Saintek

Jepang dan Trotoar Ajaib yang Mengubah Langkah Kaki Jadi Listrik




Proses pemasangan trotoar bertenaga listrik memiliki tantangan tersendiri. Salah satu kendala utama adopsi teknologi ubin piezoelektrik adalah biaya awal yang tinggi. Dengan harga per ubin yang bisa mencapai $50 hingga $100, investasi untuk membangun jaringan trotoar yang luas menjadi sangat besar. Kredit: Construction Equipment Guide.
Proses pemasangan trotoar bertenaga listrik memiliki tantangan tersendiri. Salah satu kendala utama adopsi teknologi ubin piezoelektrik adalah biaya awal yang tinggi. Dengan harga per ubin yang bisa mencapai $50 hingga $100, investasi untuk membangun jaringan trotoar yang luas menjadi sangat besar. Kredit: Construction Equipment Guide.


Sains di Balik Ubin Ajaib

Meski terdengar futuristik, teknologi piezoelektrik sebenarnya sudah ditemukan sejak abad ke-19 oleh kakak beradik Curie. Mereka menyadari bahwa ketika mineral seperti kuarsa atau topaz ditekan, akan timbul tegangan listrik—efek yang kini disebut piezoelectric effect. Sifat ini kemudian dipakai di banyak perangkat: dari jam kuarsa, sonar, pemantik api, hingga trotoar pintar Jepang.

Keunikan lain dari material ini adalah kemampuannya bergetar ketika dialiri listrik, yang membuatnya berguna di berbagai industri, mulai dari telekomunikasi hingga otomotif.

Kenapa Belum Jadi Teknologi Utama?

Meski terdengar sempurna, trotoar penghasil listrik ini masih terjebak di level proyek percontohan. Masalah utamanya adalah biaya tinggi. Harga satu ubin bisa mencapai 50–100 dolar AS, sehingga melapisi area luas seperti stasiun besar memerlukan investasi awal yang sangat besar.

Selain itu, daya yang dihasilkan relatif rendah dibandingkan sumber energi terbarukan lain seperti surya atau angin yang jauh lebih murah dan efisien. Piezoelektrik hanya masuk akal jika dipasang di lokasi super padat, sementara di kawasan sepi, manfaatnya hampir tak terasa.

Masalah lain adalah biaya pemeliharaan. Jutaan langkah kaki setiap hari membuat ubin cepat aus dan membutuhkan perbaikan berkala. Hal ini menambah biaya tambahan yang membuatnya sulit bersaing dengan teknologi energi terbarukan lain.

Meski begitu, riset tetap berjalan. Sebuah studi tahun 2017 bahkan menyebut bahwa di lokasi tertentu—seperti stasiun metro Elshohadaa di Kairo—ubin piezoelektrik berpotensi menurunkan biaya listrik hingga 99,93% sepanjang masa pakainya. Harapannya, dengan pengembangan material baru yang lebih tahan lama dan berdaya keluaran lebih tinggi, teknologi ini bisa lebih layak secara ekonomi di masa depan.


Di balik potensinya, teknologi trotoar piezoelektrik memiliki keterbatasan. Ubin ini tidak cocok untuk area yang sepi dari pejalan kaki. Kredit: Josh Hawley/Getty Images.
Di balik potensinya, teknologi trotoar piezoelektrik memiliki keterbatasan. Ubin ini tidak cocok untuk area yang sepi dari pejalan kaki. Kredit: Josh Hawley/Getty Images.


Langkah Kecil, Energi Besar

Trotoar penghasil listrik ini memang belum siap menjadi tulang punggung energi dunia. Namun, inovasi ini menggambarkan semangat khas Jepang: menjadikan hal sederhana—seperti langkah kaki—sebagai sumber daya berharga.

Mungkin suatu hari nanti, setiap langkah kita bukan hanya membawa kita lebih dekat ke tujuan, tetapi juga turut menyalakan lampu-lampu kota.(*)