampah setiap hari,” tegasnya.
Angka itu membayangi TPA Antang, lokasi pembuangan akhir Kota Makassar yang kini menyimpan lebih dari 3 juta ton sampah, menumpuk setinggi 20 meter di atas lahan seluas 19 hektare.
Dengan laju itu, “akhir” dalam TPA tidak lagi relevan. Ia hanya menjadi jeda sementara sebelum tumpukan baru datang.
Bahkan ketika Helmi menyebut kata “perang”, ia tidak sedang berlebihan. Pemerintah Kota Makassar secara resmi mengumumkan target ambisius: Makassar Bebas Sampah 2029.
Bebas sampah bukan berarti nihil sampah, tetapi sebuah kota yang mampu memilah, mengolah, dan bertanggung jawab atas limbah yang ia hasilkan.
Sasaran utama gerakan ini bukan truk, bukan mesin pencacah, bukan pula regulasi, melainkan manusia. “Kuncinya ada pada perilaku,” katanya.
Bukan hal baru dalam wacana pengelolaan sampah, tetapi Makassar menyadari betapa rumitnya persoalan itu di lapangan.
“Di mana ada rambu dilarang parkir, justru di situlah orang memarkir,” ujar Helmi tersenyum getir. Kebiasaan lama—yang seolah menjadi bagian dari identitas urban Makassar—menjadi tantangan perubahan.
Karena itu, Jelajah Sampah memilih sasaran generasi muda: anak-anak SD, SMP, hingga mahasiswa. “Kalau anak mudanya sudah bergerak, kita lebih mudah menggerakkan yang tua,” ujar pria kelahiran 15 Mei 1984 ini.
Program ini dibuat menyerupai petualangan ekologis. Warga diajak melihat langsung bagaimana sampah dipilah, bagaimana bahan organik bisa menjadi kompos, bagaimana plastik bisa memiliki nilai ekonomi, dan bagaimana residu tak terolah berakhir di TPA. Edukasi langsung seperti ini, menurut Helmi, belum pernah dilakukan secara masif sebelumnya.
Kesadaran yang Tak Merata
>> Baca Selanjutnya
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Dr Helmy Budiman SSTP MM. (dok unhas tv)








