Saintek

Jepang dan Trotoar Ajaib yang Mengubah Langkah Kaki Jadi Listrik

trotoar

TOKYO, UNHAS.TV- Jepang kerap digambarkan seperti negeri yang hidup dalam dunia cyberpunk—masa depan penuh teknologi yang menyelinap dalam hal-hal paling sepele. Di negeri Sakura ini, Anda bisa dengan mudah menemukan robot yang bertugas mengupas pisang atau menggoreng kentang di restoran, kereta peluru yang meluncur menembus kota dengan kecepatan 320 km/jam, hingga toilet futuristik yang bukan hanya sekadar tempat singgah, melainkan juga mampu mengukur tekanan darah dan kadar protein tubuh. Negeri ini bahkan memegang rekor dunia untuk kecepatan internet tercepat: 1,02 petabit per detik.

Namun, di antara sederet inovasi unik itu, ada satu contoh yang benar-benar menegaskan cara Jepang memanfaatkan kepadatan warganya: trotoar berteknologi piezoelektrik yang bisa mengubah jejak kaki menjadi energi listrik.

Setiap langkah kaki adalah energi.

Di stasiun-stasiun padat seperti Stasiun Shinagawa, Jepang, jutaan pejalan kaki melintas setiap hari. Keramaian ini bukan hanya pemandangan biasa, melainkan sumber daya terbarukan. Melalui trotoar bertenaga ubin piezoelektrik, Jepang memanfaatkan tekanan dari setiap langkah untuk menghasilkan listrik, sebuah inovasi cerdas yang mengubah kepadatan populasi menjadi aset.Kredit: Michael Sugrue/Getty Images.
Setiap langkah kaki adalah energi. Di stasiun-stasiun padat seperti Stasiun Shinagawa, Jepang, jutaan pejalan kaki melintas setiap hari. Keramaian ini bukan hanya pemandangan biasa, melainkan sumber daya terbarukan. Melalui trotoar bertenaga ubin piezoelektrik, Jepang memanfaatkan tekanan dari setiap langkah untuk menghasilkan listrik, sebuah inovasi cerdas yang mengubah kepadatan populasi menjadi aset.Kredit: Michael Sugrue/Getty Images.


Ketika Keramaian Menjadi Sumber Daya

Jepang adalah negara kecil dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Bandingkan saja dengan Amerika Serikat: luas wilayahnya hampir 26 kali lebih besar dari Jepang, tetapi populasinya hanya sekitar tiga kali lipat. Kondisi ini membuat jalanan Tokyo, terutama stasiun bawah tanah seperti Shinjuku—yang melayani lebih dari 3,8 juta penumpang per hari—selalu penuh sesak. Alih-alih melihat keramaian ini sebagai masalah, Jepang justru menjadikannya peluang: sejak 2008, langkah kaki para pejalan sudah diolah menjadi energi terbarukan.

Cara kerjanya sederhana: setiap kali seseorang melangkah di atas ubin piezoelektrik, energi mekanik dari tekanan kakinya diubah menjadi energi listrik yang bisa disimpan dan digunakan. Di tahap awal, satu orang dengan berat sekitar 60 kilogram menghasilkan sekitar 0,1 watt per langkah. Angka ini memang kecil, tetapi bayangkan jika jutaan langkah kaki dikumpulkan di stasiun besar seperti Shibuya—hasilnya bisa menjadi signifikan. Teknologi pun terus berkembang: ubin terbaru diklaim mampu menghasilkan hingga 30 watt per langkah, cukup untuk menyalakan lampu LED atau layar informasi.

>> Baca Selanjutnya